Laman

Senin, 21 Oktober 2013

MAHATMA GANDHI SANG INSPIRASI


Setiap orang yang telah mempelajari ataupun mengetahui Sosok Mahatma Gandhi. pasti terisnpirasi untuk mewujudkan kehidupan di alam ini dengan gerkan kata dan tindakan yang penuh arti dan damai dalam cinta kasih. lelaki yang semasa hidupnya hanya menggunakan bulatan kain tanpa sentuhan modernime mode serta kaki yg beralakan sandal yang di jahit sendiri apabila rusak. dan anti terhadap kekerasan dalam bentuk apapun. pemimpin kharismatik yang menginspirasikan sekian banyak tokoh dunia, seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, martin Luther King, Bunda Theresa, Bung Karno, bung Hatta, Sjahrir, Mira Bhen, Badhas Khan dan Nehru. sang Jiwa Agung yang memilih tinggal di tengah-tengah masyarakat miskin. Gandi pernah berkata” Membantu orang miskin itu mudah, tetapi untuk hidup seperti orang miskin itu yang sulit bagi setiap orang” Gandhi sendiri mampu mendorong rakyat India untuk bangkit dari tidur panjangnya dan keluar dari kebodohan untk melawan kolnialisme serta imperialisme Inggris di negaranya. dan beliau mampu mewujudkan gerakan ketidak patuhan terhadap hukum Inggris sehingga di penjara selama separuh dari masa hidupnya. namun akhirnya rakyat india dapat menikmati kemerdekaannya. namun Gandhi lebih memilih hidup di tengah perkampungan Rakyat miskin India. pemimpin sekaligus filsuf yabg jujur menulis dalam biografinya secara jujur dan tidak takuk di hujat oleh pembacanya. sebab menurut Gandhi. berkata jujurlah, sekalipun itu penuh dengan konsekuansi buruk bagimu” dan setahu saya belum ada Tokoh Kharismatik yang menulis tentang keburukannya sendiri dalam sejarah hidup pribadinya. pantas kalau dia di sebut sebagai Mahatma (SANG JIWA AGUNG) oleh masyarakat india. ini gelar yang serupa dengan Nabi Muhammad SAW (AL AMIN) semoga amal dan perjuangan nya di terima oleh Tuhan Yang Maha Esa.




