Laman

Rabu, 11 September 2013

ASA MELANGIT

Satu melodrama Laskar Sikumbang memberi cerita duka
Harapan dimutilasi kehidupan akal
Dua duka dalam satu tema
Asa melangit para Laskar menebar idea
Mewarnai dunia, diawali kesadaran ilmu
Lalu, memuja mistik kegelapan
Oh, satu rangkaian sosial yang terpenjara hati nurani
Tentu budaya lumrah, lalu di amini
Dukun dan Kuasa Tuhan berebut posisi demi pujian manusia
Inilah kita dan budaya lamban berjalan asal selamat

Kamaruddin Salim
Mobil Tronton TNI AL, Minggu, 29 Juni 2013
Pukul, 07.50. WIB 

Senin, 13 Mei 2013

CINTA ABADI



CINTA ABADI

Cinta di antara manusia perasa
Meramu ego dan nafsu melunak dalam satu jiwa
Anugerah Sang Kuasa terurai tak terbatas di hargai
Lantas semua tampil ke permukaan sembari memproklamirkan kebahagian
Dan pengorbanan
Sekedar mendongkrak kesadaran sesaat atas nama cinta dan kesetiaan
Meniru cinta Shāh Jahan  dan Arjumand Banu Begum, dalam kisah  Taj Mahal
Para lelaki menokohkan perempuan untuk dilamar dan dipuja-puja
Meramu makna kata tanda setia bersatu rasa pujian
Bersama sejuta kenangan dan harapan yang tertulis dalam kamus abadi
Kisah asmara dua makhluk tak sedikit jua sepi dari kehidupan
Walau hikayat suara lain hati lain pula cerita antara hasrat merayu
Kita tentu mengerti, umpama yang tersusun, cinta tak ubahnya defenisi akal
Ya, berubah zaman, nilai cinta bermetamorfosis
Kita ingat, nasehat Sang Nabi, dan kaum pemuja romantis
Eratkan cinta kasih pada perempuan yang baik dan sederhana
Dia yang menerima kekurangan dalam rasa ketidakcukupannya
Sebaliknya lelaki yang berjiwa besar dan memuja kelebihan perempuan
Zaman bercinta tentunya, menunjukan ketidak pastiannya
Tatkala gelora asmara membakar mata dan rasa, Tuhan-pun tak berkuasa
Dua penguasa cinta mengumbar pujian sembari memupuk taman bunga
Laju mentari merubah arah jarum jam, menyiksa kerinduan
Kita, tentu sama merasa dan mensyukuri keindahan yang ada
Namun, kita ketakutan tatkala kebencian mengkebiri kasih sayang
Lalu beranak pinak dalam syahwat perbandingan yang egois
Kita, lantas merasa, semua tak ubahnya gelombang yang datang dan pergi
Dan akan abadi dalam kehidupan yang berulang-ulang
Dari, cinta Sang Ayah-Bunda, anak, cucu, dan bayangan


