Laman

Kamis, 14 November 2013

10 DZULKHIJAH

10 DZULKHIJAH

Ini kisah mengharukan dari ayah dan sang anak
proses mimpi dan perintah Tuhan yang dipenuhi
dalam terminologi agama, tentu menjadi sikap ketaatan pada Sang Pencipta
dalam wacana sosial ini sikap yang sarat prinsip mengabdi
dalam gejolak kasih sayang yang mendominasi logika kebersamaan
Sosok Ibrahim As yang menjadi sosok dari semua aliran kepercaan samawi
Yahudi, Nasrani dan Islam
tatkala pesan mimpi yang berupa perintah Tuhan
mengorbankan anak kandung sebagai bukti kefitrahan
lalu amanat di tuniakan, Tuhan pun terharu dibalik zat-Nya yang tersembunyi
kemudian se-ekor domba digantikan sekejab
sumpah setia Ismail dihargai penuh haru, dan penyelamatan umat manusia diukir sudah
satu kisah yang sulit dibayangkan dari akal ilmiah apapun
melalui kisah ini, lantas kita mengerti arti suatu perngorbanan suci 
dalam sejarah umat manusia

kamaruddin Salim
Ketapang, 10 Zulkhijah 1435 H
                 15 Oktober 2013
Photo Pribadi: 10 Zulkhijah 1435 H
Pukul: 00.05 WIB

LANGIT JAKARTA

Langit Jakarta

Mengintip Matahari kala Senja

Mengintip Matahari kala Senja

Menyingsing

Rabu, 13 November 2013

ANAK-ANAK ZAMAN

Photo Pribadi: Kolam alam, Tempat Pemandian masyarakat Leles. Garut-Jabar. 27/10/2013
Photo Pribadi: Kolam alam, Tempat Pemandian masyarakat Leles. Garut-Jabar. 27/10/2013



Photo Pribadi: Kolam alam, Tempat Pemandian masyarakat Leles. Garut-Jabar. 27/10/2013
Photo Pribadi: Kolam alam, Tempat Pemandian masyarakat Leles. Garut-Jabar. 27/10/2013

Empang Dekat Pemukinam Warga Leles

Empang Dekat Pemukinam Warga Leles

Rumah Asli Masyarakat Garut-Jawa barat

HASRAT MERUBAH

Photo Pribadi: Desa Leles, Garut-Jabar. Pukul. Minggu. 27Oktober 2013. 06.Pagi
HASRAT MERUBAH

Hamparan sawah mendongkrak kesadaranku
Hamparan padi warna keemasan menyilaukan mata
Di kaki bukit di batasi Setu Cangkoang
Awan tipis bergerak perlahan meninggalkan camar sedang menari jaipongan
Gerimis perlaham menyapaku dalam bahasan alam pribumi
Kuda penarik andong berlari elok menyelusuri setapak berlumpur
Sungguh satu risalah kehidupan yang mengagumkan
Di tepian setu, Candi Cangkoang berdiri kokoh, belum sedikit jua tergerus zaman
Entah kapan bertahan dalam ruang modernisasi perkotaan, kawan
Di sini, anak-anak desa pandai merawat budaya ibu pertiwinya
Bumi Pasundan nampak indah hari ini
Mengisyaratkan pada legenda Dewi Shinta masa lalu
Hari mulai sorem udara dingin meneror kulitku
Aku berada diantara manusia meredeka
Bebas bertutur dalam sastra lisan nan lembut
Gerbang kehidupan baru memberi teka-teki padaku
Apakah kami ketinggalan zaman?
Apakah kami manusia feodal?
Apakah kami manusia purba?
Apakah kami manusia kampungan?
Ragam kata tanya menanti jawabanku
Hasrat merubah tanpa defenisi nyata disini kawan
Monopoli arti ilmiah manusia kota tak sedikit jua berarti kawan
Azan magrib memakirkan hasratku untuk mengira-ngira situasi
Manusia desa yang religius menuju pusat suara
Alam pemikiranku dikritik pula kawan
Dagangan politik tak laris disini
Mungkin belum saatnya musim berburu kaum cendikia kota  dilakukan
Hukum rimba itu rekayasa dari gedung mewah hingga jalanan raya demokrasi tak berbudaya
Malam mulai larut, terdengar hanya nyanyian jangkrik dalam keheningan
Sepintas lalu, dedaunan meramaikan suasana bersama angin malam
Kawan, pagi yang damai. tanpa geliat mesin pemburu kehidupan bergetar disini
Tak ada pula hegemononi industrialisme kawan
Perubahan arah kehidupan di awali dari sini
Aku bertanya padamu, sampai kapan mereka dan sawahnya aman dari mesin pembunuh kehidupan?

