Laman

Jumat, 13 Mei 2016

PEMIKIRAN NICCOLO MACHIAVELLI

KRITICAL REVIEW
SELURUH BUKU SANG PENGUASA
NICCOLO MACHIAVELLI
A.                PENDAHULUAN
Machiavelli hidup dalam suatu tradisi kekuasaan yang telah mengalami pendobrakan legitimasi religius. Selubung gaib yang selama berabad-abad menutup wajah raja sebagai manusia biasa menjadi wajah dewa atau wakil dari dunia gaib, telah terkuak dan wajah penguasa menjadi wajah seorang manusia biasa kembali. Machiavelli mewarisi paham kekuasaan dari tradisi agama Yahudi-Kristen yang menolak identifikasi penguasa dari wilayah Illahi dan menempatkannya dalam tata tertib kehidupan manusia biasa, yang tunduk pada kehendak Tuhan, dan dapt dikritik serta meminta pertanggungjawaban dari segi moralitas. Dan dari tradisi kekristenan berlaku sikap dasar terhadap segala kekuasaan duniawi, yakni bahwa manusia harus lebih taat kepada Allah (menurut tuntutan hati nuraninya) daripada kepada manusia.
Machiavelli memainkan peranan sebagai politikus, pentas kekuasaan yang yang dinaikinya sudah dibersihkan dari legitimasi religius dan tinggal legitimasi moral yang dihadapinya. Dia tidak mengira bahwa filsafat politik yang ditulis pada bukunya Sang Penguasa  merupakan suatu pendobrakan terhadap legitimasi moral, sehingga wajah seorang yang bersih, suci, murni, sopan dan feminism, tetapi wajah penguasa yang licik, kotor, berdaeah dan garang seperti layaknya wajah manusia yang penuh ambisi, yang senantiasa gelisah dan resah sampai seluruh ambisinya terwujud menjadi kenayataan.
Pada masa pemerintahan Lorenzo Agung (1464-1492). Niccolo Machiavelli lahir (1469-1527) dan dibesarkan dalam keluarga ayahnya yang ahli hukum dan kaya. Ayahnya membantu Machiavelli untuk menikmati pendidikan yang terbaik pada waktu itu di Florence. Ayahnya sebagai ahli hukum pemerintah dan bekerja di kantor pajak. Ayahnya menginginkan dirinya menjadi teknokrat. Sedangkan ibunya menginginkan Machiavelli menjadi imam atau rohaniawan. Akan tetapi Machiavelli sendiri menjadi seorang politikus dengan ide-ide yang kongkret, praktis, dan peka terhadapat prioritas-prioritas tindakan.
Machiavelli menangkap dan memahami realitas politik bertolak dari rangkaian aksi bangsa-bangsa yang diwarnai dengan kepentingan masing-masing bangsa. Interaksi hubungan internasional membawa Machiavelli ke pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia menurut pengalamannya. Machiavelli dalam bukunya Sang Penguasa, diperlihatkan pilihan utaman profesi Machiavelli, yakni seorang politikus praktis yang berminat pada tindakan nyata dengan pedoman-pedoman operasional yang langsung dapat diterapkan secara spontan karena sense of urgency (desakan keadaan) memaksa politikus u(desakan keadaan) memaksa politikus untuk memperhatitikan dan mengutamakan urutan prioritas tindakan-tindakannya. Dan justru karena saran-saran kongkret yang ditawarkan kepada penguasa untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjang sebuah negara yang pad umumnya diminati golongan moralis dapat diamankan. Di sini jelas kelihatan watak kenegarawan Machiavelli, dan sekaligus seorang filsuf politik yang ulung dalam barisan filsuf politik dunia saat ini.
B.                 SURAT DARI NICOLO MACHIAVELLI KEPADA YANG MULIA LORENZO DE’MEDICI
Sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang ingin mengambil hati seorang Penguasa untuk menghadapi penguasa tersebut dengan membawa barang milik mereka yang paling berharga, atau membawa barang-barang yang mereka ketahui akan membuat sang Penguasa berkenaan di hati. Karenanya kita berap kali menyaksiakan para Penguasa menerima persembahan kuda, senjata, busana dari emas, intan permata, dan perhiasan-perhiasan semacam itu yang sangat cocok bagi keluhuran kedudukan seorang  Penguasa. Sekarang hamba ingin mempersembahkan diri hamba sendiri kepada Yang Mulia dengan membawa beberapa tanda  kesetiaan  dan hormat hamba kepada yang Mulia. Tetapi hamba tidak dapat menemukan milik yang sangat hamba cinta dan yang sangat hamba hargai selain pengetahuan hamba tentang karya-karya orang besar, yang hamba peroleh setelah lama mempelajari masalah- masalah zaman sekarang dan juga menekuni dunia masa silam. Lama masalah- masalah ini hamba pelajari dan renungkan dengan penuh ketekunan, dan kini setelah dirangkum dalam sebuah buku kecil, hamba persembahkan ke hadapan Paduka.
Walaupun saya berbeda pendapat bahwa karya-karya saya ini tidak pantas dipersembahkan ke hadapan Paduka, namun, saya yakin sepenuhnya bahwa Paduka akan berkenaan menerimanya, karena saya tidak dapat mempersembahkan pemberian yang lebih berharga selain ini yang dapat membantu Paduka dalam waktu singkat memahami segala sesuatu yang telah bertahun-tahun saya pelajari dan saya pahami dengan penuh penderitaan dan bahaya. Saya memang tidak menghiasi buku ini dengan kata-kata yang memukau, atau dengan kalimat –kalimat yang memikat, atau hiasan yang berlebihan seperti yang biasa digunakan banyak penulis dalam menguraikan atau menghias karya-karya yang mereka hasilkan. Saya tidak ingin buku ini dipandang istimewa, atau dianggap berkenan semata-mata karena keanekaragaman isinya dan pentingnya masalah yang dibahas. Saya yang berasal dari kalangan rendah kedudukan sosialnya, tidak ingin dianggap terlalu lancang membicarakan dan memberikan petunjuk bagaimana para raja harus memerintah, karena seperti orang-orang yang sedang melukis pemandangan, mereka akan duduk disuatu lembah untuk meneliti ciri-ciri gunung dan tanah-tanah yang berada di tempat yang tinggi, dan untuk meneliti lembah-lembah mereka akan mendaki gunung demikian juga, untuk dapat memahami sepenuhnya sifat dan ciri rakyat, orang harus menjadi raja, dan untuk memahami sepenuhnya ciri dan sifat raja-raja, orang harus menjadi seorang warga Negara biasa.
Karena itu, Paduka Yang Mulia, ambillah persembahan kecil ini sesuai dengan maksud buku ini saya persembahkan; dan jika Paduka membaca dan merenungkannya dengan tekun, Paduka akan menemukan dalam tulisa ini keinginan saya yang membara agar Paduka mencapai puncak kemuliaan yang datang dari kekayaan dan karya agung Paduka. Dan bila Paduka Yang Mulia berkenaan memandang ke bawah dari tahta Paduka, Paduka akan melihat betapa besar kemalangan yang telah saya derita meskipun tidak saya harapkan karena kekejaman nasib ini.
I.                   Berbagai Macam Kerajaan dan Cara Menegakkannya
Semua negara dan wilayah kekuasaan tempat umat manusia bernaung berbentuk suatu Negara republik atau suatu kerajaan. Kerajaan dapat berupa kerajaan karena warisan turun-temurun, dengan wangsa raja yang sudah lama memerintah sebagai penguasa, atau dapat pula berupa kerajaan baru. Kerajaan baru itu sendiri dapat berbentuk kerajaan yang baru sama sekali. Seperti kerajaan Milan.
II.                 Kerajaan Warisan
 Kerajaan warisan yang bersifat turun-temurun, kesulitan-kesulitan yang dihadapi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi kerajaan-kerajaan baru. Karena bagi kerajaan-kerajaan warisan sudah cukup kalau tidak melalaikan lembaga-lembaga yang didirikan oleh nenek moyangnya dan kemudian menyesuaikan kebijaksanaan dengan situasi yang ada. Selama raja yang sah tidak melakukan hal-hal yang tidak mengobarkan rasa benci pada rakyat karena tindakannya yang benar-benar  jahat, sudah selayaknya rakyat dengan sendirinya tunduk kepadanya.
