Laman

Rabu, 13 November 2013

HASRAT MERUBAH

Photo Pribadi: Desa Leles, Garut-Jabar. Pukul. Minggu. 27Oktober 2013. 06.Pagi
HASRAT MERUBAH

Hamparan sawah mendongkrak kesadaranku
Hamparan padi warna keemasan menyilaukan mata
Di kaki bukit di batasi Setu Cangkoang
Awan tipis bergerak perlahan meninggalkan camar sedang menari jaipongan
Gerimis perlaham menyapaku dalam bahasan alam pribumi
Kuda penarik andong berlari elok menyelusuri setapak berlumpur
Sungguh satu risalah kehidupan yang mengagumkan
Di tepian setu, Candi Cangkoang berdiri kokoh, belum sedikit jua tergerus zaman
Entah kapan bertahan dalam ruang modernisasi perkotaan, kawan
Di sini, anak-anak desa pandai merawat budaya ibu pertiwinya
Bumi Pasundan nampak indah hari ini
Mengisyaratkan pada legenda Dewi Shinta masa lalu
Hari mulai sorem udara dingin meneror kulitku
Aku berada diantara manusia meredeka
Bebas bertutur dalam sastra lisan nan lembut
Gerbang kehidupan baru memberi teka-teki padaku
Apakah kami ketinggalan zaman?
Apakah kami manusia feodal?
Apakah kami manusia purba?
Apakah kami manusia kampungan?
Ragam kata tanya menanti jawabanku
Hasrat merubah tanpa defenisi nyata disini kawan
Monopoli arti ilmiah manusia kota tak sedikit jua berarti kawan
Azan magrib memakirkan hasratku untuk mengira-ngira situasi
Manusia desa yang religius menuju pusat suara
Alam pemikiranku dikritik pula kawan
Dagangan politik tak laris disini
Mungkin belum saatnya musim berburu kaum cendikia kota  dilakukan
Hukum rimba itu rekayasa dari gedung mewah hingga jalanan raya demokrasi tak berbudaya
Malam mulai larut, terdengar hanya nyanyian jangkrik dalam keheningan
Sepintas lalu, dedaunan meramaikan suasana bersama angin malam
Kawan, pagi yang damai. tanpa geliat mesin pemburu kehidupan bergetar disini
Tak ada pula hegemononi industrialisme kawan
Perubahan arah kehidupan di awali dari sini
Aku bertanya padamu, sampai kapan mereka dan sawahnya aman dari mesin pembunuh kehidupan?

Kamaruddin Salim
Desa Cangkong-Leles, Garut-Jawa barat
Senin, 10 November 2012
Pukul: 24.45. WIB

DUNIA BARU

Photo: Pribadi, Asrama Fomatika Jakarta, 28 Oktober 2013, pukul 17.36. WIB
DUNIA BARU

Dunia kini dunia yang berubah
tidak lagi ku lihat parade pasukan memburu musuh
layaknya para laskar mengusung bambu runcing dalam genggamannya
dunia kini dunia yang melunak
dari seantero negeri, tak terlihat slogan revolusi mewarnai tembok kota
pamflet propaganda merdeka sungguh hilang dari bumi yang bebas
dunia kini dunia yang binal
mengilhami manusia dari kehidupan yang maha ada tanpa batas
mendorong seluruh umat, etnis dan budaya berjibaku dalam hamparan sahara yang menantang
demi suatu kuasa yang tak pernah habis
ku lihat manusia mulai membabtis diri menjadi raja-raja atas manusia lainnya
raja di-raja tidak menunggu kehendak Tuhan-Nya
dunia kini dunia yang egois
sejarah silam digariskan lewat lidah penguasa
kini lebur bersama titah mayoritas dalam kotak suara pemilu
ku menyaksikan sejarah dunia sulit tertulis rapi dalam buku-buku kebenaran
makhluk tuhan mengilhami hasrat seksualitas demi kepuasan berdamai
lalu kembali membunuh, halal hukumnya
sejarah manusia yang merawat citra diri
mulai rama dalam ruang kota yang modern
dunia kini dunia yang bebas
pendidikan kini telah ambruk batasan kelas dan ego etnis
ku melihat anak-anak dusun berjibaku meraih ilmu bersama anak priyayi
kelas pribumi darah biru hilang sudah kuasanya
pendidikan bagai jalan raya yang kini bebas dilalu siapapun
yang lemah ekonominya tentu memilih jatah termurah
hukum ekonomi mengalahkan hukum moral dalam perjalanan mencapai kesadaran
dan jalan raya selalu menjadi proyek kaum pandai meraup keuntungan atas nama kualitas
dunia kini dunia yang baru
kita dianugerahkan kemegahan tekhnologi yang mega trend
evolusi kehidupan kehilangan pamornya
semua berubah sesuia kebutuhan pasar 
yang lamban, tentu ketinggalan zaman
dan semua bagai rombongan robot yang berbaris rapi
tak berdaya dalam satu remot kontrol
aku sendiri sama seperti robot-robot itu, dan kita semua kawan.
namun, aku selalu ada di antara manusia tanpa robot

