……ketika
sejuta kenangan di nobatkan menjadi sejarah, lantas di banggakan. Lalui cerita
satu persatu, kebanyakan dari hari kehari tetap di menumpuk. Kadang, diri
dibuat mekar menyerupai mawar merah dan anggrek biru. Jiwa dan emosi bergelora
dalam langit popularitas. Lupa andai jatuh dan kematian itu kapan saja ada
tanpa duga. Ini tampilan cerita sama-sama dari kemegahan masa lalu. Kini, semua
bangga pada sejarah-nya. Dan tentu, kehidupan tak sekedar berujung gila dalam
kebanggaan semu…(Kamaruddin Salim)
Senin, 30 Desember 2013
DI KALA SUBUH
Subuh sebentar lagi
Samar suara azan member tanda dari balik perkampungan
Laju kendaraan yang kutumpangi malam ini sangat cepat
Berpacu dengan waktu, seketika kami manjakan mata
Malam yang berlalu sama sekali, bukanlah penghalang
untuk suatu ketenangan
Lalu alur waktu terus beralih angka
Ragam salam dari kerabat dikhususkan buatku
Selamat ulang tahun kawan, semoga panjang umur dan
bahagia selalu
Petikan salam itu menyadarkanku, kini usiaku mulai
menua
Ya, ualng tahunku yang sama dihari yang berbeda
Kini, aku telah dewasa dan sedikit mengerti seninya
menjalani kehidupan
Tentu, kebahagiaan bentukan dari perasaan yang diam
Aku, bangga pada kehidupan dalam kuasa Tuhan Yang Esa
Keberadaanku di luangkan dari lalu menuju kemudian
Ruang kehidupan tentu setapak tak berujung
Sejenak ingatanku melukiskan wajah ayah yang mulai
samar-samar
Dialah sang guru kehidupan terbaikku
Aku meyakini, dia telah bersanda gurau diantara para
malaikat
Kemarin, ibunda menitip sebait nasihat yang indah
Anakku sayang,kami kan selalu hidup dalam getaran jiwamu
Kami tak sedikit jua bergeser dari semangat baktimu
Fajar mulai menyisir sisa-sisa kegelapan
Sebentar lagi Salatiga, menyambut hadirku
Hari mulai berubah situasi, dan aku tersenyum khusus
untukmu
Kehadiranku untuk membuktikan risalah sejarah hidup
Dan untuk kita kisah ini tertulis sudah
Kamaruddin Salim
Salatiga, Sabtu,21 Desember 2013
Pukul, 06.00. WIB
Minggu, 29 Desember 2013
21-12-2012 (ulang tahunku)
Jum’at
pagi ini..
21-12-2012,
berawal dari angkka 2
Matahari
perlahan menyapa alam
Riuh
kehidupan mengekspersikan wujudnya
Laju
waktu tentu tak berpaling mundur
21-12-2012,
ini momentum sejarah ego
Pribadiku
merasakannya
Bahagia
dari hari yang kembali terkenangkan
Ada
ragam salam dan do’a
Ada
pula sanjungan berbuah motivasi
Harapannya,
kali terakhir menyepi bagai sufi
Lusa,
aku akan katakan pada dunia, kini waktu telah berubah
Dan
aku akan menyertai sang kekasih demi mengukir kehidupan
Tak
semata hari ini, namun kedepan yang tak terjamah logika
UNAS,
21 Desember 2012
Pukul,
15.50 WIB
SEBAIT SAJAK
Bagai
hembusan angin sepi-sepi menyapa sunyi
Kelopak
bunga perlahan mengembang menyapa kupu-kupu beterbangan diantara taman
Udara
pagi menyelimuti sejuta umat yang terbaring kesenyapan
Bersama
hening pagi ku mengitari pekarangan yang kering dari kemarau
Tak
berapa lama hujan tak memanggilku dari kesejukannya
Ya,
dunia tak selamanya baik untuk di hayati
Sebaik