Transformasi Gerakan Sosial di Afrika Selatan
Pada musim panas, tepatnya Juli 1891,di usia yang ke dua puluh satu tahun Gandhi berhasil menyelesaikan pendidikan hukum dan lulus dari ujian pengacaranya di London-Inggris. Kemudian Gandhi memutuskan untuk kembali ke India. Kakaknya Laksmidas menyambutnya di pelabuhan Bombay. Di sinilah Gandhi di beritahu bahwa ibunya telah meninggal dunia dua minggu sebelum kedatangannya ke India. Laksmidas tetap merahasiakan berita kematian ibunya hingga kepulangan Gandhi, hal ini dilakukan agar tidak mengganggu studinya di Inggris. Dengan tenang Gandhi menerima berita buruk tersebut, tanpa meneteskan air mata. Walaupun demikian Gandhi sangat mencintai ibunya, karena sang ibulah yang meninggalkan nilai-nilai spiritual bagi dirinya yang dipengaruhi oleh keyakinan dan agamanya. Pengaruh nilai-nilai spritual dari sang ibu tersebut, Gandhi mengembangkan penghormatan untuk segala bentuk kehidupan dan ajaran-ajarannya tentang kedamaian serta tanpa kekerasan[2]. Laksmidas mengatakan bahwa hingga saat akhir kematiannya, ibu masih terus berharap agar Gandhi diterima kembali di kastanya dan Gandhi harus menghapus noda karena telah menyebrangi air hitam.[3] 
Gandhi beserta keluarganya tinggal bersama Laksmidas dan Karandas di rumah keluarga di Rajkot selama satu tahun. Selama masa itu, setiap orang selalu menghormati Gandhi sebagai seorang pengacara  yang baru datang dari Inggris. Tetapi selama itu pula, Gandhi tidak bisa mendapatkan pekerjaan.[4] Gandhi menyadari bahwa ternyata tidak mudah menjalankan pekerjaan pengacara. Ditambah lagi Gandhi tidak menguasai hukum India, Hindu dan Islam. Perjalanannya sebagai pengacara di kota ini justru hancur, karena Rajkot penuh dengan permainan politik dan ketidakadilan terhadap suku minoritas yang merupakan klien Gandhi. Gandhi bahkan pernah di usir diusir oleh seorang sahib (pejabat), Mr. Charles Ollivant dari kantornya, karena Gandhi membela kakaknya Laksmidas.[5]
Untuk mendapatkan perkara Gandhi harus pindah ke Bombay. Di kota inilah Gandhi memulai karir profesionalnya sebagai pengacara di kantor pengadilan Bombay. Selama hampir dua tahun Gandhi berusaha mapan sebagai seorang pengacara. Usaha Gandhi untuk berkarir sebagai pengacara dan mempraktekkan ilmu hukum di pengadilan Bombay mengalami kegagalan, maka akhirnya, Gandhi lebih memilih untuk sementara waktu meninggalkan profesinya sebagai pengacara di pengadilan Bombay. Setelah itu, Gandhi bekerja sebagai guru paruh waktu di Bombay High School, di tempat ini Gandhi tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan kualifikasi professional yang dimilikinya. Kemudian Gandhi memutuskan untuk kembali ke Rajkot dan menempuh hidup sederhana dengan bekerja sebagai konsultan hukum, yaitu sebagai orang yang menyusun konsep permohonan penyelesaian persengketaan untuk diajukan ke dalam persidangan. Namun demikian, Gandhi akhirnya meninggalkan pekerjaan tersebut karena selalu mendapatkan perlakuan yang buruk oleh pihak petugas berkebangsaan Inggris di wilayah setempat.[6]
Pertengahan Maret 1893, Gandhi dan keluarganya menghadapi dilema. Kehidupan seluruh anggota keluarganya sedang di ujung tanduk. Krisis ekonomi melanda, dalam cekikan ketidakpastian, datang sebuah surat penawaran pekerjaan kepada Gandhi untuk menjadi pengacara dalam kasus gugatan sipil di Afrika Selatan. Penawaran itu datang dari kenalan lama keluarga Gandhi di Porbandar. Seorang pedagang Muslim bernama Dada Abdullah.[7]
Dada Abdullah[8] mengundang Gandhi untuk membantu perusahannya mengenai permasalahan hukum, dengan masa kontrak selama satu tahun. Gandhi menerima penawaran tersebut dan segera berangkat menuju Afrika Selatan pada April 1893. Untuk sementara Gandhi meninggalkan Istri dan anak-anaknya tetap di India. Pada Mei 1893, Gandhi tiba di demaga Durban. Gandhi dijembut sendiri oleh Dada Abdullah. Sesampainya di Natal, Gandhi dihadapkan pada tantangan maupun kesempatan yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan.
Ketika Gandhi berangkat ke Afrika Selatan, tujuan yang terlintas dalam pikirannya sangat sederhana. Gandhi hanya berkeinginan untuk memenangkan perkara-perkara hukum Dada Abdullah dan mendapatkan uang sebagai mata pencahariannya. Oleh karena itu, beberapa hari setelah sampai di Natal, Gandhi pergi ke Pengadilan Durban untuk menjalankan misinya. Tetapi disana Gandhi tidak bisa diterima oleh hakim pengadilan karena Gandhi tidak melepaskan turban (tutup kepala khas India) ketika masuk ruang pengadilan. Namun Gandhi membantah dengan berkata, ”sebagaimana tanda penghormatan di kalangan orang Eropa dengan mengangkat topi mereka, kebiasaan memberikan penghormatan di kalangan orang India adalah dengan memakai penutup kepala”. Namun, hakim tetap tidak menyetujui argumen itu dan Gandhi memilih untuk meninggalkan ruang pengadilan.
Pada suatu saat, pengadilan menghendaki kehadiran Gandhi di Pretoria, sebuah kota di Provinsi Transfal, Afrika Selatan. Tiket kelas satu di persiapkan untuk Gandhi. Ketika perjalanan baru sampai di Pietermaritzbug, Gandhi dipaksa keluar dari gerbong kela satu karena Gandhi menolak memberikan jatah kursinya kepada penumpang berkebangsaan Eropa, padahal di kereta itu dibuat peraturan bahwa tiket kelas satu hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa. Sebagaimana diketahui, praktek diskriminasi yang didasarkan pada perbedaan warna kulit memang sangat mengakar di Wilayah ini.
Akibat dari pengusiran tersebut, sepanjang malam dalam perjalanannya Gandhi mengalami demam yang disebabkan oleh hawa dingin yang menggigit tulang serta perasaan gundah atas pengalaman pahit menimpanya. Malam pedih itu memiliki pengaruh sangat penting terhadap perubahan pola pikir dan sikap Gandhi. Dikemudian hari, Gandhi selalu mengatakan bahwa misi politiknya bermula dari kejadian malam itu, ketika dia menggigil kedinginan di ruang tunggu, di Pietermaritzbug.
Dalam perjalanan selanjutnya menuju Pretoria, Gandhi di pukuli dan ditolak masuk hotel yang telah diberi tanda khusus hanya untuk orang-orang Eropa.
”Oh Tuhan yang berkuasa atas seluruh makhluk,” tulis Gandhi kemudian, kuatkanlah tekadku untuk menghadapi ujian berat ini. Aku merelakan diriku  untuk terus di cerca hinaan dan menerima pukulan lebih banyak sepanjang perjalananku menuju Pretoria. Tetapi aku bertekad semua yang menimpa diriku ini hanya kan semakin menguatkan keteguhan hatiku”[9]
Berbagai penghinaan yang dialami Gandhi memang menjadi realitas sehari-hari bagi para buruh dan pedagang berkebangsaan India yang menetap di Afrika Selatan. Dari pengalaman kekerasan yang dialami tersebut, membulatkan tekad Gandhi untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan membela martabanya sebagai manusia.[10] Afrika Selatan menjadi bumi pembuktian, landasan bagi kemunculan Gandhi sebagai pemimpin utama komunitas India imigran selama dua dekade berikutnya. Hingga tiba waktunya Gandhi kembali ke India. Gandhi telah berubah total. Dalam berpakaian dan tatakrama sehari-hari serta dalam berpikir, berbicara dan dalam hal utamanya.[11]    
            Gandhi memutuskan untuk menyelesaikan pertikaian hukum yang membawanya ke Afrika Selatan. Pikiran Gandhi tidak terpengaruhi oleh debat hukum yang sengit dan berlarut-larut. Gandhi lebih menyukai penyelesaian konflik dengan jalan perundingan daripada dengan tuntutan ke pengadilan. Kecenderungan Hindu tradisional untuk menemukan konsensus, dalam masalah-masalah sosial, politik, dan perdebatan filosofis keagamaan, merupakan matriks pendekatan Gandhi terhadap masalah-masalah hukum. Gugatan Dada Abdullah adalah untuk uang sebesar empat puluh ribu pounsterling, yang dia klaim sebagai miliknya atas dasar surat kesanggupan dan kegagalan kinerja tertentu oleh sepupunya yang juga pedagang, yang sama-sama yakin tidak merasa bersalah.
Presepsi Gandhi mengenai pelaksanaan hukum juga mengalami perubahan dari pendekatan yang dilandasi permusuhan ke pendekatan yang mengutamakan konsiliasi. Gandhi berhasil menyelesaikan kasus Dada Abdullah dan keluarganya, melalui arbitrasi dan buka melalui litigasi. Dan akhirnya Gandhi samapi pada kesimpulan;
Tugas seorang pengacara bukanlah untuk memanfaatkan peluang-peluang dan keuntungan-keuntungan yang dijamin oleh hukum melainkan untuk mencari kompromi dan rekonsiliasi

