Laman

Rabu, 13 November 2013

AKU MENCINTAIMU

AKU MENCINTAIMU

kekasihku tercinta
yang tertulis ini menjadi kata rindu yang mewakili hadirku
berbaris kata-kata tulus padamu
kala rindu menghinggapi
kesendirianku tanpamu
kata lalu mengumbar senyum menghibur laraku
tentu berapa lama lagi kita bebas
bercengkrama dalam harmoni ruang
lalu bercerita tentang masa depan yang panjang
jemari beradu dalam asmara yang suci
aku mencintaimu dengan tulus kekasihku
semua tak berapa lama lagi kita bersama selamanya

Kamaruddin Salim
Jakarta, 10 Dzulkhijah 1435 H
              15 Oktober 2013
Pukul: 10.30. WIB

Selasa, 29 Oktober 2013

DI KALA MANUSIA MEMANGSA



DI KALA MANUSIA MEMANGSA

Dunia modern itu baik katanya!
Semua bebas berekspresi tanpa titik dan koma
Suara lantang memaki, menghujat hal biasa
Inilah era liberalisasi yang diagungkan manusia sejagad raya
Politik bibir ranum, lidah katak dan bermuka badak jadi idola
Dalam waktu yang berjalan siang malam, kita disuguhi aneka sajian yang fantastis
Politisi saling Sandra demi citra partai dan kuasa di parlemen dan ruang birokrasi Istana
Polisi di buru, pendekar hantu malam tanpa bayangan, lalu mati di jalan raya
Mencekam, sembari meninggalkan tanda Tanya bagi keluarga dan publik
Siapa sesungguhnya manusia pemangsa itu?
Lalu kita kembali merenungi, para siswa ibu ibu kota beradu kekuatan di halaman sekolah menuju jalan raya sambil melukai satu sama lain
Jalanan menjadi arena tinju para petarung
Kaum terpelajar seakan kehilangan mata batin dan akal sehat
Setumpuk undang-undang prosuksi Departemen Pendidikan, demi mencerdaskan kehidupan anak bangsa
Kini, lapuk di gudang sekolah yang hanya dibaca rayap dan kecoak
Orang tua tampil sebagai sapi perah anak kandung sendiri demi harga diri yang terstruktur
Lalu bangga kami adalah anak bangsa yang pandai
Inilah dunia bebas merdeka yang dikehendaki kaum reformis
Mengucilkan Orde Baru dari catatan resmi negara kemudian menggayang Soeharto
Kaum akademisi kini berpesta, kita bebas menulis, mengkritis bahkan menghujat sesuka hati
Tembok Pembatas pencerahan telah ambruk bersama politik Dinasti dan Etnisitas
Namun, semua berbeda dalam kisah dan fakta
Kaum Pemburu kekuasaan kian menggeliat dan binal dibalik soko guru yang mereka punya
Para pendekar kini bermunculan dari segala medan laga dan perguruan silat lidah
Kemudian menggandeng jemari lentik kaum bunda putri demi satu kehormatan dan wibawa
Cita-cita emansipasi terwujud pula seirama habis gelap terbitlah terang
Oh, ternyata liberalisme itu seksi dan menantang
Dunia politik ramai dari kampanye pencitraan diri dan iklan kemajuan palsu
Membedah teori hutan rimba, gunung emas dan batas wilayah dalam rung seminar yang mulai rapai para kapitalis baru
Mengkapling lahan gapan, membunuh kaum latah atas nama pembangunan
Sungguh, praktik barbarisme menjamur sudah
Mereka semua kaum pemikir ulung yang diproduksi ibu kandung
Namun, kawan. Kata dari generasi yang menanti kemurkaan alam yang selalu datang
Antara tsunami, air bah dan gempa bumi berulang-ulang meradang
Dan kita, dianjurkan istigosah lalu memaafkan. Itulah budaya Indonesia
Kawan, aku hanya menulis apa yang ada hari ini
Tentu, esok hari. Para pemburu akan kembali meneror dalam beragam gaya dan sikapnya
Untuk kita dan generasi mendatang