III.             Kerajaan Gabungan
Dalam kerajaan baru justru muncul kesulitan-kesulitan. Pertama, karena rakyat dengan senang hati mengganti penguasanya dengan harapan mereka dapat hidup lebih baik, tetapi mereka terkecoh sendiri sebagaimana mereka alami kemudian, dan kehidupan mereka semakin parah. Ini wajar karena raja baru terpaksa menimpakan beban kepada mereka yang memaksa rakyat tunduk pada pasukan raja. Dengan demikian raja akan dimusuhi rakyat yang telah merelakan daerahnya, tidak ada persahabatan dengan rakyat yang telah membantu raja, sementara raja berhutang kepadanya. Tetapi kalau orang menguasai daerah-daerah yang berbeda bahasa, adat-istiadat, dan hukum, sangat besarlah kesulitan yang harus dihadapi. Salah satu cara terbaik untuk berhasil menguasainya adalah pertama penguasa baru harus tinggal di daerah tersebut. Dengan ada di tempat, kerusuhan akan mudah diketahui dan dapat dicegah dengan cepat, kedua mendirikan koloni-koloni di salah satu wilayah tersebut yang seolah-olah kunci wilayah itu. Kalau tidak raja akan menguras biaya yang tinggi untuk menempatan sejumlah pasukan. Ketiga penguasa wilayah asing tersebut haruslah menjadi pemimpin dan pembela negara-negara tetangganya yang lemah, dan berusaha memperlemah negara-negara yang kuat dan menjaga mereka agar tidak diserbu oleh negara asing yang tidak kalah kekuatannya.
IV.             Mengapa Kerajaan Darius yang Ditaklukan Alexander Tidak Memberontak terhadap Para Penggantinya Setelah Kematiannya.
Jawabannya bahwa semua kerajaan yang diatur oleh seorang raja yang ditaati oleh semua penduduk dan para menterinya, dengan direstui dan atas persetujuannya, membantu memerintah, atau diatur oleh seorang raja dan para bangsawan yang tinggi rendah kedudukan mereka tidak ditentukan oleh persetujuan raja tetapi oleh garis keturunan mereka yang sudah lama ada.


V.                Bagaimana Kota atau Kerajaan yang Menjalankan hukum Mereka Sendiri Harus Diperintah Sesudah Ditaklukan
Jika negara yang baru saja direbut terbiasa hidup bebas dan mengikuti hukum mereka sendiri, ada tiga cara untuk memerintahnya secara aman. Pertama, dengan menghancurkannya, kedua, dengan secara pribadi bermukim di negara tersebut, ketiga, dengan mendirikan suatu oligarki yang akan menjamin negara tersebut tetap bersahabat dengan Anda. Tetapi kalau kota ataupun wilayah tersebut sudah terbiasa diperintah oleh raja , dan kalau keluarga raja ini ditumpas, karena di satu pihak mereka terbiasa patuh, dan di lain pihak mereka kehilangan raja mereka yang terdahulu dan mereka juga tidak tahu bagaimana mereka harus hidup tanpa seorang raja. Untuk itu seorang raja akan menundukkan mereka dengan mudah dan mengokohkan kedudukan dengan aman. Jika situasi di negara yang dikuasai lebih besar nafsunya untuk membalas dendam, cara terbaik adalah dengan mengenyahkan mereka.
VI.             Wilayah-wilayah Baru yang Direbut dengan Kekuatan Senjata dan Kemampuan Sendiri
Dalam negara-negara yang baru sama sekali, rajanya pun baru, besar kecilnya kesulitan yang dihadapi tergantung pada mampu tidaknya raja tersebut memerintah. Seseorang yang menjadi penguasa karena kekuatan sendiri dengan susah payah akan mudah mempertahankannya. Kesulitan yang mereka hadapi adalah dalam hal memberlakukan adat kebiasaan dan hukum baru dalam mendirikan negara dan mengamankan kedudukan mereka. Segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik sehingga kalau rakyat tidak lagi mau percaya, maka mereka dapat dipaksa untuk percaya.
VII.          Wilayah-wilayah Baru yang Direbut karena Nasib Mujur atau karena Bantuan Pasukan Asing
Penduduk biasa yang menjadi penguasa hanya karena nasib mujur tanpa mengalami kesulitan apa pun untuk naik jenjang. Besar kecil kesulitan akan dihadapi dalam mempertahankan kekuasaannya. Orang semacam ini sangat tergantung pada mereka yang telah membantu mereka menjadi penguasa, dan pada nasib mujur. Kedua hal tersebut bukan pegangan yang kuat dan bersifat goyah. Mereka tidak tahu bagaimana mereka harus mempertahankan kedudukan mereka. Untuk itu seharusnya orang yang berbakat besar yang dapat mempertahankan tugas yang diserahkan kepadanya oleh nasib mujur, dan kemudian meletakkan dasar-dasar yang dilakukan oleh semua orang sebelum menjadi penguasa. Bagi seorang penguasa baru tidak ada contoh yang lebih meyakinkan daripada contoh-contoh yang telah diberikan oleh sang pangeran, antara lain, bagaimana ia bertindak dan memandang perlu untuk mengamankan dirinya sendiri terhadap musuh-musuhnya, menjalin persahabatan, menaklukan entah melalui kekerasan atau tipu muslihat, menjadikan dirinya sendiri dicintai dan ditakuti oleh rakyat, ditaati dan disegani oleh para serdadunya, bagaimana dia bertekad untuk menghancurkan orang-orang yang dapat dan hendak merugikannya, memperbaiki adat-istiadat, bertindak kejam tetapi dicintai rakyat, bertindak dengan kebesaran hati, dan bagaimana ia memutuskan untuk menghancurkan pasukan-pasukan yang tidak setia dan menciptakan suatu pasukan yang terpercaya.
VIII.       Mereka Yang Berkuasa Dengan Jalan Kekejaman
Kalau mau merebut suatu negara, penguasa baru haruslah menentukan berat penderitaan yang ia anggap perlu dibebankan pada rakyat. Ia harus menimpakan penderitaan itu hanya untuk sekali, dan jangan mengulang-ulang penderitaan itu setiap hari. Dengan cara itu rakyat akan senang dan akan menarik simpati mereka kepadanya. Kekerasan harus dilakukan sekali saja, rakyat akan segera melupakannya dan tidak akan menentang lagi. Perlahan-lahan raja harus menunjukkan kebaikan kepada rakyatnya dan rakyat akan mengalami masa yang lebih baik.
IX.             Kekuasaan Konstitusional
Seorang rakyat biasa yang menjadi penguasa tanpa dengan jalan kejahatan ataupun kekejaman, tetapi karena jasa baik sesama rakyat, kita sebut dengan suatu kekuasaan konstitusional. Kedudukan ini dapat dicapai dengan dukungan rakyat atau golongan bangsawan.. Tetapi seorang penguasa harus hidup bersama dengan rakyat daripada dengan bangsawan.Harus diingat sehubungan dengan para bangsawan ini, yaitu mereka harus diperintah sedemikian rupa sehingga mereka sama seklai tergantung pada kekuasaan Anda.
X.                Bagaimana Mengukur Kekuatan Negara
Menurut pendapat Machiavelli, raja yang dapat berdiri sendiri adalah mereka yang mempunyai pasukan yang cukup besar atau mempunyai uang untuk menghimpun suatu  angkatan perang yang mampu menghadapi setiap serbuan dan tidak usah khawatir akan negara-negara yang ada di sekelilingnya. Kalau kota sudah diperkokoh dengan baik, pemerintahan diatur menurut cara yang sudah dikemukakan, maka musuh akan sangat berhati-hati untuk menyerangnya.
XI.             Negara Gereja
Negara-negara tersebut dikelola oleh lembaga-lembaga religius, yang sedemikian kuat dan berwibawa, sehingga mereka tetap mempertahankan penguasa memegang kekuasaan tanpa memperdulikan sikap dan cara hidup raja tersebut. Wilayah kekuasaan mereka, tidak akan direbut dari tangan mereka, dan rakyat tidak menolaknya, bahkan tidak terpikirkan oleh rakyat untuk menggulingkan penguasa, karena negara-negara terebut dikelola oleh kekuatan-kekuatan yang lebih luhur yang tak terjangkau oleh akal budi manusia.
XII.          Organisasi Militer Dan Pasukan Tentara Bayaran
Cara yang digunakan kerajaan-kerajaan ini dalam mengatur diri entah untuk menyerang atau untuk mempertahankan diri harus dibangun oleh landasan-landasan yang kuat, antara lain hukum dan pasukan yang baik; bisa angkatan perang sendiri, pasukan bayaran, atau pasukan bantuan, atau gabungan dari berbagai pasukan-pasukan tersebut. Kalu raja mengandalkan pertahanannya pada tentara bayaran, ketengangan dan keamanan tak pernah akan dicapainya, karena mereka sukar untuk dipersatukan, haus akan kekuasaan, tidak disiplin, dan tidak setia. Machiavelli ingin mengutarakan betapa menyedihkan kalau orang menggunakan pasukan bayaran, tetapi meskipun demikian haruslah pasukan itu dipimpin oleh seorang raja sebagai panglima perangnya.