            Inilah yang dalam kehidupannya kemudian menjadi caranya dalam menangani kasus-kasus. Prinsip untuk membuat orang lain tidak menderita merupakan ciri khas non kekerasan Gandhi. Untuk dapat mempraktekkan prinsip ini seseorang harus belajar untuk tidak membenci tetapi untuk mencintai lawan secara sportif. Dengan cara ini manusia dapat menghapus semua kemungkinan untuk menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun, dalam kata-kata, perbuatan atau pikiran. Dengan demikian kita akan dapat merebut hati pihak lawan sehingga mereka dapat melihat akibat dari perbuatannya dan untuk melakukan pembaruan[12].
Afrika selatan bagi Gandhi merupakan suatu sekolah untuk kedudukannya kelak dalam perjuangan kemerdekaan India. Mula-mula Gandhi hanya mempertahankan golongan Hindu kelas atas, yang tidak lagi terpaksa bekerja di perusahan-perusahan perkebunan dan tambang-tambang, jadi mereka yang telah berada dan tidak lagi menjadi kuli-kuli kontrak, dan oleh pemerintah sedang berusaha mengusir mereka dengan jalan mengadakan pajakyang tinggi-tinggi. Akan tetapi pembacaan Tolstoy dan Ruskin mengarahkan Gandhi ke arah golongan-golongan Hindu miskin[13].
Tahun 1906 dapat dikatakan sebagai sebuah titik balik dalam kehidupan Gandhi. Pada tahun itulah Gandhi mengalami suatu kebangkitan spiritual yang mendalam dan mengabdikan dirinya demi kepentingan umat manusia. Gandhi bersumpah untuk hidup diluar lingkungan kehidupan suami-isteri secara biologis dan hidup sesuai prinsip kemanusiaan menurut gayanya sendiri. Pada tahun 1906 itu juga, tepatnya pada tanggal 11 September, Gandhi memulai gerakan untuk membebaskan umat manusia dari penderitaan dengan berpijak pada azas kebenaran dan pantang kekerasan.
Pertemuan tanggal 11 September 1906 itu disenggelarakan untuk membicarakan dan memperdebatkan bentuk-bentuk protes yang akan dilancarkan masyarakat India. Yang jelas aksi protes tersebut harus dilancarkan dengan tekad ’lakukan sesuatu atau mati’, satu hal yang harus dipastikan adalah Undang-undang  Registrasi Penduduk Asia tersebut harus di tentang. Rancangan Undang-undang ini dimaksudkan untuk mencegah orang-orang india yang telah meninggalkan Transvaal selama perang Broer agar mereka tidak kembali ke Transvaal, agar mencegah imingrasi orang-orang India berikutnya. Dan semua orang India yang ada di Transvaal diambil sidik jarinya dan dapat sertifikasi dari pemerintah. Oleh karena itu hampir tiga ribu orang memenuhi Empire Theatre di Johannesburg. Tugas berikutnya bagi Gandhi mencari nama gerakan protes yang digagasnya, nama Passive Resistance (perlawanan pasif).
Pada bulan Agustus 1907, perasaan ketidak adilan dikalangan komunitas India mencapai puncanya. Black Act (Undang-undang Kulit Hitam) memerintahkan kepada semua orang India baik laki-laki maupun perempuan mendaftarkan diri dengan sidik jari mereka dan seorang India yang tidak memeiliki surat keterangan dapat dipenjara, di hukum atau di deportasi. Orang India menyebutnya ”Hukum Kulit Hitam,” karena hukum-hukum itu tidak adil dan hanya di tujukan pada orang-orang kulit hitam, coklat, dan kuning dari Asia. Gandhi sendiri kulit coklat agak terang,namun sering menyebut dirinya sebagai kulit hitam.
Saat Gandhi melempar gagasan pertamanya, yaitu Satyagraha, yang berarti kekuatan kebenaran atau kekuatan kasih sayang. Satyagraha merupakan usaha mempertahankan kebenaran bukan dengan hukuman yang menderitakan lawan. Namun hukuman terhadap diri sendiri. Pada bulan  Januari 1908, karena telah dengan sengaja menolak mendaftar di bawah undang-undang baru dan mengajaka ribuan orang lain menentang pendaftaran, Gandhi dipenjara selama dua bulan, namun Gandhi tidak mengeluh, bahkan berterima kasih karena telah diberi waktu untuk membaca, namun Gandhi hanya menjalani sebulan dari masa hukuman[14].
Gandhi menghentikan kampanye satyagrahanya, Gandhi dikenal dan di hormati di seluruh Afrika Selatan dan India, pengacara yang pernah berbicara gugup di depan pengadilan, kini merupakan seorang negarawan terkenal berkat kejujuran, keterampilan dan keberaniannya. Pada bulan Juni 1914, Gandhi dan Jenderal Smuts, pemimpin kulit putih dan negarawan Afrika Selatan terbesar, mengadakan pertemuan dan merencanakan suatu kesepakatan yang saling menguntungkan dan menjadikan komunitas dari India lebih bermartabat dan terhormat. Kampanye pembangkangan sipil Gandhi telah berhasil, merupakan awal kampanye yang akan selamanya berhasil.
Jenderal Smuts mengesahkan Indian Relief Act (Undang-undang Perbaikan bagi orang India). Akhirnya selama dua puluh tahun, Gandhi merasa bebas untuk kembali pulang ke tanah kelahirnnya, India. Pada saat perpisahan, Gandhi mengirim Jenderal Smuts sepasang sandal yang Gandhi buat sendiri di penjara. Smuts kemudian berkata; saat itu,aku sering menggunakan sandal ini dalam musim panas, meski aku merasa tidak layak menggunakan sepatu orang yang begitu agung.”[15] 


[1] Stanley Wolpert, Op.Cit. hlm. 37.
[2] Francis Alappatt, Op.Cit, hlm. 6.
[3] Ved Metha,Op,Cit, hlm. 195.
[4] Ibid, hlm. 196.
[5] Agnes Sri Poerbasari,  Op.Cit.. hlm. 175.
[6] Francis Alappatt, Op.Cit. hlm. 4-6
[7] Wied Prana, Op.Cit, hlm. 33
[8] Seorang pemilik kapal dan pedagang besar dari natal, Afrika Selatan. Perusahan dada Abdullah & Company mengembangkan sayap ke Afrika Selatan seiring dengan perkembangan populasi masyarakat India di Afrika Selatan. Mereka membutuhkan pengacara muda India yang dapat membantu pengacara meeka di sana untuk menangani kasus besar yang melibatkan klaim sebesar 40 ribu pounsterling melawan pedagang India lain di Afrika Selatan. Lihat: Ibid, hlm. 34      
[9] Loc. cit., hlm. 7-8.
[10] Ibid
[11] Stanley Wolpert, Op,Cit, hlm. 51.
[12] Ela Gandhi, Pengalaman Mahatma Gandhi di Afrika Selatan Contoh Pembaharuan Yang Unik. ;dalam India Perspectives .(New Delhi , India Perspectives, Januari 2008). hlm. 50-51
[13] A.Pleysier.  Gandhi Pelopor Kemerdekaan India. (Jakarta, PENERBIT DJAMBATAN, 1952).hlm. 12-13
[14] Michael Nicholson, Op.Cit. 25-26
[15] Ibid, 29-30