Kamaruddin Salim

Pejaten- Pasar Minggu, 29 Oktober 2013
Pukul, 19.00. Wib

Kamis, 24 Oktober 2013

HARI PAHLAWAN, Ritualitas Tanpa Koma




HARI PAHLAWAN, Ritualitas Tanpa Koma
Kamaruddin Salim [1][1]
 Keberadaan bangsa yang merdeka, dari satu masa dan generasi. Sudah barang tentu bertolak dari peran orang-orang yang berjuang di masa lalu. Dengan cita-cita perubahan, nyawa dan materi,dan semua untuk kebebasan dan kedamaian tanah air yang mereka punya. Epos

10 November 1945 itulah catatan sejarah yang abadi dalam kitab sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Satu ritus sejarah perjuangan yang lahir dari semangat nasionalisme kebangsan yang bertujuan demi mewujudkan kemerdekaan dari belenggu kolonialisme dan imperialisme bangsa asing. Walaupun apa yang terjadi di Surabaya awal mula pergolakan nasional dan melegitimasi satu proses perjuangan yang panjang sejak bangsa asing menginjakkan kaki di Ibu Pertiwi, yang sebelum terbentuknya NKRI, akan tetapi, 10 Novermber telah menjadi satu titik klimaks dari perjuangan kaum pribumi di Jawa Timur dan berhasil mengusir tentara Sekutu bersama sukarelawan Gurka danri India.
Kemerdekaan Indonesia yang kini berusia 68 tahun, tentunya merupakan cita-cita luhur para pahlawan yang dengan berani memperjuang apa yang mereka miliki demi terwujudnya kemerdeaan bangsanya. Tentunya, apa yang diabdikan tersebut menjadi hal yang memberatkan oleh para pejuang kemerdekaan. Logikanya dalam suatu situasi yang yang serba sulit dan bergolak kala itu, persatuan dan semangat kolektif tetap menjadi utama, tanpa mengedepankan ego individualisme pribadi maupun kelompok. Fakta empiris membuktikan bahwa dengan semangat kolektifitas dari rakyat Indonesia dapat meraih kemerdekaan. Di mana, penantian selama beberapa abad di kala Nusantara ini dijajah oleh bangsa asing seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang dan Inggris.
Ritualitas hari pahlawan diperingati sebagai suatu bentuk penghargaan atas jasa para pejuang telah gugur di medan pertempuran maupun di usia senja setelah kemerdekaan. Ritualitas yang dilakukan dengan berbagai cara dan tema tak ubahnya sebuah serimonial tahunan. Kesan apresiasi sarat makna dan nilai heroik,  pada hakikatnya untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa buah dari perubahan dan kemerdekaan hari ini adalah transaksi yang tragis dan kegigihan generasi terdahulu tanpa nilai tukar apapun berlabu dalam pikiran mereka. Merekalah adalah insan patriotik yang dikenali oleh seluruh anak bangsa dengan sebutan “Pahlawan”.
Pahlawan, kata ini tentunya akrab ditelinga semua orang, dan menyisyaratkan suatu daya tarik tersendiri. Terminologi pahlawan dalam realitas selalu dikaitkan dengan satu daya juang, pengorbanan seseorang dalam hidupnya dan itu dinilai berguna bagi orang lain. Hal ini, tentu tidak mengaburkan pengertian pahlawan sesungguhnya. Akan tetapi pahlawan dalam arti yang sempit kadang dijumpai dalam tutur kata, baik lisan ataupun tulisan. Dan semua seakan terfokus pada seseorang yang berlatar dengan pendekatan lebel atau simbol yang dilegalkan negara atau pemerintah, seperti Tentara ataupun kaum birokrasi. Disamping itu, di Indonesia terdapat beberapa kategori pahlawan bangsa, antara lain pahlawan nasional, pahlawan kemerdekaan nasional, pahlawan proklamator, dan pahlawan revolusi. Namun dengan runtuhnya hegemoni kuasa rezim Orde Baru, bermunculan orang yang dikategorikan sebagai pahlawan, diantaranya Pahlawan Reformasi dan Pahlawan Devias (TKI)
 Terlepas dari perdebatan gelar kepahlawanan, yang sepatutnya di soroti serius adalah, prosesi serimonial memperingati hari pahlawan itu sendiri dan bagaimana implementasi pokok dari hasil perjuangan para pahlawan di masa kini?. Di mana, ragam argumentasi terkait dengan dinamika berbangsa dan negara yang belum merdeka dari penjajahan asing dan dijajah bangsa sendiri. Wacananya kritis semacam ini, tentunya mengingatkan kepada pengambil kebijakan bahwa perjuangan belum berakhir.  Karena, kemerdekaan yang dinikmati saat ini sepatutnya dipertahankan dengan baik. Sehingga penjajahan gaya baru tidak lagi tampil sebagai bentuk algojo baru di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang merdeka.disamping itu ada pula bentuk penghargaan lain yang diapresiasikan kepada jasa-jasa para pahlawan dengan menulis biografi para pahlawan.
Buah pemikiran, perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan adalah warisan abadi bagi generasi penerus bangsa untuk dijaga dan dilestarikan keberadaanya. Begitu pula sejarah para pahlawan akan selalu terkenang tak lapuk termakan zaman. Dengan melalui karya inilah tentunya menjadi jembatan antara peristiwa yang masalalu dan masyarakat dapat dibangun sebagai salah satu bentuk rekam jejak yang hidup dan menginspirasi dari masa kemasa. Dari apresiasi yang baik, tentunya mengingatkan kita pada ungkapan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, Jangan Sekali-kali Lupoakan Sejarah (JASMERAH). Bila bangsa Indonesia melupakan sejarahnya, maka dampak yang terjadi tentunya lebih masif penjajahan gaya baru yang akan melanda bangsa  dan negara ini. Di mana, era globaliasi dan moderniasi yang menandakan kemajuan tekhnologi yang menggila saat ini, akan dengan mudah memecah belah Indonesia dengan sekejab mata!!!!