XIII.       Pasukan Bantuan, Pasukan Gabungan , dan Pasukan Rakyat
Kalau orang meminta negara tetangga untuk mebantu dan mempertahankan negara dengan pasukannya, pasukan itu disebut pasukan bantuan dan pasukan ini sama tidak bergunanya seperti tentara bayaran. Karena itu, barang siapa tidak menginginkan suatu kemenangan militer baiklah kalau meminta bantuan dari pasukan semacam ini, karena pasukan ini jauh lebih berbahaya daripada pasukan bayaran. Pasukan bantuan sungguh fatal. Mereka merupakan pasukan terpadu, taat sepenuhnya pada perintah. Sebaliknya pasukan bayaran membutuhkan waktu lebih banyak dan peluang merugikan Anda. Karena itu, raja yang bijaksana selau menghindari pasukan bantuan dan menggunakan pasukan tentaranya sendiri. Mereka lebih suka kalah perang dengan pasukannya sendiri daripada menang dengan bantuan orang lain, karena yakin tidak ada kemenagan sejati dapat dicapai dengan pasukan asing. Pasukan sendiri adalah pasukan yang terdiri dari rakyat atau warga negara atau orang-orang yang dikuasainya.
XIV.       Kewajiban Raja terhadap Angkatan Perang
Raja hendaknya tidak mempunyai sasaran ataupun kesibukan lain, kecuali mempelajari perang, organisasi dan disiplinnya, karena itulah satu-satunya seni yang dibutuhkan seorang pemimpin. Sebaliknya, orang menyadari bahwa kalau raja-raja lebih mementingkan kemewahan hidup daripada senjata, negara akan hancur. Melalaikan seni perang merupakan cara untuk menghancurkan negara, sedangkan trampil dalam seni perang merupakan cara untuk mempertahankan negara. Seorang raja yang bijaksana harus memperhatikan ini. Ia tidak boleh santai pada masa damai, sebab kalau keberuntungan berubah, ia sudah siap untuk mengatasi kesulitan itu.
XV.          Hal-hal yang Dapat Menyebabkan Orang, Khususnya Para Raja, Terpuji atau Terkutuk
Kini tinggallah kita memikirkan bagaimana seorang raja harus bersikap terhadap bawahan dan sahabat-sahabatnya. Saya tahu orang akan setuju bahwa akan terpuji bila dalam diri seorang raja terdapat semua sikap yang dipandang baik. Tetapi karena semua sikap itu tidak dapat dimiliki dan dipenuhi, mengingat kodrat manusia, maka seorang raja harus cukup bijaksana untuk menghindari skandal sehubungan dengan keburukan-keburukan prilaku seperi sombong, santai, bobrok moralnya, suka menipu, keras kepala, dsb yang akan menghancurkan negara. Namun ia tidak boleh takut sedikitpun menghadapi tuduhan melakukan kejahatan, kalau kejahatan itu perlu dilakukan demi keselamatan negara.
XVI.       Kemurahan Hati dan Penghematan
Jika Anda ingin memperoleh nama baik karena kemurahan hati, Anda harus secara mencolok bertindak boros. Raja yang bertindak demikian akan segera menghabiskan hartanya. Akhirnya ia dengan terpaksa menarik pajak yang berat dan melakukan segala cara hanya supaya dapat meperoleh uang. Kalau ia menyadari hal ini dan mencoba menelusuri jalan yang benar, ia segera akan dicap sebagai seorang yang kikir. Karena itu raja tidak perlu bertindak murah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali ia mau mempertaruhkan dirinya.Jika ia bijaksana, ia tidak akan berkeberatan dianggap sebagai orang yang sebetulnya murah hati, karena menyadari bahwa dengan menghemat pendapatan yang ada, ia dapat mempertahankan diri dari penyerbu/musuh, dan ia dapat melakukan perlawanan tanpa membebani rakyat.
XVII.   Sikap Kejam dan Penuh Belas Kasih; dan Apakah Lebih Baik Dicintai daripada Ditakuti, atau Sebaliknya
Dari sifat yang saya sebutkan di atas, saya utarakan bahwa seorang raja tentu ingin dihormati karena sikap penuh belas kasih daripada bersikap kejam. Namun ia harus bersikap waspada supaya ia tidak menggunakan secara salah sikap penuh belas kasihnya. Karena itu, seorang raja tidak perlu khawatir terhadap kecaman yang ditimbulkan karena kekejamannya selama ia mempersatukan dan menjadikan rakyat setia. Untuk itu, sebaiknya raja dicintai atau ditakuti. Tetapi karena sulit untuk mempertemukannya, jauh lebih baik ditakuti daripada dicintai Jika tidak dapat memperoleh keduanya, Anda harus berusaha untuk menghindari diri dibenci.


XVIII. Bagaimana Raja Harus Setia Memegang Janji
Para raja yang telah berhasil melakukan hal-hal yang besar adalah mereka yang menganggap mudah atas janji-janji mereka. Mereka yang tahu bagaimana memperdayakan orang dengan kelihaiannya dan akhirnya menang terhadap mereka yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran. Ada dua cara berjuang yaitu melalui hukum (merupakan cara yang wajar bagi manusia) atau melalui kekerasan (cara bagi binatang). Seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara manusia dan binatang. Hal ini dimaksudkan raja tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu.
XIX.       Bagaimana Menghindari Aib dan Kebencian
Raja harus menghindari hal-hal yang akan membuatnya dibenci atau direndahkan, dan kalau ia berhasil, ia sudah melakukan kewajibannya dengan baik, dan tidak akan mengalami bahaya, meskipun ia melakukan kejahatan-kejahatan lainnya. Ada hal yang harus ditahuti oleh raja, subversi dari dalam di antara para bawahannya dan serangan dari luar oleh kekuatan asing. Mengenai yang pertama, perlu diingat bahwa orang yang dibenci karena perbuatan baik atau perbuatan jahat, sehingga seorang raja yang ingin mempertahankan pemerintahannya kerap kali terpaksa untuk tidak bertindak baik, karena perbuatan baik merupakan musuh Anda. Untuk masalah yang kedua ini, pertahanannya terletak pada persenjataan lengkap dan sekutu yang baik.
XX.          Apakah Benteng Perlindungan dan Banyak Hal Lain yang Kerap Kali Dibangun Raja Berguna atau Merugikan
Dalam usaha mempertahankan wilayah kekuasaan, para raja biasanya membangun benteng, yang berfungsi untuk menumpas mereka yang merencanakan pemberontan melawan raja, dan sebagai tempat perlindungan yang aman terhadap serangan mendadak. Namun demikian benteng yang terbaik yang perlu dibangun adalah untuk menghindari jangan sampai dibenci rakyat. Kalau pun raja membangun benteng, tetapi rakyat benci kepadanya, benteng tidak akan menyelamatkan raja, dan saya mengecam raja yang mengandalkan benteng-bentengnya, tetapi tidak peduli bahwa dirinya dibenci oleh rakyatnya.
XXI.       Bagaimana Seorang Raja Harus Bertindak untuk Tetap Disegani Rakyat
Tak ada hal yang lebih baik mendatangkan pujian bagi seorang raja daripada menunjukkan kemampuan pribadi dan keahliannya dalam berperang dan memimpin pasukan. Seorang raja jangan pernah masuk persekutuan yang agresif dengan seseorang yang lebih kuat daripada dirinya sendiri, kecuali kalau terpaksa, karena jika Anda menang, Anda akan menjadi tawanan sekutu Anda. Seorang raja harus menunjukkan penghargaannya terhadap bakat, secara aktif mendorong orang-orang berbakat, dan memberi penghargaan kepada seniman terkemuka. Dengan demikian ia harus mendorong rakyat melakukan tugasnya dengan tenang.
XXII. Para Menteri Raja
Kesan pertama kali mengenai raja dan kebijaksanaannya ialah kalau orang melihat orang-orang yang ada disekelilingnya. Kalau mereka cakap dan setia, raja akan selalu dipandang bijaksana, tetapi sebaliknya, raja akan mudah dikecam karena kesalahan yang dilakukan oleh para menteri yang dipilihnya. Untuk itu para menteri yang baik adalah yang tidak memikirkan dirinya sendiri.