sajak yang ku tulispun tak selalu menyatu dalam harmoni kesehajaaan
Memang,
kegundahan hati tidak selalu buruk untuk di tuliskan
Ragam
keindahan di tafsirkan dalam kata yang suci
Sebentar
lagi pagi memaksa untuk berlari menembus batas ruang
Matahari
menyuguhkan kehidupan yang berulang-ulang
Dan
kita patut mensyukurinya
Dan
sebait sajak ini ku persembahkan untuk sang pencipta yang menghidupi alam
semesta
Karya:
kamaruddin Salim
UNAS
Jakarta, 4 September 2012
RUANG KELAS
Ruang
kelasku pagi ini
Ramai
dalam ruang baru yang tak dihayalkan sebelumnya
Sejarah
awal mengenal ilmu pengetahuan formal
Semangatku
beradu dalam semangat anak-anak se-usia
Aku
teramat bahagia kawan
Satu
persatu berbaris dalam kelompok kelas yang sudah lazim ada
Rasa
malu membaur antara ingin tahu dan tagisan
Semua
menyerupai dunia asing yang menghadirkan tanda tanya
Pintu
telah terbuka, seorang wanita separuh baya itu tersenyum manis
Dalam
sastra lisan nan lembut dia menyapa kami
Apa
kabar anak-anak? Kami berseru, baik ibu guru
Kehidupan
ditaklukan dalam semangat berkhayal yang tinggi
Gantungkan
cita-cita kalian setinggi langit, Sang Guru itu berkata
Ruang
kelas terasa asing bagi ku kawan
Hari
ini pula, aku merasa terpisah jauh dari pelukan sang bunda
Raung
baru yang menyedot rasa bosan menggila
Kamu
duduk sendiri bagai seorang tawanan perang
Seluruh
isi kepalamu bongkar perlahan
Paham
budaya hidupmu sama sekali tak berguna kawan
Ragam
ilmu pasti satu persatu menghantui akalmu
Telinga
dan matamumu di haruskan terus terjaga
Sang
Guru itu memperkenalkan diri, nama ibu, SALMA
Dia
serupa ibu tercintaku kawan, mereka sosok perempuan yang tangguh
Kelasku,
berbeda dengan ruang makan di rumah. Tidak ada meja makan dan perabot rumah
tangga
Kelasku
penuh perabotan yang pertama kali terlihat
Ada
replica tengkorak manusia, gambar para pahlawan dan juga peta Indonesia
Aku
mencintai kehidupan baruku kawan
Terima
kasihku padmu Sang Guru
Kamaruddin
Salim
UNAS,
11 Maret 2013
Pukul,
19. 45 WIB
RIWAYAT KEMATIAN
Dari
Cape Town menuju Somalia yang sekarat
Bangsa
kulit putih mengkapling tanah perkebunan atas nama moderniasi
Berabad-abad
dalam dahaga yang menggila
Oh,
bumi Afrika kaya raya, disihir jadi bangsa pengemis
Riwayat
kematian menggema seantero bumi dalam program pengentasan kemiskinan
Afrika
kehilangan peradaban kebangsaan, kini larut dalam derita nestapa
Mereka
bukanlah pribumi yang bebas merdeka layaknya bangsa Barat
yang
maju ekonomi dan mempunyai hak veto di PBB
Potret
nestapa nasip tuan tanah melarat di tanah airnya sendiri
Mengisyaratkan
kita pada nasehat Sutan Takdir, tuan tanah akan menjadi paria di bangsanya
sendiri
Kawan,
bangsa Afrika serupa binatang langka
melawan kepunahan
Kawan,
lihatlah penderitaan mereka, tentu kita hanya larut dalam duka
Tak
layak diungkapkan dalam kata, setidaknya kita masih mempunyai rasa
Negara
terkebelakang itulah buah karya dunia Barat untuk Afrika, Asia dan Amerika
Latin
Kawan,
tak ada keinginan menyeret jiwamu masuk oase Benua Afrika
Aku,