Buah Perenungan (MULTATULI)

BUKU ini menginspirasi diri saya sebagai orang Indonesia. agar lebih dekat dan lebih menjiwai Indonesiaku. dan mencintai rakyat dan negerinya penuh damai dan medeka. Multatuli/Max Havelar adalah Orang Belanda. tetapi lebih mencintai indonesia meleibihi orang Indonesia di masa nya hingga kini.inspirasi yg hidup. dan saya malu belum berbuat seperti yang di di lakakun mulatuli. semoga kita tetap belajar dan berbuat yang terbaik untuk Indonesia tercinta


 Sejarah pertama tentang kekuasaan
 
“Saudara, kau yang lebih besar daru aku, apa kau dapat menjangkau buah delima, yang di sana antara bunga kupu-kupu antara dedaunan, tersenyum padaku dengan bibir merekah seperti seorang gadis yang mengamit? Ia telah merekah karena masak dan merah api warna luka yang ia buat di badannya sendiri untuk menyenangkan hatiku! Aku ingin, buah delima itu, saudaraku. Kau yang lebih besar, tolong jangkaukan tanganmu dan petiklah, dia boleh kumakan.”
Lalu si kakak mengabulkan permuntaan itu supaya adiknya dapat makan.
Yang sulung pergi ke ladang lalui melihat seekor kambing gunung lagi menurun mencari anaknya.
“Apa kau ada melihat anakku,” tanyanya pada singa, “kau yang tinggal di dataran rendah yang lebih kenal jalan-jalan di tanah rata. Jalan-jalan yang begitu melelahkan bagiku karena kukuku terbelah dua?”
“Jangan kaucari anakmu…” kata singa itu, “datanglah ke mari supaya kau boleh kumakan.”
Lalu singa itu melaksanakan niatnya itu.
Tapi kakak yang sulung bertanya pada singa:
“Apa maksudmu makanya kambing yang mencari anaknya itu kau makan?”
“Kau sendiri mendengar keluhannya tentang kukunya yang tidak memenuhi syarat,” jawab singa. “Bukankah adil jika ia kumakan? Lihatlah cakarku yang memenuhi syarat; lihat gigiku yang memenuhi syarat. Maka itu kambing ku makan.”
Anak muda itu berfikir, lalu memandangi lengannya yang panjang, kuar dan besar. Ia menganggap lengannya begitu memenuhi syarat… hingga ia memutuskan untuk memaksa adiknya untuk melayani dia dengan patuh.
Dan waktu adiknya suatu waktu memintanya untuk memetikkan buah, ia menjawab:
Lihat lenganku. Bukankah kau mengatakan bahwa lenganmu tidak dapat menjangkau buah delima itu? Jadilah abdiku, supaya kau tidak kumakan.”
Semenjak itu sang adik jadi abdi kakaknya. Tapi ia tidak bergembira bahwa berkat singa hal ini teleah diketahui abangnya. Sampai hari ini keadaan itu tetap berlangsung.
Sejarah ketiga tentang kekuasaan
Seorang musyafir sarat membawa emas dan perak. Karena takut pada perampok maka ia membawa senjata. Juga ia diikuti oleh para pelayannya dalam jumlah yang besar, ya bahkan mereka lebih banyak dari jumlaj perampok yang ada di negeri itu. Persenjataannya dan pengirinya begitu lengkap hingga sebuah pasukan lengkap pun tidak akan sanggup merampas kekayaannya.
Banyak perampok yang tidak tahu hal ini, menyerang dia, tapi mereka akan lama sekali menyesali perbuatan tersebut, sekirannya mereka tidak tewas pada saat itu juga.
Seorang perampok yang jadi hati-hati setelah melihat contoh yang dilami saudara-saudaranya minta nasihat pada seorang pertapa yang tahu segala-galanya, karena ia telah lama menyendiri dengan dua potong tulang orang mati dan segendi air.
“Apa yang harus kulakukan, hai orang suci untuk dapat menguasai harta musyafir itu?”
“Caranya bersahaja sekali,” jawab petapa yang saleh itu, “Lemparkan padanya jerat yang akan kuberikan pada anda di lehernya, maka ia tidak akan melawan. Ia memerintahkan khadam-khadamnya untuk bersujud ke bumi depan anda dan ia akan memberiakan apa yang anda inginkan.”
Dan apa yang dikatakan orang suci itupun terjadilah. Tapi musyafir dan kawan-kawannay bernasib buruk sekali.
Jerat itu bernama “Kepercayaan” dan sampai hari ini ia masih memiliki kekuatannya.
Sejarah keempat tentang kekuasaan
“Bapa, katakan padaku mengapa matahari tidak jatuh.”
Bapak itu jadi malu karena ia tidak tahu mengapa matahari tidak jatuh. Lalu ia hukum anaknya dan semenjak itu tidak pernah lagi bertanya, baikk mengenai mengapa matahari tidak jatuh maupun mengenai hal-hal lain yang sangat ia ketahui.
Anak itu tidak pernah jadi dewasa biarpun ia hidup enam ribu tahun… tidak, lebih lagi dari itu. Sampai hari ini ia masih saja tetap dungu dan bodoh.
Sejarah kelima tentang kekuasaan
“Mau ke mana, o Philoinos?” tanya Hudoor oada kawannya yang oa temuai di jalan-jalan di Yunani.
“Saya buru-buru untuk minum tiga guci anggur buruk yang disediakan oleh yang terburuk dari ketiga gundikku,” jawab Philoinos terhuyung-huyung karena ia mabuk.
“Mari, aku khawatir kau telah banyak minum anggur dan punya gundik terlalu banyak.”
“Tiga, Hudoor, tiga… guru telah berkata begitu! Tiga… katanya.”
“Guru tidak bicara tentang anggur maupun gundik, mari…”
“Ia berkara: tiga… tiga… TIGA!”
Dan untuk ketiga kalinta malam itu Philoinos rebah, tapi kali ini ia tidak bangkit lagi. Dan sampai hari ini ia tetap terbaring.
Sejarah keenam tentang kekuasaan
Di sama tempat anak dilahirkan untuk pertama kali. Sang ibu gembira sekali dan juga sang bapak memandangi anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Tapi Genius, coba kaukatakan, apa ia akan selalu sekecil ini?” tanya sang ibu dan… ia menambahkan lagi:
“Dan aku sendiri tidak tahu apa memang itu yang kuingini! Aku ingin melihat ia besar sebagai seorang manusia, tapi rasanya sayang sekali jika ia begitu berobah, hingga ia tidak dapat lagi kupangku dan kususukan.”
“Anakmu akan tumbuh jadi manusia,” kata Genius. Ia tidak akan terus-menerus menyusu padamu. Satu kali ia tidak akan dapat kaupangku…”
“O Genius,” seru ibu itu dengan terkejut, “apa anakku akan pergi…? Jika ia pandai berjalan, apa ia akan meninggalkan aku jika ia sudah pandai berjalan?”
“Cintailah anakmu,” kata Genius, “dan ia tidak akan meninggalkan kau.”
Demikianlah adanya. Demikianlah keadannya beberapa lama. Tapi sesudah itu makin banyak anak yang lahir. Dan bagi kebanyakan orang tua menjadi sulit untuk mencintai semua anak-anak itu.
Lalu orang menemui sebuah perintah yang seperti perintah-perintah lainnya dapat menggantikan cinta. Karena memberikan perintah lebih mudah dari memberikan cinta. Hormatilah ibu dan bapakmu!
Lalu anak-anak itu meninggalkan orang tuanya setelah mereka pandai berjalan.
Orang menambahkan sebuah janji pada perintah itu: Supaya engkau selamat!
Waktu itu beberapa anak tinggal pada orang tuanya. Tapi mereka tinggal tidak dengan cara yang dimaksudkan oleh ibu pertama waktu ia menanyakan pada Genius: “Apa yang harus kulakukan supaya anakku tidak meninggalkan aku jika ia pandai berjalan?” Dan sampai hari ini keadaan ini masih tetap begini.
Sejarah ketujuh tentang kekuasaan
Le premier roi fut un soldat heureux!” kata Voltaire, tapi aku tidak tahu apa ucapannya ini benar. Mungkin sekali, bahkan sangat mungkin, bahwa raja yang pertama adalah seseorang yang kenal pertapa-pertapa yang menyediakan jerat… Tapi kisah berikutnya adalah benar.
Krates adalah seorang yang kuat sekali. Dengan ibu jari dan jari tengahnya ia menggunting dinding sedada yang terbuat dari pohon-pohon kayu hingga tumbang, dan dengan satu kali pukul ia dapat membunuh tiga belas orang musuh. Kalau ia batuk, terjadi kebakaran akibat udara yang merejan dan bulan bergoyang jika ia ingat pada gerakan.
Berkat jasa-jasanya itu Krates diangkat jadi raja.
Ia berpulang setelah ia jadi raja selama beberapa lama.
Tapi Krates kecil, putranya menderita sakit tulang. Penyakit ini tidak menghalanginya untuk menggantikan ayahnya yang begitu kuat. Ia mengambil tempat di atas sebuah kursi yang ia sebut singgasana lalu berseru:
“Akulah raja!”
“Kenapa kau jadi raja?” tanya rakyat yang masih bodoh dan tidak mengerti hukum turun-temurun.
“Ya, karena ibuku tinggal sepondok dengan Krates tua yang kini sudah mati.”
Sebetulnya ia mengatakan istana, tapi kenyataannya hanya sebuah pondok. Rakyat tidak mengerti kesimpulan itu dan jika Krates II berseru “Mari!” maka rakyatpun pergi. Tapi jika ia berkata “pergi!” maka orang datang berlarian. Pendeknya, kewibawaan hilang sudah dan Krates Dua terlalu bodoh untuk memberikan perintah terbalik.
Dalam majalah oposisi kala itu orang dapat membaca tulisan berikut: “Kenapa, o Krates Kedua, anda yang berkaki bengkok dan berfikiran singkat, kenapa anda menduduki kursi seorang laki-laki yang selama dua puluh tahun diam sepondok dengan perempuan yang telah melahirkan anda?”
“Bangkitlah dan berikan tempat dan jangan mengucapkan “pergi” atau “datang” seolah-olah anda adalah Krates tua yang asli! Mana benteng-benteng pohon kayu eik, yang dapat anda tumbangkan dengan jari anda? Bulan tidak bergoyang, biarpun anda lagi merundungkan alam semesta yang belah. Anda tak sanggup membunuh kutu, kebakaran tidak terjadi jika anda bersin. Berdirilah, dan berikan tempat untuk orang lain yang mengerti hal-hal berguna seperti ini.”
Demikian oposisi berkata.
Krates sebetulnya sudah bersedia untuk meninggalkan kursi yang ia sebut singgasana sekiranya tidak ada seorang pengasuh tua yang bicara pada rakyat seperti berikut:
“Dengarkan aku, o rakyat, karena aku pengasuh Krates kecil, kala ia masih lebih kecil dari sekarang ini! Waktu ia lahir ayahnya meminyaki kepalanya, lalu lihat, setetes minyak telah jatuh ke atas kepala anak asuhanku. Karena itu tidak perlu ia robohkan dinding, dan juga tidak perlu bulan bergoyang atau menimbulkan kebakaran jika ia bersin. Percayalah…”
Tapi pengasuh yang bijak itu tidak perlu menyelesaikan ucapannya. Kesimpulannya begitu mudah untuk difahami, hingga seluruh rakyat berteriak dengan satu suara—termasuk redaksi koran oposisi yang berteriak paling keras—:
“Hidup yang dipertuan yang diminyaki!”
Dan Krates tetap tinggal di kursinya yang ia sebut singgasana. Dan sampai hari ini ia masih duduk di sana.
Sejarah kedelapan tentang kekuasaan
Thugater memerah sapi ayahnya dan ia pandai sekali, karena susu yang oa bawa pulang lebih banyak menghasilkan mentega dari susu yang diperah kakak-kakaknya. Akan kukatakan pada kau, Fancy bagaimana semua ini bisa terjadi dan perhatikan baik-baik hingga kau tahu… sekiranya suatu kali kau harus memerah susu sapi. Hal ini kukatakan, bukan supaya kau memerah susu seperti telah dilakukan Thugater, tapi untuk menggambarkan contoh yang diberikan kakak-kakaknya, yang beroleh nasib lebih baik: setidak-tidaknya mereka lebih cerdik.