XXIII. Para Penjilat Harus Disingkirkan
Suatu masalah yang penting di sini adalah jika raja tidak cukup bijaksana atau kalau raja tidak memilih para menterinya dengan baik. Yang dimaksudkan di sini adalah para penjilat, yang memenuhi istana, orang yang suka mengursi diri sendiri dan senag menutupi dirinya sendiri. Karena itu, seorang raja yang pintar akan menggunakan jalan tengah, memilih orang-orang bijaksana untuk mengurusi pemerintahan dengan baik.
XXIV. Mengapa Raja-raja Italia Kehilangan Negara Mereka
Kalau kita tengok raja-raja Italia, seperti Raja Napels, Pangeran Milan, dsb, yang telah kehilangan negaranya pada zaman kita ini, kita akan melihat bahwa mereka semua memiliki kelemahan yang sama dalam hal pengaturan angkatan perang mereka. Untuk itu satu-satunya pertahanan yang baik, pasti, dan langgeng adalah pertahanan yang didasarkan atas tindakan dan kesatriaan Anda sendiri.
XXVSejauhmana Keberuntungan Menguasai Hidup Manusia dan Bagaimana Melawan Keberuntungan Tersebut
Saya bukannya tidak sadar bahwa banyak orang dahulu dan sekarang berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa dikendalikan oleh nasib mujur dan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga kebijaksanaan manusia tidak dapat mengubahnya. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya bekerja keras, tetapi orang harus menyerah pada kekuasaan nasib. Namun saya berpendapat bahwa benar nasib mujur menguasai separuh dari perbuatan-perbuatan kita, tetapi separuh tindakan lainnya dibiarkan untuk kita atur sendiri.
XXVI. Saran untuk Membebaskan Italia dari Bangsa Barbar
Dalam situasi dewasa ini untuk memilih raja Italia yang baru, mungkinkah bagi seorang yaag bijaksana dan cakap untuk memperkenalkan sistem baru yang akan mendatangkan kemakmuran bagi Italia yang telah tercabik-cabik. Untuk itu keberanian angkatan perang Italia yang sudah padam harus dibangun dengan organisasi yang baru dengan dilandasi itikad baik dan berjiwa besar. Karena itu, kalau mengikuti jejak orang-orang besar yang menyelamatkan negara mereka, pertama-tama sangat penting menghimpun pasukan sendiri. Karena tidak ada pasukan yang lebih setia, lebih sejati, dan lebih baik daripada pasukan sendiri. Hal-hal semacam ini kalau diperkenalkan akan mendatangkan keagungan dan kehormatan bagi seorang raja baru.
C.                 BUKTI MACHIAVELLLI DAINGGAP SEBAGAI GURU KEJAHATAN DAN MACHIAVELLI BUKAN SEBAGAI GURU KEJAHATAN
A.  Siapapun orang yang memperoleh kekuasaan atas wilayah-wilayah dan ingin mempertahankan kekuasaan atas wilayah tersebut harus memperhitungkan dua hal: pertama, keluarga wangsa raja yang lama harus ditumpas habis; kedua, jangan membuat perubahan-perubahan entah dalam hukum maupun sistem perpajakan mereka. Dengan jalan ini, dalam waktu yang singkat mereka akan dipersatukan kembali dengan negara mereka yang lama membentuk satu negara. (hal.8). untuk itu perlu dicatat bahwa orang harus disayangi atau ditumpas sama sekali; mereka akan membalas dendam atas penderitaan kecil yang mereka tanggung, tetapi mereka tidak dapat membalas dendam atas penderitaan-penderitaan yang besar. Karena itu penderitaan yang kita timpakan pada seseorang haruslah sedemikian sehingga kita tidak perlu khawatir akan pembalasan dendamnya. (hal. 10)
Karena ada du  cara untuk menjadi pengasa, yang sama sekali yang tidak dapat disebut karena nasib baik ataupun kemampuan, saya tidak dapat melewatkannya begitu saja, walaupun salah satu cara tersebut dapat diuraikan dengan panjang lebar dalam pembahasan negara republik. Kedua, cara yang saya maksudkan ialah orang menjadi penguasa di kota kelahirannya sendiri berdasarkan persetujuan sesama warga masysayarakatnya. Untuk membahas yang pertama, saya akan mengemukakan dua contoh, satu dari zaman kuno, dan lainnya di zaman modern, tanpa membahasnya lebih terinci mengenai manfaat cara-cara ini, karena contoh-contoh ini cukup jelas untuk siapapun yang ingin meniru mereka. (hal. 34).
B.     Sebaliknya, orang menyadari bahwa kalau raja-raja lebih mementingkan kemewahan hidup daripada senjata, negara akan hancur. Melalaikan seni perang merupakan cara untuk menghancurkan negara, sedangkan trampil dalam seni perang merupakan cara untuk mempertahankan negara. Seorang raja yang bijaksana harus memperhatikan ini. Ia tidak boleh santai pada masa damai, sebab kalau keberuntungan berubah, ia sudah siap untuk mengatasi kesulitan itu. (hal. 60).  Kini tinggallah kita memikirkan bagaimana seorang raja harus bersikap terhadap bawahan dan sahabat-sahabatnya. Saya tahu orang akan setuju bahwa akan terpuji bila dalam diri seorang raja terdapat semua sikap yang dipandang baik. Tetapi karena semua sikap itu tidak dapat dimiliki dan dipenuhi, mengingat kodrat manusia, maka seorang raja harus cukup bijaksana untuk menghindari skandal sehubungan dengan keburukan-keburukan prilaku seperi sombong, santai, bobrok moralnya, suka menipu, keras kepala, dsb yang akan menghancurkan negara. Namun ia tidak boleh takut sedikitpun menghadapi tuduhan melakukan kejahatan, kalau kejahatan itu perlu dilakukan demi keselamatan negara. (hal. 63)
Jika Anda ingin memperoleh nama baik karena kemurahan hati, Anda harus secara mencolok bertindak boros. Raja yang bertindak demikian akan segera menghabiskan hartanya. Akhirnya ia dengan terpaksa menarik pajak yang berat dan melakukan segala cara hanya supaya dapat meperoleh uang. Kalau ia menyadari hal ini dan mencoba menelusuri jalan yang benar, ia segera akan dicap sebagai seorang yang kikir. Karena itu raja tidak perlu bertindak murah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali ia mau mempertaruhkan dirinya.Jika ia bijaksana, ia tidak akan berkeberatan dianggap sebagai orang yang sebetulnya murah hati, karena menyadari bahwa dengan menghemat pendapatan yang ada, ia dapat mempertahankan diri dari penyerbu/musuh, dan ia dapat melakukan perlawanan tanpa membebani rakyat. (hal. 65)
saya utarakan bahwa seorang raja tentu ingin dihormati karena sikap penuh belas kasih daripada bersikap kejam. Namun ia harus bersikap waspada supaya ia tidak menggunakan secara salah sikap penuh belas kasihnya. Karena itu, seorang raja tidak perlu khawatir terhadap kecaman yang ditimbulkan karena kekejamannya selama ia mempersatukan dan menjadikan rakyat setia. Untuk itu, sebaiknya raja dicintai atau ditakuti. Tetapi karena sulit untuk mempertemukannya, jauh lebih baik ditakuti daripada dicintai Jika tidak dapat memperoleh keduanya, Anda harus berusaha untuk menghindari diri dibenci. (hal. 74)
Kekerasan harus dilakukan sekali saja. Rakyat akan segera melupakan penderitaannya dan tidak akan menentang lagi. Perlahan-lahan raja harus menunjukkan kebaikan kepada rakyat dan dengan demikian rakyat akan mengalami masa yang lebih baik. Lebih-lebih harus hidup bersama rakyat sedemikian rupa sehingga perkembangan apapun, entah menguntungkan atau merugikannya, tidak akan menyebabkan dia mengubah sikapnya. Dalam keadaan yang sulit, tidak boleh raja bertindak kejam, karena kebaikan yang telah ditunjukkan kepada rakyat akan menguntungkannya, sebab kebaikan raja tersebut akan dipandang sebagai suatu yang tidak tulus dari hati dan karenanya tidak pantas menerima ucapan terima kasih. (hal. 39). Tak ada hal yang lebih mendatangkan pujian bagi seorang raja daripada meninjukkan kemampuan pribadinya dan keahliannya dalam berperang dan memimpin pasukan. (hal. 91) 



D.                KESIMPULAN
Setelah memahami Sang Penguasa karya Machiavelli, dalam hal ini, penulis berpadangan bahwa apa yang ditulis oleh Machiavelli tersebut  memberi dua alasan yang patut dianalisa. Pertama, terkait dengan  pandangan  Machiavelli yang menghalalkan adanya kekerasan sebagai jalan terbaik untuk dilakukan serang raja demi untuk menjaga kekuasaannya. Dan meninggalkan norma dan kebaikan. Machiavelli sebagai seorang pemikir yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Di mana, Machiavelli  menulis, Penguasa yang disanjung umpamanya adalah orang yang sanggup memperoleh dan mempertahankan kekuasaan dan kemashyuran, lepas dari soal cara-cara yang dipergunakan. Oleh karena itu, Machiavelli merupakan kata lain dari sinisme kekuasaan yang membenarkan dusta, penipuan, penindasan dan pembunuhan, asal saja mendukung stabilitas kekuasaan di tangan Sang Penguasa. Oleh karena itu, Machiavelli dikutuk oleh para moralis, tidak jarang oleh orang yang tidak pernah membaca apa yang ditlisnya dan sekaligus diintip oleh para penguasa yang mengharapkan legitimasi daripadanya untuk sinisme kekuasaan mereka sendiri.