tak ubahnya para kritikus sastra yang menyoal ketidakadilan
Tak
ada harapan meraih pusaka nobel dan sanjungan sang maestro
Kawan,
paham rasialisme tumbuh subur antara kulit hitam dan putih
Setidaknya
Mandela dan Kadafi membuka pustaka baru dalam sejarah dunia
Diskriminasi
adalah prinsip haram perlu di basmi dalam ruang politik global
Di
mana, perang saudara demi segelas air susu dan hak suara di parlemen
dipertaruhkan
Kawan,
KTT Non Blok kehilangan ruh dari semangat rasa bersatu
Ya,
Soekarno, Bhutto, Jinnah, Nasser dan Nehru kehilangan suara di bumi Asia-Afrika
Semangat
mereka menyatu dengan Mumi Fir’aun yang melawan kuasa Tuhan
Kawan,
sejarah kita dan Afrika setali mata uang kemiskinan
Merdekalah
jiwa-jiwa yang damai
Selamat
Jalan Mandela
Kamaruddin
Salim
15
Desember 2013
Pukul:
12.30. WIB
Senin, 16 Desember 2013
SEMANGAT BUDAYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
SEMANGAT BUDAYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
Oleh: Kamaruddin Salim
Menulis kisah pribadi ataupun pokok-pokok pemikiran Sutan Takdir AliSjahbana,
berkaitan dengan budaya, filsafat maupun Antropologi tidaklah cukup.
Karena semasa hidupnya STA telah banyak melahirkan karya saStra, budaya
serta istilah bahasa Indonesia. Sang Pujangga ini menuai banyak
perdebatan kritis dan kritik sampai saat ini. Namun, sumbangan utamanya sebetulnya bukan hanya dalam
bidang sastra, melainkan dalam bidang bahasa dan kebudayaan. Ia
memodernisasikan bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional
negara modern yang merdeka yang ikut mempersatukan Nusantara. Bahkan Prof. Dr, Frans Magnis Suseno, mengaku banyak mendapat inspirasi dari STA.
Dari
sekian banyak hasil karyanya STA menjadi seorang sosok sastrawan
tangguh yang mampu menggeser masa Tradisional menuju zaman modern. Zaman
yang dimana semua manusia mengandalkan akal dan pemikirannya untuk
berkarya serta berkreatifitas demi masa depan. STA sendiri menginginkan
bangsanya agar selalu belajar dari Negara lain. Disamping itu STA
sendiri bukanlah seorang relativis atau seorang skeptis. Sesungguhnya
sesorang rasionalis dapat menjadi skptisis, hal ini terbukti dimana STA
berani berpolemik dengan sekian banyak tokoh dan sastrawan di nagara
ini.
Hal
itu berkaitan dengan prinsip STA tentang semangat untuk bangkit dari
keterpurukan, bangsa Indonesia perlu belajar dari bangsa barat. Apa yang
terlontar dari perkataan STA tak hanya sebatas guyonan semata. Tetapi
di buktikan dengan hasil yang praktis dan objektif. Karena kondisi yang
pragmatis perlu di dorong dengan semangat baru yang revolusioner serta
prinsip yang kritis. Pembuktian STA tak hanya sebatas melahirkan karya
maupun mengikuti seminar Filsafat atau budaya di luar negeri tetapi STA
mampu mewujudkan perkataannya itu dengan mendirikan Yayasan memajukan
Ilmu dan Kebudayaan, dulunya dikenal dengan nama PMIK (Perkoempoelan Memadjoekan Ilmoe dan Koeboedajaan )dan Kampus Universitas Nasional Jakarta. Yang pada perkembangannya masih berjalan hingga sekarang.