Lama sebelum anak-anak muda itu memasuki padang rumput, ya lama sebelum masa itu, sapi-sapi telah menunggu dekat pagar untuk dibebaskan dari kelebihan yang sebetulnya telah disiapkan untuk anak-anak sapi. Tapi manusia memakan anak-anak sapi itu, karena mereka merasa pantas, hingga susu bertumpuk dalam susu-susu sapi. Apa yang kini terjadi selama sapi bermuka bodoh itu menunggu depan pagar? Selama itu bagian susu yang teringan mendorong kepala susu, gemuk, mentega ke atas hingga berada di bagian yang paling jauh dari puting susu.
Siapa yang memerah dengan sabar, sampai tetes darah terakhir, akan memperoleh susu gemuk. Siapa yang terburu-buru akan meninggalkan kepala susu. Lihatlah Thugater tidak terburu-buru, tapi kakak-kakaknya ya.
Karena mereka mengatakan bahwa mereka punya hak untuk melakukan hal-hal lainnya kecuali memerah susu sapi ayahnya. Tapi Thugater tidak memikirkan hal tersebut.
“Ayah telah mengajar aku menembak dengan panah dan busur,” kata salah seorang kakak-kakak itu. “Aku dapat hidup dari berburu dan aku ingin mengembara di dunia dan bekerja untuk diriku sendiri.”
“Aku ia ajar menangkap ikat,” kata yang kedua. “Aku gilam kalau mau terus-menerus memerah susu untuk orang lain.”
“Ia memperlihatkan padaku bagaimana caranya membuat perahu,” kata yang ketiga. “Kupotong sebatang kayu lalu aku duduk di atasnya, di air. Aku ingin tahu apa yang terjadi di seberang danau.”
“Aku berselera untuk hidup bersama dengan Gune yang berambut pirang,” tutur yang keempat. “Aku ingin punya rumah dengan thugater-thugater di dalamnya untuk memerahkan susu bagiku.”
Demikian setiap kakak punya keinginan, kehendak—kemauan. Dan mereka begitu asyik dengan keinginan-keinginannya, hingga mereka tidak sempat untuk membawa kepala susu, yang dengan sedih terpaksa disimpan sapi-sapi itu tanpa guna sama sekali bagi siapapun jua.
Tapi Thugater memerah susu sampai tetes terakhir.
“Ayah,” teriak kakak-kakaknya itu akhirnya, “kami pergi!
“Siapa yang akan memerah susu?” tanya ayah mereka.
“Ada Thugater.”
“Apa yang akan terjadi jika dia juga beroleh keinginan untuk berlayar, menangkap ikan, berburu dan melihat dunia? Apa yang akan terjadi jika ia beroleh fikiran untuk hidup bersama dengan seseorang yang berambut pirang atau coklat, supaya ia punya rumah sendiri dan segala yang menjadi bagiannya? Kalian boleh pergi, tapi dia tidak… karena susu yang ia bawa pulang banyak gemuknya.”
Putra-putranya berkata setelah berunding:
“Ayah, jangan ajarkan apa-apa padanya, hingga ia akan tetap memerah susu sampai akhir hayatnya. Jangan perlihatkan padanya, bagaimana seuntai tali yang diregang dapat menembakkan anak panah jika ditarik. Hingga ia tidak akan punya selera untuk berburu. Sembunyikan baginya sifat-sifat ikan, yang menelan kail yang tajam jika diselubungi dengan sedikit umpan. Ia tidak akan teringat untuk melemparkan kail atai jala. Jangan ajarkan padanya bagaimana orang memasah kayu dan dengan naik itu dapat berhanyut-hanyut ke seberang danau. Dan ia tidak akan punya keinginan untuk pergi ke seberang danau. Dan jangan sekali-kali beritahu dia, bagaimana ia dengan seorang lelaki pirang atau coklat, dapat memiliki rumah dan segala yang menjadi bagiannya! Jangan dia sekali-kali diberitahu tentang ini, ayah, dan ia akan tetap tinggal bersama ayah dan susu sapi ayah akan penuh gemuk. Sebaliknya, biarkan kami pergi, ayah, masing-masing menurut keinginannya.”
Demikian putra-putranya berkata. Tapi sang ayah—ia adalah seorang laki-laki yang sangat hati-hati—menjawab:
“Nak sayang, saya dapat menghalangi dia untuk mengetahui hal-hal yang tidak kuajarkan padanya? Bagaimana kalau dia melihat lalat biru berlayar atas sebuah ranting mengapung? Bagaimana, kalau benang tenunannya yang regang kembali ke ukuran asalnya dan karena mengerut dengan cepat secara kebetulan mendorong gulungan tenunannya? Bagaimana, kalau di tepi selokan ia mengintip ikan yang mencoba menggigit cacing yang bergeliat-geliat, tapi berhasil berkat kegigihan yang salah diarahkan hingga ia tersangkut pada kelopak pimping yang tajam? Dan bagaimana kalau akhirnya ia juga menemui sarang yang dibuat burung-burung dalam bulan Mei di antara kembang kupu-kupu?”
Para putra itu berfikir kembali, lalu berkata:
“Ia tidak akan belajar apa-apa dari itu, ayah? Ia terlalu bodoh untuk dapat memungut keinginan dari pengetahuan. Juga kami tidak akan tahu apa-apa, kalau ayah tidak memberi tahu kami.”
Tapi sang ayah menjawab:
“Tidak, dia tidak bodoh. Aku khawatir ia tanpa bantuanku akan mengetahui hal-hal yang tidak akan dapat kalian ketahui jika tidak kuajarkan. Thugater bukan anak bodoh!”
Lalu mereka berfikir lagi—tapi kali ini lebih dalam—lalu berkata:
“Ayah, katakan padanya, bahwa pengetahuan, pengertian dan keinginan… adalah dosa bagi seorang gadis!”
Kali ini ayah yang sangat berhati-hati itu puas. Ia biarkan anak-anak laki-lakinya pergi menangkap ikan, berburu, bekelana, berumah-tangga… ke mana saja. Tapi ia melarang Thugater untuk tahu, mengerti dan berkeinginan, yang sampai akhir hayat dalam kebodohannya terus memerah susu. Dan sampai sekarang keadaannya masih begitu.
Sejarah kesembilan tentang kekuasaan