Kedua, bila dipahami secara mendalam surat Machiavelli ke Raja Lorenzo Me’dici. Tentu menunjukkan bahwa Machiavelli adalah seorang pemikir dan juga seorang politisi yang jujur terhadap dirinya seerta memiliki integritas yang tinggi. Di mana, machiaveli menulis, Sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang ingin mengambil hati seorang Penguasa untuk menghadapi penguasa tersebut dengan membawa barang milik mereka yang paling berharga, atau membawa barang-barang yang mereka ketahui akan membuat sang Penguasa berkenaan di hati. Karenanya kita berap kali menyaksiakan para Penguasa menerima persembahan kuda, senjata, busana dari emas, intan permata, dan perhiasan-perhiasan semacam itu yang sangat cocok bagi keluhuran kedudukan seorang  Penguasa. Sekarang hamba ingin mempersembahkan diri hamba sendiri kepada Yang Mulia dengan membawa beberapa tanda  kesetiaan  dan hormat hamba kepada yang Mulia. Dalam tulisan ini jelas, bahwa Machiavelli mengutuk sikap kepura-puraan, nepotisme serta gemar melakukan penyogokan demi untuk mencari simpati penguasa. Oleh karenanya, mendorong Machiavelli mengritik sikap buruk semacam itu kepada raja dan member solusi atas kritiknya dalam bentuk buku sebagai bentuk baru dari sikap buruk yang telah menjadi teradisi dan dimaklumi oleh para penguasa dan masyarakat.
Dua-duanya tidak salah, namun tidak memadai Machiavelli adalah jauh daripada klise tersebut. Dan bila Machiavelli dilihat secara utuh, maupun dalam konteks sejarah dan situasi di mana ia menulis, arti dari tulisan Machiavelli yang sebenarnya akan terangkat. Yang luput dari perhatian ialah bahwa bukan pemerintahan Sang Penguasa yang menjadi tujuan pemikiran Machiavelli, melainkan kemantapan dan kejayaan komunitas politik satu bangsa, bangsa Italia. I dalam dan keperkasaan kekuatan ke luar, di mana para warga negara aktif mengurus kebijakan politik kota mereka, dan justru karena virtu itu, mampu untuk mengembangan kota mereka menjadi pusat kekuasaan tingkat dunia yang mantap dan pantas dikagumi, dengan sistem hukum yang kemudian menentukan sebagian besar hukum di Eropa dan dengan demikian merupakan struktur sebagian besar struktur-struktur hukum di dunia abad-21 ini.
Akan tetapi, Machiavelli juga menjadi orang modern pertama, dank arena itu dia mampu untuk membebaskan diri dengan kejam dari segala keterikatan pada tradisi-tradisi moralitas keagamaan. Modernitas Machiavelli kelihatan dalam ia tanpa ragu-ragu membuat fungsionalisme menjadi tolok ukur tepat-tidaknya sebuah tindakan politik. Karena itu, Machiavelli menuntut agar masyarakat terlebih dahulu ditata oleh penguasa dengan tangan besi. Itulah sebabnya Machiavelli mempermaklumkan bahwa penguasa harus membebaskan diri dari ikatan keagamaan dan moralitas tradisional, dan tidak boleh ragu-ragu mengambil segala tindakan yang perlu untuk menumpas pihak yang membuat kekacauan, tidak tertib, korup, licik, egois, atau yang mengancam kekuasaan penguasa. Dan yang ditawarkan Machiavelli adalah fungsionlaisme kekuasaan murni [1].
E.                 DAFTAR PUSTAKA
1.                  Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa. Surat Seorang Negarawan kepada Pemimpin Republik. Ahli bahasa. C. Woekirsari. (Jakarta: PT. Gramedia. 1987)
2.                  ST. Sularto. Niccolo Machiavelli Penguasa Arsitek Masyarakat. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003)




[1] ST. Sularto. Niccolo Machiavelli Penguasa Arsitek Masyarakat. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003). Hal. Xii-xiii

PEMIKIRAN JOHN LOCKE

BAB II
LOCKE
OLEH: KAMARUDDIN SALIM
I.              PENDAHULUAN
Locke menampilkan seorang pria yang dengan wajah panjang; hidung panjang dan berpunuk; dahi menjulang; besar, mata sayu, dan mulut besar tapi memiliki kontur yang bagus. Untuk lebih detilnya, mari kita cari tahu lebih banyak tentang seorang pria bernama John Locke. John Locke dilahirkan di dekat Bristol, Inggris, pada 1632. Setelah belajar di di London dan Oxford. Locke berkecimpung dalam bidang paktik hukum (sebagai seketaris putusan di istana Brandenburg) di Jerman). Yang terakhir ini terutama karena Locke terpaksa menghindarkan diri dari Inggris untuk mengelakkan penangkapan yang diniatkan raja karena Locke termasuk seorang yang tidak menyukai kekuasaan mutlak berada di tangan penguasa. Barulah setelah Revolusi Inggris pada 1688 dengan naiknya Willem III dan Ratu Mary sebagai penguasa terbatas di sana yang berarti menaikan kekuasaan parlemen, barulah Locke dapat kembali ke negeri dengan aman. Barulah Locke dapat menulis dengan tenang, seperti dua naskah Treatise on Government (uraian tentang pemerintahan 1689, 16900 yang pokok-pokoknya telah ditetapkan dalam pembuangan. Locke meninggal tahun 1704[1].
Kehidupan
Ayah Locke adalah sosok penting baginya dalam beberapa hal. Locke tua merupakan seorang Puritan yang berprofesi sebagai seorang pengacara dan juru tulis untuk Alexander Popham, wakil Letnan dari Somerset Country. Parlemen dengan waktu yang panjang mengambil alih Westminster School di London. Acara ini menjadikan Tuan Popham, sebagai anggota DPR dari jalur pendaftaran. pada tahun 1647, ia diapresiasi temannya yang berprofesi sebagai konselor sehingga akhirnya dapat meluncurkan karir ilmiah yang terkenal.
Locke Muda
John Locke meninggalkan London pada 1652, untuk Christ Church College (Kampus Gereja Kristen) di Oxford. Lock telah memenangkan beasiswa, meskipun Lock berada diurutan bawah dalam daftar enam pemenang. Di oxford, Lock mengembangkan minat dalam ilmu pengetahuan eksperimental bukan sebagai dampak dari kurikulum yang ada. Locke tidak banyak bereksperimen, tetapi dirinya tercengang oleh prinsip-prinsip yang ada dari percobaan yang dilakukan. Kemudian, Locke bereaksi terhadap ketergantungan yang berlebihan pada tradisi bahwa Locke terkait dengan royalis (pihak kerajaan) serta terhadap emosi moral secara antusiasme, Locke menyebutnya dirinya sebagai kaum Puritan.
Pada usia dua puluh empat tahun, John Locke menerima gelar sarjana seni, jadi telah terbukti bahwa unsur-unsur empirisme melekat pada John Locke yang terkenal dengan teori tabularasa yang menyatakan bahwa manusia yang terlahir dimuka bumi seperti kertas putih yang bersih yang belum ada noda.Namun, saai itu Locke belum menjadi liberal dalam politik. Locke merasa bahwa kaum katolik, Quaker, dan berbagai kaum pembangkang lain terlalu berbahaya untuk ditolerir. Arsip-arsipnya mengungkapkan bahwa Locke melihat buramnya masa depan Inggris, putus asanya umat manusia, dan tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Lalu, ketika restorasi datang, itu adalah penyebab sukacita yang besar. Locke dengan sigap menyambut "kembalinya Mulia" dengan bahagia dan meremehkan yang kaum-kaum yang popular karena kebebasan publik". Apa yang Locke tulis pada tahun tersebut biasanya diungkapkan olehnya beserta jawabannya ke sebuah pamflet dari seseorang yang bernama Edward Bagshawe. John Locke juga sering dihubungkan dengan teori Hobbist (yang dikemukakan Thomas Hobbes) dalam hal ideologi dan tulisan/karya-karyanya.