[1][1] Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta

Rabu, 23 Oktober 2013

KESETIAAN DAN PENGORBANAN, Belajar dari karya Rabindranath Tagore

                                                       KESETIAAN DAN PENGORBANAN

MEMAHAMI KARYA TAGORE

Kamaruddin Salim

            Kecemburuannya menggerogoti hatinya bagai sebuah penyakit kanker yang     tersembunyi.........suatu persoalan sepele membuat racun itu membeludak. Pares menuduh Paramanada, seorang munafik di depan istrinya dan berkata ' sanggupkah kau bersumpah bahwa kau tak jatuh cinta kepada burung bangau yang berpura-pura menjadi pertapa ini?"

Kecemburuan bagai penyakit kanker yang tersembunyi, uraian kata yang sarat makna dari Tagore, tentunya maknanya dapat ditafsirkan oleh kita dengan berbagai terminologi bahasa, sungguh Seorang Tagore mengungkapkan sesuatu hal tidak serumit untuk dibaca dan dipahami oleh anak sekolah dasar sekalipun.Kita tentu dibuat kagum pada alur yang menarik walau cerita yang ditulis hanya beberapa lembar halaman saja. Tagore tentu membawa kita pada satu realitas sesungguhnya. bahwa, kecemburuan itu serupa penyakit yang mematikan "kanker".

Rasa Cemburu yang tersembunyi lalu akhirnya meledak keluar dari dasar hati yang tersembunyi, membawa Pares menuju ajalnya. dan kemudian memaksa Gouri meminum racun untuk membuktikan bahwa gejolak rumah tangga yang berdasar pada rasa cemburu Pares itu tidaklah benar, dan Gouri membuktikan hal itu secara serius dan akhirnya dia pun terlentang disamping jasad sang Suami tercinta dengan perasaan cinta dan kesetiaan.

kisah cinta yang di tulis Tagore dalam cerpen ini, yang hanya mengisahkan tiga orang aktor penting di dalamnya, namun bila kita hayati secara serius, tentunya melibatkan semua manusia yang mempunyai hasrat cinta kasih kepada sesamanya. dan penyakit (kanker) cemburu itu tentu mengindap semua manusia di muka bumi ini. dan saya pun mengalami hal yang sama. Tagore sebagai serang Filsuf dan Sastrawan kawakan, tidak terlalau bermain dalam imajinasi kata-kata yang rumit, tatapi dia mampu mengahdirkan sesuatu yang sederhana dan mudah dicerna oleh pambacanya.

kisah kesetiaan ini, merupakan satu cerita fiksi dan realis, dalam pandangan sayang. sangat menarik untuk dibaca dan jadikan referensi penyadaran kepada kita semua bahwa, segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit cemburu, sepatutnya dibicarakans ecara baik ataupun dirawat secara baik sehingga tidak berujung kepada aksi bunuh diri sebagaiman yang dilakukan oleh Gouri. dan bila kita  bandingan dengan kisah Qais dan Lailai dalam cerita Laila Majnun, sesungguhnya memiliki kemiripan. dan akhir kisah percintaanpun sama. wlaupun seting ataupun latar ceritanya berangkat dari dua benua yang wilayah yang berbeda, satu di Persia dan di India.