Hassan menjual kurma di jalan-jalan Damaskus. Biarpun aku mengatakan ia menjual kurma, maksudku sebenarnya, ialah bahwa ia tidak menjualnya, karena kurmanya begitu kecil hingga tak ada yang mau membeli. Dengan rasa sedih dan iri hati ia melihat bagaimana orang lebih menyukai kurma Aoled yang kaya, yang diam di sebelahnya di atas sebuah tikar. Di Damaskus orang tinggal di atas tikar dengan tingkat-tingkat tinggi, karena mereka tak memiliki atap di atas kepalanya. Hingga kekayaan Aouled tidaklah terdiri dari rumah-rumah, melainkan dari sebidang kebun kurma yang subur, ya begitu subur hingga kurma yang tumbuh di sana tiga kali labih besarnya dari kurma biasa. Karena itu orang yang lewat membeli kurma Aouled dan bukan kurma Hassan.
Lalu datang ke kota itu seorang Darwis yang memiliki ilmu terlalu banyak, tetapi kekurangan makan. Pendeknya ia menukar ilmunya dengan makanan, dan kita akan melihat bagaimana beruntungnya Hasaan dengan pertukaran ini.
“Beri aku makan,” kata Darwis itu padanya, “lalu aku akan melakukan buat anda hal yang tidak dapat khalifah manapun juga. Aku akan memaksa orang banyak untuk membeli kurma anda, dengan jalan membuatnya lebih besar, ya lebih besar dari buah-buahan Aouled… Berapa besar buah kurma itu?”
“Apa boleh buat, Darwis kiriman Tuhan—kucium kaki anda—kurma Aouled—semoga Tuhan membuat perutnya mules—tiga kali lebih besar dari kurma biasa! Naiklah ke atas tikarku, silakan duduk bersila, semoga anda diberkati Tuhan lalu ajarkan padaku untuk membuat kurmaku lebih besar dan memaksa orang banyak untuk membelinya.”
Sebetulnya Hasaan dapat bertanya, kenapa Darwis yang begitu pandai, memerlukan makanan. Tapi Hassan tidak pernah suka selidik-menyelidik. Ia menjamu tamunya dengan kulit rebus, yang masih tersisa dari seekor kambing jantan hasil curian.
Darwis itu makan sampai kenyang lalu berkata:
“Buah-buahan tetanggamu tiga kali lebih besar dari kurma biasa… berapa besar kau inginkan kepunyaanmu ya, Hassan, anak aku-tak tahu-siapa?”
Hassan berfikir sebentar, lalu berkata:
“Tuhan akan memberikan anak-anak dan sapi padamu? Aku ingin kurmaku tiga kali lebih besar dari pada yang anda buat.”
“Baik sekali,” kata Darwis itu. “Ini seekor burung yang kubawa dari Timur Jauh. Katakan padanya bahwa setiap kurmamu tiga kali lebih besar dari kurmamu.”
“Kudoakan supaya anda beroleh istri dan onta, o, Darwis—yang harum bagai buah zaitun—tapi apa gunanya kukatakan pada burung ini sesuatu yang tidak ada?”
“Lakukanlah seperti kataku,” ulang orang keramat itu. “Untuk ini aku seorang Darwis , hingga kau tidak mengerti aku,”
Hassan mendoakan supaya burung itu beroleh bulu-bulu panjang lalu menyebutnya Rock. Tapi burung ini bukan rock. Burung ini adalah seekor burung kecil yang rada mirip seekor gagak dengan ledang yang lincah dan berjalan agak melenggok-lenggok. Darwis itu memperolehnya di Andalusia dibawa oleh saudagar-saudagar yang datang dari seberang laut, dari negeri di mana penduduknya mirip orang negro, biarpun negeri itu jauh dari Afrika. Hassan menamakan burung itu rock, karena ia melihat bahwa tubuh seseorang jika orang meminta, mengembang. Juga sebaliknya terjadi. Seseorang yang memerlukan sesuatu dari orang lain tubuhnya akan mengerut. Demikianlah halnya di Damaskus.
Hassan mengerut lalu berkata:
“Aku budakmu, burung rock! Ayahku seorang anjing… dan setiap butir kurmaku sama besarnya dengan tiga butir kurmaku!”
“Bagus,” kata Darwis. “Teruslah begitu dan takutlah pada Tuhan.”
Hassan melanjutkan perbuatannya. Ia takut pada Tuhan dan ia berkata pada burung itu tak henti-hentinya bahwa kurmanya tak masuk akal besarnya.
Upah untuk kebaikan akhirnya datang juga. Belum lagi tiga kali khalifah membunuh penghuni haremnya; belum lahi ibu-ibu beroleh kesempatan mendandani anak-anak gadisnya siap untuk menuju pasar Rum; belum lagi Hassan sempat menemui bandot yang sesaat untuk menemaninya dan untuk melanjutkan hidupnya di atas tikarnya, burung itu sudah berseru:
“Ayahku seekor anjing…”
Sebetulnya itu tidak perlu, tapi ia menyimak Hassan.
“Ayahku seekor anjing, dapat bulu panjang, kurma Hassan bin…”Aku tidak tahu nama ayah Hassan, tapi karena ayahnya itu seekor anjing, maka hal ini tidaklah jadi persoalan.
“Kurma Hassan tiga kali lebih besar dari sebenarnya.”
Waktu itu ada pembangkang-pembangkang di Damaskus yang membantah. Tapi tak lama. Dalam suara burung ini ada sesuatu yang membuat udara gemetar dengan suatu cara yang mempengaruhi pembekokan cahaya. Kurma tumbuh, tumbuh… depan mata orang banyak…
Dab burung itu tidak putus-putusnya berseru:
“Kurma Hassan tiga kali lebih besar daripada sebenarnya!”
Dan mereka tumbuh…! Orang terpaksa menganga besar untuk dapat menggigitnya.
Dan Aouled jadi kurus. Tapi Hasaan makin banyak membeli bandot dan anak domba dan ia membangun atap di atas tikarnya. Ia jadi sangat jujur dan menganggap sebagai perbuatan jahat jika ada orang yang tidak punya anak domba lantas memakan salah seekor kepunyaannya. Ia tidak henti-hentinya takut akan Tuhan.
Kekayaan dan kelaliman ia beroleh berkat burung kecil, yang selalu mengucapkan hal yang sama dan menjadikan dusta jadi kebenarannya dengan cara mengulang-ulangnya. Setiap orang menganggap kurma Hassan besar-besar dan setiap orang terpaksa membelinya setiap…
Kecuali Hassan sendiri yang secara diam-diam mengambil persediannya dari Aouled. H Hassan adalah satu-satunya langganan Aouled. Sampai sekarang masih demikian.