Kamaruddin Salim
Desa Cangkong-Leles, Garut-Jawa barat
Senin, 10 November 2012
Pukul: 24.45. WIB

DUNIA BARU

Photo: Pribadi, Asrama Fomatika Jakarta, 28 Oktober 2013, pukul 17.36. WIB
DUNIA BARU

Dunia kini dunia yang berubah
tidak lagi ku lihat parade pasukan memburu musuh
layaknya para laskar mengusung bambu runcing dalam genggamannya
dunia kini dunia yang melunak
dari seantero negeri, tak terlihat slogan revolusi mewarnai tembok kota
pamflet propaganda merdeka sungguh hilang dari bumi yang bebas
dunia kini dunia yang binal
mengilhami manusia dari kehidupan yang maha ada tanpa batas
mendorong seluruh umat, etnis dan budaya berjibaku dalam hamparan sahara yang menantang
demi suatu kuasa yang tak pernah habis
ku lihat manusia mulai membabtis diri menjadi raja-raja atas manusia lainnya
raja di-raja tidak menunggu kehendak Tuhan-Nya
dunia kini dunia yang egois
sejarah silam digariskan lewat lidah penguasa
kini lebur bersama titah mayoritas dalam kotak suara pemilu
ku menyaksikan sejarah dunia sulit tertulis rapi dalam buku-buku kebenaran
makhluk tuhan mengilhami hasrat seksualitas demi kepuasan berdamai
lalu kembali membunuh, halal hukumnya
sejarah manusia yang merawat citra diri
mulai rama dalam ruang kota yang modern
dunia kini dunia yang bebas
pendidikan kini telah ambruk batasan kelas dan ego etnis
ku melihat anak-anak dusun berjibaku meraih ilmu bersama anak priyayi
kelas pribumi darah biru hilang sudah kuasanya
pendidikan bagai jalan raya yang kini bebas dilalu siapapun
yang lemah ekonominya tentu memilih jatah termurah
hukum ekonomi mengalahkan hukum moral dalam perjalanan mencapai kesadaran
dan jalan raya selalu menjadi proyek kaum pandai meraup keuntungan atas nama kualitas
dunia kini dunia yang baru
kita dianugerahkan kemegahan tekhnologi yang mega trend
evolusi kehidupan kehilangan pamornya
semua berubah sesuia kebutuhan pasar 
yang lamban, tentu ketinggalan zaman
dan semua bagai rombongan robot yang berbaris rapi
tak berdaya dalam satu remot kontrol
aku sendiri sama seperti robot-robot itu, dan kita semua kawan.
namun, aku selalu ada di antara manusia tanpa robot

Kamaruddin Salim
Ketapang- Jakarta Selatan:
Sabtu, 17 Agustus 2013
Pukul. 17.17. WIB 

KAPITALISASI PUASA

KAPITALISASI PUASA

...Menyoal kapitalisasi,tak semata dalam hal ekonomi makro mikro. Kini,kapitalisasi bermetamorfosis dalam ruang ritualitas keagamaan.satu contoh kasus adalah puasa Ramadhan.mungkin mayoritas orang melihat apa yang diulas ini semata opini sampah,namun faktanya tidak selalu masuk dalam ruang sampah yang berbau busuk.tetapi,kaitan dengan kapitalisasi Puasa,saya hendak menyoal daya magis program lawakan setiap pagi di hampir setiap media televisi swasta di Indonesia. Jelang sahur, gemuruh suara penonton membahana, ketika para aktor memainkan lakon dengan ragam gaya dan tutur kata yang kesan humoris lalu semua larut dalam medium fantasi kegilaan.tontonan yang kian digemari, terlepas dari dominasi mayoritas yang menampilkan lawakan,ada beberapa media yang mengedepankan aspek lain dengan berasas pada khasanah puasa,tetap menampilkan acara pencerahan rohani, ya agar terbilang berbeda, ya saya suka yang memilih beda dan semua bersifat pencerahan,bukan teriakan dan lawakan yang jauh dari nuansa edukasi publik. Semua tentu menyadari, bahwa media sepatutnya memberikan edukasi yang baik kepada publik,namun faktanya, publik di seret masuk dalam satu ruang hampa, gelap dan fatamorgana. Lalu mereka di pacu adrenalin untuk tetap berkicau layaknya burung, di pandu lama sorak sorai dan semua bermutu dalam kegembiraan semu. Ironi semangat spiritualitas terkapling dalam sensor lembaga yang terkapitalisasi. Bila, hal ini terus terjadi,saya meyakini. Bulan puasa bukan lagi menjadi bulan yang penuh kekhusuan beribadah,tetapi akan menjadi bulan yang di mana, bulan pengumpulan pundi-pundi kekayaan bagi para kapitalis yang pandai bernetamorfosa dalam ruang sosail,agama dan budaya Masyarakat Indonesia. Semua berakhir dengan lelucon ter-rekayasa. "Epos" Salam.