Ilmuwan dan Diplomat
Pada tahun 1661, tak lama setelah terpilih menjabat sebagai dosen di gereja kristen, Locke sedih dengan kematian ayahnya. Ayahnya Locke meninggalkan putra sulungnya cukup lahan sekitar Pensford untuk memberinya pendapatan sederhana untuk sisa hidupnya. Tetapi untuk semua sikap lembutnya, Locke cenderung menjadi tuan tanah yang sabar tetapi bermata tajam yang terkesan sangar. Dengan dorongan dari temannya; John Strachey, Locke memutuskan bahwa ia butuh melakukan perjalanan untuk menyelesaikan pendidikan. Layanan diplomatik adalah alat untuk mencapai tujuan ini. Pada 1665, ia meninggalkan Inggris untuk menjadi sekretaris dalam misi ke Brandenburg. Keberhasilan Locke sebagai diplomat menyebabkan dua tawaran berikutnya untuk pekerjaan dengan duta besar Spanyol, Lalu yang di Swedia ketika ia kembali ke Inggris pada tahun 1666. Setelah merenungkan dengan seksama, Locke menolak keduanya.
Locke telah memutuskan untuk belajar kedokteran. Locke dan seorang teman membuka sebuah laboratorium kecil di Oxford dan meminta dana dari para ilmuwan yang tertarik untuk membuat itu terjadi. Bukti menunjukkan bahwa Locke terutama tertarik dalam kedokteran diterapkan, obat bius, dan herbal. Pada 1667, Lock bertemu dan mulai bekerja sama dengan Thomas Sydenham, dokter Inggris terbesar di zamannya dan pelopor metode klinis.Seiring dengan berjalannya waktu, Locke mulai membaca karya-karya Descartes. Dia menyambut advokasi Descartes perihal rekonstruksi rasionalistik nya. Dan pada tahun 1668, pada usia tiga puluh enam, Locke terpilih untuk menjadi orang dilingkungan kerajaan, dan dia sudah pindah ke London untuk tinggal di kawasan megah Lord Ashley yang telah didirikan.
Perihal Anggota Parlemen Inggris
Sebagai Shaftesbury, Locke bergerak lebih tinggi dan lebih tinggi di pemerintahan, Locke pindah bersamanya. Ketika Shaftesbury dipekerjakan Lord Chancellor, Locke terus melayani dia dari jabatan relatif tidak jelas hingga ke sekretaris presentasi, posisi yang melibatkan hubungan gerejawi. Tapi setelah Shaftesbury tahu tentang rahasia Raja Charles yang pro-Katolik dengan Perjanjian Dovernya dengan Perancis, Locke nyaris tak bisa menyembunyikan kekecewaan nya yang mendalam.
Penulis Bagian
Pada bulan Februari 1689, John Locke bergabung bersama Lady Mordaunt dan Putri Mary dalam ekspedisi membawa mereka ke Inggris untuk suami mereka dan masalah tahta kasus Maria. Locke tinggal bersama seorang teman di London. Locke menolak janji sebagai duta besar Inggris untuk Pemilih Bradenburg atas dasar kesehatan, mencatat, antara lain bahwa Locke tidak bisa bersaing dengan pihak dari Jerman, tantangan diplomatik yang tidak bisa dihindari. Locke menolak tawaran lain juga, dan akhirnya menetap untuk posisi Komisaris Banding. John Locke muncul dengan ciptaan-nya; seperti "Essay Concerning Human Understanding" tahun 1689 dan menjadikannya di tahun itu menjadi luar biasa besar bagi karir John Locke. Pada 1692, Locke mengedit dan menulis ulang karya teman barunya “The History of Air”  nya Robert Boyle tahun itu. Pada 1695 UU untuk Peraturan Percetkan dicabut, sebagian karena argumen Locke terhadap itu melalui teman-temannya di komite yang mempertimbangkan masalah ini.

Tahun-Tahun Terakhir
Meskipun terserang penyakit, tahun 1696, Locke secara mengejutkan menerima janji untuk instansi baru perdagangan, dirancang untuk menangani kenaikan ancaman perdagangan Belanda, disintegrasi pemerintahan kolonial, masalah pembajakan, dan hal-hal lain yang mendesak. Locke pindah kembali ke London dan meskipun Locke sedang sakit dan tugas yang sulit, Locke jelas mendominasi kerja dewan. Tak lama, John Locke menghabiskan hari-hari terakhirnya di Oates, membawa pada korespondensi  yang lebar, membalas kritik, menulis komentar tentang surat-surat St Paulus dan bercakap-cakap dengan pengunjung yang datang, Locke dengan lembut, dan jarang mengeluh. John Locke, seorang filsuf besar, meninggal pada 28 Oktober 1704, pada usia tujuh puluh kedua.
“The Two Treatises (Karya John Locke) Filosofi Politik atau Risalah Waktu
Karya John Locke yang satu ini sangat terkenal. Kata-kata kehidupan, kebebasan, dan harta, permusyawaratan rakyat, mayoritas memiliki hak untuk bertindak dan menyimpulkan selebihnya telah menjadi hal yang tidak asing lagi dalam kosakata politik Barat, bahkan di dunia. Tulisan-tulisan Locke adalah salah satu yang paling menonjol dalam daftar buku di perpustakaan pada saat itu. “The Two Treatises”  untuk pertama kali. yang ditulis sekitar 1861 sebagai jawaban atas Filmer Patriarcha. Pelindung (dekingan) Locke, bernama Shaftesbury, adalah pemimpin partai negara, pada umumnya penerus ideologis roundheads periode cronwellian. Di atas semua mereka takut seorang raja Katolik dan berharap untuk menghapus Katolik duke of York (James masa depan II) dari garis pergantian tahta.
Persamaan (Equality) dan Kondisi  Alami
John Locke menulis The Second Treatise dengan sebuah ringkasan dari kritiknya terhadap Filmer, kemudian menjelaskan bahwa ini saatnya untuk menemukan pertumbuhan pemerintah yang lain, kekuatan politik asli yang lain. Catat bahwa Locke tidak mengambil apa yang ilmuwan politik abad dua puluh terapkan sebut saja sebuah empiric, pendekatan non-evaluasional kepada kekuatan politik. Hukum-hukum yang diasumsikan dengan hukuman mati yang dibuat serta dipaksakan tanpa salam pada rakyat kelihatannya membawa kebenaran semakin dekat agar tercapainya sebuah keadilan. Ada sebuah pembahasan terkait Thomas Hobbes, pada saat itu Locke menjawab secara spesifik pertanyaan tentang obligasi yang timbul pada kondisi alami (state of nature): The State of nature (keadaan alami/alamiah/alami) memiliki hukum alam untuk memerintah, yang patuh pada tiap insan, dan alasan bahwa hukum mengajarkan semua manusia yang membahasnya bahwasannya memiliki kebebasan dan kesamaan antar manusia tidak membahayakan kehidupan mahluk lainnya.
Locke memperluas cakupan perlindungan hukum alam di luar yang Hobbes berikan. John Locke menambahkan seorang manusia harus menyetujui kekuasaan atas dia atau itu sewenang-wenang, Jika dia tidak dalam posisi untuk memberikan persetujuannya. Intinya ada perbedaan yang kita bisa dapatkan dari Locke, Hobbes, and Filmer, yakni kalau Hobbes dan Filmer kebutuhan kekuatan atau kekuasaan adalah pembenaran, tapi untuk Locke persetujuan subyek entah itu kekuatan atau kekuasaan merupakan pembenaran.
Harta Benda
Locke merupakan pembela awal teori nilai kerja, teori yang dipegang oleh sebagian besar ekonom klasik dan oleh Karl Marx, tetapi ditolak oleh hampir semua ekonom kontemporer. Sederhananya, teori menyatakan bahwa nilai suatu produk diukur dengan jumlah tenaga kerja yang diinvestasikan di dalamnya; satu ton batubara digali oleh lima orang dalam satu jam bernilai satu setengah banyaknya dengan satu ton tembaga digali oleh lima orang dalam dua jam atau dengan sepuluh orang dalam satu jam.Bahkan dalam keadaan alamiah, manusia tidak memiliki hak alami untuk melebihi sendiri atau melebihi  kapasitas keluarganya akan apa yang seharusnya dikonsumsi. Dasar dasar pemikiran agraria Locke disarankan oleh fakta bahwa standar yang sama diterapkan untuk kepemilikan tanah: seorang pria memiliki hak alami untuk tanah sebanyak ia secara pribadi dapat gali untuk diri sendiri dan kebutuhan keluarganya. Teori Locke berkenaan keharta bendaan mengisyaratkan apa tujuan utama manusia dalam hidup dan karena itu apa yang standar harus dapat memandu/membimbing pemerintah. Properti, yang merupakan sesuatu yang lebih dari keadaan fisik semata, adalah jantung dari konsepsinya tentang kehidupan yang baik dan kondisi yang baik pula.