Dalam cerita kesetiaan yang di tulis oelh Tagore, yang membuktikan kesetiaan kepada pasangannya adalah sang Istri. namun dalam kisah Laila Majdnun adalah Qais kekasih gelapnya. bila kita baca secara baik, tergambarkan bahwa. hasrat cinta yang memuncaknya rasa cembu membuat Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya. Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sad bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sad bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. 

Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari- hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila. Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.semoga kita dapat mendapat pelajaran yang positif dari kedua kisah yang ditulis oleh para FIlsuf dan sastrawan terkemuka dunia ini,amin
Kamaruddin Salim
Universitas Nasional, 23 Oktober 2013

Referensi Bacaan Cinta Tak pernah mati. Kumpulan Karya para sartawan dunia. Penyunting: Anton Kurnia. Penerbit Serambi. 1 Juni 2011. Hlm. 200
Laila Majnun



Selasa, 22 Oktober 2013

CINTA MU, MENCIPTA KEHIDUPANKU

                                              CINTA MU, MENCIPTA KEHIDUPANKU


cintamu mengalir dalam alam sadarku
lalu jiwaku menjamu hangatnya sikapmu yang lembut
bersama tutur kata yang santun tanpa beban
lama menempel di pikiranku tak menghilang
sungguh semua terjadi begitu capat bagiku
hingga aku tak punya waktu menerka
semua terjadi begitu cepat dan singkat
aku akan melamarmu sendiri sayang.....

kisah cinta setiap manusia tentu beragam dan penuh kerinduan. dalam beberapa risalah yang di tulis oleh para sastrawan terkemuka dunia mengabdikan hidupnya dengan menuliskan kisah mereka dengan sadar dan jujur. semua itu untuk mengabdikan kenangan generasi setelah mereka. dan aku salah satu orang yang gemar membaca kisah mereka. kita tantu nya menjadi manusia yang meniru lalu menggelola hidup kita serupa atau bahkan berbeda dengan mereka agar menemukan satu kehidupan dalam ksaih sayang yang lebih baik dan harmonis.

aku, ingin menulis perasaan riangku dikala keinginan baikku terkabulkan oleh Yang Maha Kuasa, di mana, doa yang dipanjatkan tatkala bermunajad kepadanya berbuah baik. semua tentu merupakan suatu anugerah tak terkira. bahwa jodoh memang berada di tangan tuhan. kegembiraan saat ini belum lah sempurna dari sebuah proses kehidupan, sebab semua tetap berjalan tanpa akhir. kisah ini baru dimulai. awal episode yang menantang dan cukup meneror kesadaran. semua menjadi satu cerita baru dalam proses menuju anak tangga berkeluarga. satu ritualitas spiritual yang tergerak dengan rasa hati yang sulit dijelaskan melalui teori ilmu pasti. dari cerita orang yang lebih dahulu menempuh proses kehidupan rumah tangga dengan ragam kerumitan dan ketenangan yang ada, kini aku merasakannya. belajar dari pengalaman yang ada, dengan sadar ingin aku menerka-nerka kala kita merasakan satu kebahagiaan disaat kita mencintai seseorang lalu kemudian melamar dia, apa yang sepatutnya dilakukan. ya, kini aku mengelaborasi semua yang terbaca dan didengarkan itu dalam kisah sendiri dengan berbagai pendekatan perasaan dan kedaran demi mewujudkan kehidupan rumah tangga yang lebih baik.

cinta memang satu gejolak jiwa yang rumit di gambarkan dengan kata-kata, pepatah ini memang menarik untuk direnungi. memang dalam beberapa hal, semua orang tentunya memilih mengimplementasi perasaan dan pengalaman mereka dengan berbagai simbol-simbol berupa benda yang bertujuan untuk menunjukkan kasih sayang dan kesetiaan mereka kepada pasangannya. semua yang mereka lakukan tentu tidak salah dan dapat dibenarkan. ada pula yang mengekspresikan dengan pendekatan yang lebih fulgar dan menantang, misalnya memonopoli hasrat dari simbol seksualitas demi diapresiasi pasangannya sebagai tanda cinta dan sayang.