INDONESIA KITA BUKAN MEREKA

INDONESIA RAYA
INDONESIA KITA BUKAN MEREKA

Indonesia kita, bukan mereka
Indonesia negeri bahari nan luas, indah pula hutannya kawan
George Samuel Windsor Earl, berujar
Indonesia atau Melanesia dalam catatan sejarah Nasional
Ya Indonesia, bukan Hindia Belanda yang mengepung kerajaan Nusantara berabad-abad lamanya
Ada Pula kolonialisme lama, Spanyol dan Portugis merampas hak sipil di Maluku
Negeri kepulauan yang terhampar luas dari Sabang sampai Merauke
di apit pula Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mengarah Timur Morotai kala Pasukan Sekutu menggempur Hiroshima dan Nagasaki
Negeri Sejuta warna budaya, adat istiadat dan bahasanya
Indonesia, kita bukan mereka
kawan, kan kutulis wasiat ini demi pengenalan kejayaan sejarah Nusantara masa silam
Indonesia, dari Andalas, Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Selebes, mataram, Flores, Bali, Moloku Kie Raha, mengarah Banda Naira dan Papua
Indonesia kita, bukan Amerika, Spanyol,Portugis, Inggris, Belanda atau Monggolia kawan
Indonesia kita dari satu rangkaian Sumpah Sang Mahapatih dan Sultan dan para Raja
Indonesia kita, di paksa menangis dalam duka perlahan-lahan
Berkaca dari sejarah kelam kala Sriwijaya dan Andalas yang gemilang pada masanya
Mantap Majapahit berduka dalam kebesaran kuasanya menghalau gempuran Tirani Kaum Moggol
Indonesia kini hilang semangat juangnya.
kita sepatutnya malu, kepada pejuang masa lalu, belajarlah kawan
ketika Saedul Kaicil Jou Paparangan Sultan Nuku menggempur Portugis hingga meninggalkan Maluku menuju Timor-timur
Anak negeri ini lupa akan pengabdia Fatahila membakar benteng Kapitalisme VOC di Bandar Jakarta
Kawan, Indonesia kita menagis dalam keharuan anak cucu hari ini
Kawan, Indonesia kita terluka dari tangan pedang algojo anak kandung
Kawan, Indonesia kita kini perut buminya mulai di bedah demi kepuasan perusan bangsa asing
Kawan, wajah hutan Indonesia kita telah dilibas habis bersama kerakusan mesin industrialisme kita sendiri
Kawan, Bahasa pemersatu kita bagai kamus kusam tak bernilai di ruang kampus dan media televisi
Kawan, aku bertanya padamu, Indonesia ini untuk siapa kelak?

Kamaruddin Salim
9 Juni 2012

Di dedikasikan buat generasi Indonesia yang mencintai Tanah Air nya tanpa akhir


INDONESIA KINI DAN BUBAR NANTI

INDONESIA KINI DAN BUBAR NANTI

Indonesia
ya, Indonesia, negaraku.
Negara kepulauan yang agraris terbentang antara samudera hindia dan samudera pasifik
Indonesia namanya tak asing di seanterodunia
syurga dunia dan menjadi penentu ruang kehidupan manusia sedunia
Indonesia kini bergerak melaju menuju poros kemajuan
 Menancapkan kuasa dari dari tanah sabang melesat jauh menuju Puncak Jaya Wijaya
Operasi perut bumi, mengkebiri hutan lalu menyulap menyerupai kerajaan baru
Lautan luas di sihir terkapling-kapling demi memenuhi selera kaum kaya
Perebutan lahan ekonomi  biasa dan lumrah di negara ini
Indonesia kini 64 tahun usianya, mulai menua
Manusia nya beragam, dari selera kawin kontrak dan pernikahan antar budaya mengemuka tanpa sekat
dari bilik hegemoni budaya lokalitas yang kini basi
hening pula diselaput daun telinga kaum muda
demokrasi, merdeka berfikir. pro gender dan anti pluralitas kawan
Indonesia kini dan bubar nanti, tak lama lagi kawan
Kebinekan telah digadaikan semurah sesuai selera pasar
Sejarah maritim Samudera Pasai, Sriwijaya, Majapahit hingga Timur Juah tak ubahnya dongeng belaka
Negeri yang kaya ini tercabik-cabik tanpa belas kasihan
Tersihir dengan ragam ilmu santet para dukun kaum kota yang telah mengerti khasiat uang
Dan juga di sepak kaum pintar menuju gawang lawan demi memenuhi hasrat partainya
Indonesia kita kini berubah beringas dan menakutkan
Para Politisi dan Sang Ideolog saling mencaci dari pedium menuju ruang sidang terhormat
Lain pula sikap Pejabat Negara menancapkan popularitas sembari berteriak atas nama HAM dan Rakyat
Hukum negara beralih fungsi menjadi hukum kanibalisasi tanpa batasa norma dan moralitas
Di mana-mana kekerasan tumbuh subur dari dari pemikiran hingga ruang kelas para mahasiswa
Hidup berdaulat di negara ini tak lagi berlaku, Tuhan dan Kitab Suci-Nya lapuk di lemari kaca
Perintah Tuhan dikapitalisai dari panggung rakyat dan tayangan televisi tiap pagi
Manusia Indonesia manusia yang individualistikdari Sabang dampai Merauke
Dan ini nyata adanya kawan
Politik Pencuriga, perlahan menggusur akal sehat manusia kampus dan gedung pemerintah
Cara ini berlaku pula di rumah ibadah dan kantor pelayanan yang kini membentengi diri atas nama keamanan
Ekonomi tak adil penerapannya antara mikra-makro, membaca kemelaratan mereka di kampung terisolasi
Kaum kota menarik pembatas dari desa kumuh yang menolak Industrialisasi
Indonesia ku, tragis mayoritas melindas minoritas dalam urusan Ber-Tuhan
Indonesia kini dan bubar nanti
Miris lalu meringis dalam rasa duka, kala media televisi mengajak kita tertawakan diri sendiri
Dari waktu ke waktu, lalu kita lupa diri.
Kita lantas tidak perduli senasib dan sepenanggungan
Antara bencana dan angka statistik mengemuka dari mata batin kita
BErapa jumlah korban kemudian selesai bila Pidato Keprihatinan Sang Presiden di atas pedium
Selesai pula Uusan berdua,kawan
Indonesia Kini dan bubar nanti
Syair Cinta Tanah Air dan Nyiur Melambai hening dari pendengaran
dan Kita tinggal menunggu berapa lama lagi kawan NKRI ini ada???

Kamaruddin Salim
Pejaten, 29 Mei 2012