STA juga adalah seorang pencetus Polemik Kebudayaan yang menjadi pembicaraan hangat pada tahun 1930-an. Melalui Polemik Kebudayaan STA
berusaha menemukan jati diri bangsa dan membimbing pembentukan
kebudayaan baru, yang dapat menjadi pemersatu penduduk Nusantara. Karena
dari polemik kebudayaan tersebut mengundang banyak perdebatan kritis
dalam bidang kebudayaan dan filsafat. Perdebatan kritis tentang
kebudayaan baru tersebut mendorong STA semangat untuk memajukan kebudayaan Indonesia. Namun demikian pribadi STA tetap menjadi sosok yang
demokrat yang tidak hanya memancing pandangan yang berbeda-beda, tetapi
juga menyediakan wadah untuk mengekspresikannya melalui majalah
Pudjangga Baru.
Sejarah telah membuktikan bahwa sepanjang hidupnya, STA tidak pernah berhenti dalam menyampaikan pandangannya mengenai masyarakat dan kebudayaan.
Keseriusan STA untuk memajukan kebudayaan dan masyarakat tersebut
merupakan visi utama STA. pada proses realisasi gagasan serta
pemikirannya. Ketika tahun 1969, STA diangkat sebagai ketua Akademi Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin. Dengan pengangkatan dirinya sebagai ketua
DKJ, STA mengajak para seniman dan sastrawan untuk melakukan kegiatan
yang bertujuan untuk memajukan kebudayaan Indonesia selain itu STA
juga mendirikan Balai Seni di Desa Truyan dekat danau Toyabungkah,Bali,
sebagai bentuk keseriusannya membangun kebudayaan Indonesia.
Keseriusan STA membangkitkan semangat kebudayaan Indonesia Baru tercermin dari ucapannya; Wahai
apabila datang masanya kebudayaan Indonesia tumbuh rimbun dan dashyat
sebagai pohon beringin. Beribu akarnya menyalami bumi dan dibawah
lindungannya bangsa Indonesia hidup jaya dan bahagia. Pemaknaan
dari apa yang di sampaikan STA tersebut adalah Cita-cita STA untuk
melihat perkembangan Indonesia kearah yang lebih maju. Dimana STA
melihat bahwa keperluan dunia terhadap perubahan adalah bukan lagi
kembali pada masa lampau, tetapi lebih terfokus pada masa yang akan
datang. Karena dunia menyimpan unsur-unsur baru dan membung unsur-unsur
lama. Unsure-unsur baru tersebut adalah sifat kemoderenan.
Pengecapan
STA lebih kebarat-baratan adalah satu sikap yang keliru, sebab
keinginan STA untuk Bangsa Indonesia agar belajar ke Barat bukan berarti
secara pribadi STA berubah wujud menjadi orang barat. Karena sampai
akhir hayatnya STA tetap menjadi sosok Sastrawan yang lebih mencintai
Indonesia. Walaupun pada masa Orde baru STA sempat terkatung-katung
hidupnya karena di kucilkan pemerintah sehingga mengasingkan dieinya Ke
Malaysia dan beberapa Negara lain. Tetapi kecintaan terhadap Indonesia
tidak perlu di ragukan.
Banyak
hal yang membuktikan rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi. Semenjak menjadi
Rektor Universitas Nasional Jakarta, STA menunjukkan kecintaannya
terhadap Indonesia. Lewat Unas, STA memposisikan Kampus ini sebagai
barometer perjuangan serta menyediakan pendidikan murah untuk masyarakat
yang tidak mampu. Disamping itu, STA pernah bercita-cita untuk
menyekolahkan sebanyak mungkin putra Indonesia ke luar negeri. Namun hal
itu belum terterealisasi sepenuhnya sampai akhir hayatnya pada
Minggu, 17 Juli 1994, pada pukul 6.45 WIB, di Rumah Sakit Jantung
Harapan Kita Jakarta, STA meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Keseriusan STA untuk membangun kebudayaan baru tersebut, mendorong kita untuk tetap menjadi generasi Dian Tak Pernah Kunjung Padam kedepan. Selamat jalan Sang Pahlawan Kebudayaan!!!
Langganan:
Postingan (Atom)