Persetujun/Perizinan
Persetujuan jelas merupakan konsep penting bagi Locke. Tapi apa yang Locke maksud dengan persetujuan ini diatur? Bahkan yang paling fanatik sekarang  masa majoritarians tidak akan berpendapat bahwa setiap individu harus memiliki kesempatan untuk menyetujui atau menolak setiap tindakan pemerintah yang mungkin mempengaruhinya. Antara lain, akan sulit untuk mengumpulkan pajak penghasilan yang di dapat dari praktek ini. Bahwa semua manusia oleh alam prinsipnya sama. Umur atau kebajikan/kebaikan dapat memberikan pengetahuan tentang hak untuk mendahulukan. Pelayanan dan jasa dapat menempatkan orang lain di atas keadaan umum yang biasa. Intinya adalah bahwa menjadi hak yang sama setiap orang memperoleh kebebasan alami, tanpa mengalami kehendak atau otoritas manusia lain. Kalimat-kalimat tersebut merupakan teori kualifikasi penting pertama yakni Teori Consent Locke. Kemudian, yang kedua adalah bahwa memberikan persetujuan relevan hanya untuk fungsi terbatas. Kita sebut ini memberikan persetujuan otoritas konstituen yang berada dalam masyarakat.
Statemen Locke mengarah/mengacu pada pemikiran Thomas Hobbes. Kualifikasi ketiga adalah bahwa mengesampingkan kesulitan daripada kesetaraan alamiah, seberapa sering rata-rata warga memiliki kesempatan untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuan kepada seluruh struktur pemerintahan? Locke terpaksa membuat perbedaan antara pernyataan persetujuan dan persetujuan diam-diam. John Locke kelihatan tidak semua secara fokus untuk menolak mereka yang diberikan persetujuan/perizinan  kepada rezim  yang benar melawan pemerinthan di rezim itu saat menjadi tirani (seperti nazi). Bagian dari kebingungan dihilangkan saat kita sadar bahwa pengkhianatan melawan sebuah pemerintahan yang tidak berarti karena pengkhianatan Locke melawan aturan yang ada. Ada implikasi yang pastidari dua kontrak – satu antara seorang individu dengan yang lainnya, yang membuat aturan, dan yang kedua antar individu dengan rezim pemerintah yang mengatur suatu Negara.
John Locke pastinya tidak mengenakan pajak kepada dirinya untuk membuat jelas perbedaan dari jenis kontrak tersebut. Tetapi sekarang pertanyaannya adalah mengapa kaum mayoritas (masyarakat yang menentang dan dapat menghadapi kekuasaan) dapat memiliki otoritas yang menyeluruh dalam melawan sebuah komunitas yang disebut pemerintahan? John Locke menjawab dengan seperlunya, jelas, bahkan mekanistik; pemerintahan harus menjadi satu tubuh/badan yang bergerak jika diibaratkan, bergerak membawa amanah yang dititipkan kaum mayoritas (masyarakat yang menentang dan dapat menghadapi kekuasaan) untuk dijalankan sebaik-baiknya.  Kemudian ada istilah yang bernama kolektivisme yang didefinisikan sebagai teori dan praktek yang membuat semacam kelompok daripada individu unit dasar dari perhatian politik, sosial, dan ekonomi. Secara teori, kolektivis bersikeras bahwa klaim kelompok, asosiasi, atau negara harus normal menggantikan klaim individu. Sedangkan, individualisme dipandang sebagai konsep etika-psikologis dan satu unsur etis-politis. Sebagai konsep etika-psikologis, individualisme menyatakan bahwa manusia harus berpikir dan menilai sendiri, menghormati tidak lebih dari kedaulatan pikirannya; dengan demikian, hal ini terkait erat dengan konsep otonomi. John Locke dan saudara-saudara di parlemen Inggris melawan/menentang satu unsur yang ada pada kolektifisme (collectivism) yakni korporatifisme feodal. Mereka menginginkan untuk membebaskan individu dari aturan/rule hierarki yang kaku, disucikan oleh gereja, dan dijustifikasi oleh misteri yang ada.
Kesimpulan: Politik dan Filosofi
John Locke menganalisis tingkat teoritis yang mengagumkan perihal tirani parlemen saat raja merupakan lawan dan parlemen hanyalah sekutu raja. Seorang yang bernama Cobban pernah mendeskripsikan Locke sebagai penulis yang mempunyai pengaruh di abad ke 18 dengan otoritas injilnya. Dan juga, karyanya Second Treatise telah banyak andil hingga masa sekarang karena Locke terkenal dengan ide-ide politik briliannya dan  filosof yang hebat pemikirannya. Second Treatise memiliki jumlah kalimat yang bisa digambarkan sebagai karyanya yang tidak ada persiapan  sama sekali tetapi kualitas isinya bagus. Locke membuat kita mengerti hubungan antara kepercayaan filosofis kita dan kepercayaan filosofis sebagaimana yang ada pada diri manusia sebagai ciptaan tuhan. Mungkin kepercayaan/keyakinan politik Locke sudah ketinggalan zaman, tetapi masih dipandang relevan hingga abad dua puluh.
Epistemologi John Locke
Tujuan utama karyanya Locke yang bertajuk Essay Concerning Human Undertanding adalah untuk menurunkan derajat argument untuk ide-ide yang biasanya muncul secara universal yang biasanya ada dipikiran manusia oleh penalaran apriori. Pada bagian pendahuluan di karyanya tersebut, Locke membuat permohonan untuk kita agar kita dapat puas dengan batas-batas ilmu pengetahuan yang kita punya, agar supaya dapat membuat pikiran kita dapat mengimplementasikan karyanya dengan cara sebaik-baiknya, dan juga agar supaya dapat menghindari hal-hal yang dapat menyia-nyiakan diri sendiri. Intinya, Locke benar-benar menawarkan kita cara baru dalam berfikir; ia menanamkan dasar-dasar empirik Inggris. Dari ide-ide yang dihasilkan dari pemikiran Locke dan Hobbes dapat dikataan mereka pakar empirisme, tetapi dilihat dari adat-adat/kebiasaan keduanya sehari-hari, dapat diprediksi Locke merupakan orang yan empirik, tapi Hobbes tidak.
Epistemologi dan Politik
Analisis John Locke dapat diasumsikan bertentangan dengan orang kebanyakan pada umumnya di tataran politik. Hal itu menarik karena ia memilih menggunakan ‘kata-kata’ untuk melakukan aksi/tindakan daripada dengan melakukan percakapan yang biasa dilakukan orang lain. Pemikiran politik selalu merupakan cerminan dari sesuatu yang bisa dikatakan lebih dari sekedar politik. Dalam hal ini pandangan kata ilmiah tercermin dalam "liberal" politik. Sebagai contoh, atomisme fisika dari Locke cocok dengan pemikirannya yang terbentuk dari ide-ide kompleks yang asalnya dari kumpulan ide sederhana yang brilian, yang mana analogi itu sesuai dengan gambaran individu datang bersama-sama dengan ide brilian dari masing-masing kepala untuk membentuk sebuah Negara. Locke dipaksa untuk mengakui bahwa ketaatan yang ketat terhadap hukum yang bekerja saat itu belum tentu dihargai dengan keberhasilan politik. Yang tercakup secara besar-besaran pada pemerintah politik Locke dengan persetujuan, suara mayoritas, hak-hak properti, dan bahkan seluruh ide tentang keadaan alam. Itu semua telah  Locke bangun berangkat dari ide-ide cemerlangnya. Pada akhirnya dia ditinggalkan dengan fideisme daripada kewajaran istilah-istilah kritianitas pada teori politiknya.