kETAPANG 28 JULI 2013

ALTAR KESADARAN


ALTAR KESADARAN


Kepura-puraan warnai sikap yg lemah Politisi Indonesia
Rerumputan pun tertawa geli dari halaman Istana Negara

Entah siapa gerangan paduka yang mulia itu
Berdiri lemah di altar promosi jasa Berapa jam lamanya dia berpidato disana
Suaranya berapi-api,meniru kosep Bung Karno
Memaksa diri pula sebagai reinkarnasi Sang Juru Penyelamat
Suaranya mengetarkan jiwa pemuja harta
Ruang kampanye hari ini serupa doktrin Pelatihan Organisasi Mahasiswa

Di atas Altar Kesadaran dia menari riang
Sang Politikus tetap di elu-elukan
Para manusia modern kian menggila
Gila harta,gila gelar dan gila jabatan
Rakyat Indonesia,manusia penyabar
Manusia murah meriah harga dirinya
Indonesia belum merdeka
kesadaran kemanusiaan kita sungguh mati rasa
Kita kini menjadi makhluk konsumen
Kita sibukan diri menyuburkan usus dan cacing
Akal perubahan terkebiri sistem uang
Jiwa manusiawi Indonesia kronis pula
Generasi muda di hipnotis ide hedonisme
Ruang sekolah sepi dari semangat juang
Anak-anak kita mengingkari sejarahnya
Bangsa besar kita,dihina tanpa batas
Politisi menanam benih kesejahteraan palsu terus menerus
Wisata merakyat kini ramai di pasar loak
Parade mode elok,dari safari Ramadhan hingga open house demi rakyat
Bangsa Indonesia serupa bangsa feminim
Kampus benteng kesadaran manusia sepi rasa cinta tanah air
Sistem pendidikan kita,menyuburkan kaum penjajah
Berdalih,Modernisasi,Globalisasi,Internasisonal-ime
Oh,negara tak berjaya bersama rakyat
Satu haluan lain tujuan,itulah faktanya
Kita mudah marah,saling hujat,membunuh sesama saudara
Hukum rimba tumbuh subur dibiarkan
Gejolak sosial,di vonis makar
Sang Politisi tetap bersuara lantang 
Aku muak melihatmu tuan
Mulutmu berbusa lima tahun sekali
Dan aku bosan,sangat marah Tuan
Wajah palsumu dipajang di mana-mana
Sloganmu murah,miskin kata jujur tulus
Engkau tak segan mengeksploitasi agamamu
Tuhan serupa kawan sejawat yang mudah engkau ajak berkhutbah di Altarmu
Tuan,engkau serupa Arca di mataku
Sekali lagi Tuan,enyahlah dirimu
Pergilah engkau selami laut Banda
Di sana.Bung Hatta belajar kearifan
Di sana pula Bung Sjahrir belajar tentang Indonesia
Di sana pula,Tahanan Politik Kaum Komunis di rajam
Tuan,biarlah media dan rakyat mengerti kemunafikanmu
Dan untukmu Indonesia,raihlah kemerdekaan sejati
Merdekalah jiwamu tanpa basa-basi
Para politisi dan tikus selokan gedung mewah
Dan Untukmu Indonesia,ku tulis wasiat merdeka sejati padamu

Kamaruddin Salim
Ketapang Merdeka
25 Januari 2013
Pukul: 03-35 Wib