Kamaruddin Salim
Pejaten, 6 Mei 2013
Pukul, 12. 35. WIB

Selasa, 26 Maret 2013

SEJARAH BERDARAH


SEJARAH BERDARAH

Pembantaian umat manusia terjadi di mana-mana kawan
Nyawa manusia sungguh murah nilainya
Tak lebih dari bangkai tikus yang ditong sampah
Setiap saat ditampilkan di layar televisi secara sporadis
Di segenap penjuru bumi, makhluk Tuhan dbantai secara keji
Dalih Revolusi, pembunuhan halal hukumnya
Hukum sama  sekali tak berlaku di medan perang
Dalih Reformasi, kekerasan di jadikan ikon perubahan sosial
Kawan, Sejarah Berdarah berabad-abad diabadikan manusia
Dalam catatan kitab suci hingga ensikplodia modern para peneliti
Kawan, sejarah berdarah diurai dalam ragam kisah dan peristiwa
Sungguh, keimanan hanya menjadi label warga negara
Kawan, pembunuhan atas umat manusia memilukan dalam rasa sadar kita
Setiap agama mengajarkan cinta kasih
Namun kawan, parade senjata canggih masih berlaku dipasaran dunia
Berlomba dalam nilai kemutakhiran dan saling meng-embargo
Kawan, Bandan Perdamaian Dunia digagas sungguh melegitimasi peperangan
Tengoklah adu tembak di Suriah
Lihatlah parodi kebiadaban di Palestina
Ironi intivada melawan senjata pemusna massal
Pembantaian atas nama agama di Myanmar
Adu ketangkasan di Afganistan, Irak dan Mexiko
Kawan, sejarah berdarah diagung-agungkan dalam istana, gedung mewah dan perumahan kumuh
Kawan, evolusi kehidupan tak lepas dari kematian dan kekuasaan
Kawan, hikayat Darwin yang kuat dialah yang mampu bertahan hidup
Kini dipuja-puja bagai agama baru dari Pencipta Alam Kebiadaban
Kawan, Darwin yang dibenci dan dikagumi kaum Marxian logis diterima
Kawan, sudah cukuplah kita menghitung angka kaum termiskin merajalela di Afrika
Kawan, Tuhan tak berarti disaat kelaparan itu mewabah
Tatkala kekuasaan direbut, siasat jadi modal
Disaat kepentingan ego dipertanyakan
Bahasa makian mewarnai media massa
Kawan, anak-anak dan ibu tak berdosa memikul beban sejarah atas nama kemerdekaan
Kawan, kitapun dijadikan senjata pembunuh setiap saat
Ilmu pengetahuan tak adil dalam ruang baca anak-anak sekolah
Antara, Mazhab Timur dan Barat
Anri Liberalis-Pro Liberalis
Anti Komunis- Pro Komunis
Anti Nasionalis- Pro Nasionalis
Anti Sosialis- Pro Sosialis
Kawan, kita diajarkan bahasa kebenaran dan cacian,
KANAN, KIRI, TENGAH, ATAS-BAWAH
Kawan, bumi yang diwariskan Tuhan dikapling dan dibagi-bagi sesuka nafsu serakah
Antara, Amerika, Amerika Latin, Asia Temggara, Asia Timur, Eropa, Afrika dan Australia
Kawan, hidup kini dan nanti menyatu dalam satu tema “KEMATIAN”
Kawan, perang ilmuan pengagum kapitalisme dan Humanisme menggema
Dari ruang diskusi hingga perpustakaan Universitas
Kawan, apa yang mereka cari?

Kamaruddin Salim
Ketapang, 20 Maret 2013
Pukul, 01.59. WIB

BANGSA TERJAJAH



BANGSA TERJAJAH

Darah tertumpah ruah di segala penjuru Bumi Nusantara
Peluruh musuh tetap membantai manusia pribumi
Aura penderitaan menyayat nurani
Dari lautan, daratan, udara hingga pikiran
Merdeka sejati hanya cerita dalam buku
Kita sungguh terpenjara kegelapan
Satu persatu penguasa menghitung jasa
Dari golongan dan kelompok menyulut rasa bersama seketika
Target kepastian semata kursi dan jatah partai politik
Oh, bangsa terjajah yang mati ras
Sejarah tak berbanding lurus dengan garis khatulistiwa
Nusantara semata sumpah palapa Sang Maha Patih
Kita sama sekali lupa ingatan lalu gila kawan
Kaum tua mengajak kembali pada sejarah
Kaum muda tak perduli titah kaum tua
Semua bergumul dalam ruang public penuh amarah dan fitnah
Demokrasi senjata politik sejati kaum pintar
 Berbeda untuk bersatu, bersatu menolak berbeda
Ya, itulah hikayat mutlak wajib dijalani
Ada suara di mana-mana kawan
Kita belum negerti inilah Indonesia
Indonesia dari suku bangsa dan budaya
Indonesia dari ragam agama
Indonesia dari ragam pulau
Indonesia raya yang merdeka
Kawan, kita belum menegrti apa-apa

Kamaruddin Salim
Ketapang, 14 Maret 2013
Pukul, 24. 40. WIB

AYAH YANG HEBAT


AYAH YANG HEBAT

AYAH YANG HEBAT
Terbaring lesu di atas dipan bambu tua
kaki, engkau tekuk diganjal bantal tipis
tubuhmu nampak kurus, namun masih kekar
engkau menatapku sembari tersenyum
ayah, sudah mulai ujur anakku
aku menatapmu dalam keharuan
matamu tak lagi sehebat mata elang
badanmu tak lagi sehebat mata Al Khattab
semangatmu mengendur tak seperti kala muda
sebatang rokok masih tetap engkau hisap sampai habis
engkau raih tanganku lalu digenggam sekuat sisa tenagamu
seakan kita akan berpisah sudah
air matamu mengalir tak beraturan
ayah, usahlah engkau risaukan
anakmu kini telah dewasa
anak-anakmu telah mengerti harapan mudamu
ana-anakmu tak sendiri lagi dalam kerumunan manusia merdeka
ayah, kami bersemayam dalam dukamu
ayah, kami menyatu dalam cintamu
ayah, kami adalah dirimu sendiri
ayah, kami adalah doa tahajudmu
ayah, kami adalah secarik kertas yang selalu kau baca
ayah, kaulah manusia hebat
ayah, engkaulah guru kehidupan kami
ayah, kami selalu mencintaimu daris egala musim dan zaman

Kamaruddin Salim
Ketapang, 18 Februari 2013
Pukul, 14.30. WIB