II.                ANALISIS LAPORAN BACAAN
Memahami pemikiran John Locke yang ditungkan dalam karyanya  Two Treatises of Government ( Dua persepakatan dengan pemerintah) yang isinya merupakan penyampaian ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi liberal. Karya inipula berpengaruh besar terhadap perkembangan politik Inggris saat itu. Locke meyakini bahwa setiap manusia memiliki hak alamiah, dan bukan semata menyangkut hak hidup, tetapi menyangkut pula hak hidup dan kebebasan pribadi dan hak atas kepemilikan sesuatu. Tugas utama pemerintah adalah melindungi penduduk dan hak milik wargenagara. Teori Locke ini seringkali disebut sebagai teori jaga malam oleh pemerintah. Istilah peraturan mayoritas (rule majority) muncul dengan terkenal membuat dilema yang berfokus pada hak-hak kaum minoritas (kaum yang daerah tinggalnya ditaklukkan); jika aturan mayoritas tidak absolut, minoritas juga tidak dapat menjadi absolut begitu juga sebaliknya.
John Locke menolak hak suci seorang raja. Di mana, Locke menekankan bahwa pemerintah baru dapat menjalankan kekuasaannya atas peretujuan yang diperintah. Kemerdekaan pribadi dalam masyarakat berada di bawah kekuasaan legislatif yang disepakati dalam suatu Negara. Locke dengan tegas menekankan hal tersebut dengan kontrak sosial. Menurut Locke kontrak sosial dapat pula diganti, bilamana legislator mencoba merampas dan menghancurkan hak milik penduduk, atau menguranginya dan mengarah kepada perbudakan di bawah dalam  kekuasaan, mereka berada dalam keadaan perang dengan penduduk, dan karenanya penduduk terbatas dari kesalahan apabila membangkang dan biarlah mereka berlindung pada naungan Tuhan yang memang menyediakan penjagaan buat semua dari kekerasan dan kemajuan.
Locke percaya bahwa dengan jalan seperti ini tentu memberikan gambaran rakyat memiliki kekuatan untuk menjungkirkan dan menggantikan badan perwakilan begitu melihat wakil-wakil mereka berbuat bertentangan dengan kepercayaan yang diletakkan di pundak mereka. Locke dengan gigih mempertahankan serta berpegangtehuh akan perlu adanya pemisahan kekuasan. Locke menganggap kekuasaan legislatif harus lebih dominan ketimbang eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Sebagai seorang yang percaya terhadap keunggulan kekuasan legislatif, Locke senantiasa menentang pengadilan yang memutuskan bahwa tindakan tindakan legislatif itu tidak konstitusional.
Meskipun John Locke mempertahankan pendapatnya atas prinsip kekuasan mayoritas, dapat dijelaksan bahwa suatu pemerintahan tidaklah memiliki kekuasan tanpa batas. Mayoritas tentunya tidak merusak hakikat hak-hak manusia. Suatu pemerintahan hanya dapat dibenarkan merampas hak milik atas perkenan pemerintah. Locke dipaksa untuk mengakui bahwa ketaatan yang ketat terhadap hukum yang bekerja saat itu belum tentu dihargai dengan keberhasilan politik. Yang tercakup secara besar-besaran pada pemerintah politik Locke dengan persetujuan, suara mayoritas, hak-hak properti, dan bahkan seluruh ide tentang keadaan alam. Itu semua telah  Locke bangun berangkat dari ide-ide cemerlangnya. Pada akhirnya dia ditinggalkan dengan fideisme daripada kewajaran istilah-istilah kritianitas pada teori politiknya. Orang-orang yang ada di generasi selanjutnya seperti sekarang ini yang tinggal di era modern, masyarakat ‘demokratis’ merupakan Lockean (pengikut Locke dari segi ideology) tapi buka semata-mata karena kita muncul karena apa yang dilakukan terhadap pemerintah dengan segala pertentangan ideologinya dan masalah-masalah yang ada karena peraturan pemerintah yang sewenang-sewenang.
Tetapi kita Lockean karena bagaimanapun juga kita merasa Tuhan pastinya telah memberikan kita hak yang seharusnya kita terima/dapatkan. Selain itu, para buruh/pekerja di era modern saat ini menyukai Locke karena ia kelihatan menjadi seorang yang individualis walaupun ada perasaan kekurang yakinan entah individualisme masih relevan atau tidak sekarang. Para buruh juga memiliki keraguan tentang kesimpulan optimistis Locke yang fokus pada masyarakat yang beroroientasikan hak. Mereka masih berfikir bahwasannya mereka masyarakat yang terkontaminasi sekulerisasi, memegang teguh hak-haknya, berorientasi pada hal-hal yang berkenaan dengan ekonomi (finansial). Bagaimanapun juga, itu semua adalah dunianya John Locke, tapi kita tidak yakin jikalau kita berharap bahwa itu semuanya akan berlangsung lama.
Doktrin persetujuan sebagi satu-satunya landasan kewajiban politik tersebut mengandung pengertian bahwa sebuah masyarakat mempunyai hak untuk membersihkan diri dari seorang penguasa yang menghianati kepercaan yang diberikan padanya; hak dengan suatu istilah untuk memberontak. Tetapi bagaina saeseorang harus memutuskan pada sudut mana seorang penguasa dapat dikatakan telah menghianati kepercayaannya. Locke menjawab, bahwa seorang penguasa menghianati kepercayaan apabila dia mengabaikan pemerintahan menurut proses-proses hukum yang ditentukan untuk kepentingan pemerintahan yang tidak konstan, tidak pasti, tidak dikenal, dan sewnang-wenang. James II telah melakukan hal ini: dia telah menempatkan dirinya di atas hukum. Dia telah mengorbankan kepercayaan rakyat[2].  
III.             KESIMPULAN
Pemikiran John Locke tentang kebebasan serta hak hidup individu dalam masyarakat merupakan satu unsur penting dalam mendorong seseorang untuk berpatisipasi dalam politik. Pandangan Locke tentunya mengakomodir hak-hak politik masyarakat miskin dan para kaum wanita demikian pula para kaum buruh perusahan sebagai hasil dari perjuangan mereka, telah mendapat pengakuan bersuara dalam perusahan itu. Disamping aspek kebebasan serta hak berpolitik bagi warga negara. Menurut Michael H. Hart, John Locke juga menekankan Negara jangan ikut campur kelewat banyak dalam hal kebebasan menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing. Locke bukanlah orang Inggris pertama yang mengusulkan adanya toleransi agama dari semua sekte Protestan. Tetapi argumennya yang kuat dilontarkannya, yang berpihak kepada perlunya ada toleransi merupakan faktor dukungan penduduk terhadap sikap pandangannya. Lebih dari itu, Locke mengembangkan prinsip toleransinya kepada golongan non-Kristen, baik kepercayaan primitive, atau Islam dan Yahudi tidak boleh dikurangi hak sipilnya dalam Negara semata-mata atas pertimbangan agama.
Locke percaya bahwa toleransi ini tidak berlaku bagi golongan khatolik karena Locke yakin mereka bergantung pada bantuan kekuatan luar, dan juga tak ada toleransi bagi kaum atheis. Dengan ukuran zaman kin di aboleh dibilang teramat berlapang dada, tetapi beralasan memandangnya hubungan dengan ide-ide pada zamannya. Fakta mencatat, alasan-alasan yang dikemukanan Locke demi terciptanya toleransi agama lebih meyakinkan pembacanya dari ; sebuah agama sudah meluas bahkan pada golongan-golongan yang tadinya dikucilkan[3].    
Disamping itu Locke berpendapat bahwa, dalam pemerintahan diperlukan beberapa pranat; sebuah majelis perwakilan pembayar pajak untuk mengesahkan pajak, misalnya dan suatu sistem peradilan yang independen untuk menjamin bahwa tidak ada orang yang bersalah yang pernah di hukum. Oleh Negara. Beberapa Negara baru terbentuk belakangan ini telah berusaha untuk melepaskan pranata-pranata seperti itu, dan dalam melakukannya mereka mengabaikan kebebasan dan menobatkan dictator-diktator. Locke menolak istilah hukum untuk undang-undang pada diktator.

Daftar Bacaan:
1.      Deliar Noer. Pemikiran Politik Di Negeri Barat. Bandung: Mizan 1997.
2.      David Thomson, Pemikiran-Pemikiran Politik. Jakarta: PT. Aksa a Persada Indonesia. 1986.
3.      Michael H. Hart. Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 1982.



[1] Deliar Noer. Pemikiran Politik Di Negeri Barat. (Bandung: Mizan 1997). Hlm. 117
[2]  Maurice Cranston. John Locke dan Pemerintahan Atas Persetujuan. Dalam  David Thomson, Pemikiran-Pemikiran Politik. (Jakarta: PT. Aksa a Persada Indonesia. 1986). Hlm. 95
[3] Michael H. Hart. Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 1982). Hlm. 254