simbol mawar misalnya, mendunia dan melekat erat dengan ekspresi cinta pada pasangan, ada pula, memoles diri agar terlihat lebih cantik, ganteng dan lain-lain dengan alasan menjaga harmoni dalam hubungan. aku tentunya mengajak pikiran sadarku, agar bagaimana menunjukkan perasaan kasih sayang kepada pasanganku dengan bentuk yang berbeda pula. alasan semua ini tentunya merupakan ciri khas dari setiap orang yang menunjukan kasih sayangnya kepada sang kekasih. ada pula, yang memilih ungkapan perasaan dengan memuja sang kekasih dalam kesantunan sikap bersajak dan pujian tertulis kepada kekasihnya. semua tentunya dapat dibenarkan.

cinta berawal dari mata, pandangan pertama dan cinta lokasi dan apapun ruang dan lokasinya, semuanya tentu merupakan satu gejolak perasaan dan hasrat manusiawi yang pada hakekatnya dialami oleh semua orang. kita tentu seruapa dengan ungkapan di atas. cinta pun dapat menciptakan sejarah dunia menjadi lebih gemilang atau bahkan dapat terkenal setelah kisah itu bermula. kita tentunya ingat dengan ribuan kisah kaum terhdahulu yang mengorbankan diri, harta benda dan bahkan apapun yang dia punya demi untuk mendapatkan cintanya. kisah Sah Jahan, membangun Taj Mahal demi mengekspresikan bukti kecintaannya terhadap Istri tercintanya. kisah Laila Majnun yang melegenda di Tanah Arab, uraian kisah Remeo dan Julie oleh Shakespeare. yang lebih merngharukan adalah kisah Dewi Shinta dan Rama dalam cerita Ramayana. dan sederet kisah percintaan dari ranah Minang, Sengsara Membawa Nikmat atau Di bawah Lindungan Kab'ah oleh Buya Hamka. semua kisah ini memang menaruh banyak perhatian para penggiat sastra atau bahkan bagi jutaan umat manusia yang ingin menemukan satu nilai lebih untuk memulai kehidupan yang sadar dengan cinta kasih yang bermakna dan dalam kesederhanaan. dan hal inilah yang mendorong Leo Tolstoy mengekspresikan kecintaannya kepada Sang Istri dengan menulis satu kjisah yang monumental dalam kitab Anna Karenina yang kemudian menjadi sumbangsih berharga bagi dunia sastra dan Rusia hingga kini.

berbeda dengan ragam cerita dan kisah yang lebih dahulu ada, aku hanya ingin menulis satu uangkapan perasaan yang melekat dalam jiwaku, bahwa cinta sesungguhnya satu gejolak jiwa yang tentunya lumrah dialami dan dimiliki oleh semua umat manusia. bila berbeda dalam wujud nyatanya, tentulah semua itu buah dari perasaan yang diekspresikan oleh manusia itu sendiri. dan aku sendiri merasa perlu untuk tetap berekperimen dalam hidup ini, bahwa cinta itu sifat kebaikan dari Tuhan yang diberikan berikan langsung kepada jiwa setiap makhluk ciptaannya secara jelas dan nyata dengan tujuan agar manusia untuk saling mencintai satu sama lain hingga ajal menjemput mereka.

bila cinta telah datang padamu, maka bersyukurlah dan terima lah dengan riang gembira. semua itu adalah aneugerah yang tak terbatas dan mulia dari Tuhan-mu. dia maha tahu dari dirimu sendiri. rawatlah cintamu dengan baik dan berilah cinta yang tulus kepada kekasihmu. semua yang engkau beri dengan tulus, tentu akan berbuah manis. belajarlah kepada kedua orang tua kita yang dengan ikhlas membangun harmoni rumah tangga sehingga detik ini kita berkumpul dan tumbuh bersama mereka, berbahagialah bagi yang masih bersama kedua orang tuanya. Tuhan selalu mencintai Umatnya yang bersyukur atas rahmat dan karunia-Nya dengar sadar dan ikhlas.