Kamaruddin Salim
Ketapang- Jakarta Selatan:
Sabtu, 17 Agustus 2013
Pukul. 17.17. WIB 

KAPITALISASI PUASA

KAPITALISASI PUASA

...Menyoal kapitalisasi,tak semata dalam hal ekonomi makro mikro. Kini,kapitalisasi bermetamorfosis dalam ruang ritualitas keagamaan.satu contoh kasus adalah puasa Ramadhan.mungkin mayoritas orang melihat apa yang diulas ini semata opini sampah,namun faktanya tidak selalu masuk dalam ruang sampah yang berbau busuk.tetapi,kaitan dengan kapitalisasi Puasa,saya hendak menyoal daya magis program lawakan setiap pagi di hampir setiap media televisi swasta di Indonesia. Jelang sahur, gemuruh suara penonton membahana, ketika para aktor memainkan lakon dengan ragam gaya dan tutur kata yang kesan humoris lalu semua larut dalam medium fantasi kegilaan.tontonan yang kian digemari, terlepas dari dominasi mayoritas yang menampilkan lawakan,ada beberapa media yang mengedepankan aspek lain dengan berasas pada khasanah puasa,tetap menampilkan acara pencerahan rohani, ya agar terbilang berbeda, ya saya suka yang memilih beda dan semua bersifat pencerahan,bukan teriakan dan lawakan yang jauh dari nuansa edukasi publik. Semua tentu menyadari, bahwa media sepatutnya memberikan edukasi yang baik kepada publik,namun faktanya, publik di seret masuk dalam satu ruang hampa, gelap dan fatamorgana. Lalu mereka di pacu adrenalin untuk tetap berkicau layaknya burung, di pandu lama sorak sorai dan semua bermutu dalam kegembiraan semu. Ironi semangat spiritualitas terkapling dalam sensor lembaga yang terkapitalisasi. Bila, hal ini terus terjadi,saya meyakini. Bulan puasa bukan lagi menjadi bulan yang penuh kekhusuan beribadah,tetapi akan menjadi bulan yang di mana, bulan pengumpulan pundi-pundi kekayaan bagi para kapitalis yang pandai bernetamorfosa dalam ruang sosail,agama dan budaya Masyarakat Indonesia. Semua berakhir dengan lelucon ter-rekayasa. "Epos" Salam.

kETAPANG 28 JULI 2013

ALTAR KESADARAN


ALTAR KESADARAN


Kepura-puraan warnai sikap yg lemah Politisi Indonesia
Rerumputan pun tertawa geli dari halaman Istana Negara

Entah siapa gerangan paduka yang mulia itu
Berdiri lemah di altar promosi jasa Berapa jam lamanya dia berpidato disana
Suaranya berapi-api,meniru kosep Bung Karno
Memaksa diri pula sebagai reinkarnasi Sang Juru Penyelamat
Suaranya mengetarkan jiwa pemuja harta
Ruang kampanye hari ini serupa doktrin Pelatihan Organisasi Mahasiswa

Di atas Altar Kesadaran dia menari riang
Sang Politikus tetap di elu-elukan
Para manusia modern kian menggila
Gila harta,gila gelar dan gila jabatan
Rakyat Indonesia,manusia penyabar
Manusia murah meriah harga dirinya
Indonesia belum merdeka
kesadaran kemanusiaan kita sungguh mati rasa
Kita kini menjadi makhluk konsumen
Kita sibukan diri menyuburkan usus dan cacing
Akal perubahan terkebiri sistem uang
Jiwa manusiawi Indonesia kronis pula
Generasi muda di hipnotis ide hedonisme
Ruang sekolah sepi dari semangat juang
Anak-anak kita mengingkari sejarahnya
Bangsa besar kita,dihina tanpa batas
Politisi menanam benih kesejahteraan palsu terus menerus
Wisata merakyat kini ramai di pasar loak
Parade mode elok,dari safari Ramadhan hingga open house demi rakyat
Bangsa Indonesia serupa bangsa feminim
Kampus benteng kesadaran manusia sepi rasa cinta tanah air
Sistem pendidikan kita,menyuburkan kaum penjajah
Berdalih,Modernisasi,Globalisasi,Internasisonal-ime
Oh,negara tak berjaya bersama rakyat
Satu haluan lain tujuan,itulah faktanya
Kita mudah marah,saling hujat,membunuh sesama saudara
Hukum rimba tumbuh subur dibiarkan
Gejolak sosial,di vonis makar
Sang Politisi tetap bersuara lantang 
Aku muak melihatmu tuan
Mulutmu berbusa lima tahun sekali
Dan aku bosan,sangat marah Tuan
Wajah palsumu dipajang di mana-mana
Sloganmu murah,miskin kata jujur tulus
Engkau tak segan mengeksploitasi agamamu
Tuhan serupa kawan sejawat yang mudah engkau ajak berkhutbah di Altarmu
Tuan,engkau serupa Arca di mataku
Sekali lagi Tuan,enyahlah dirimu
Pergilah engkau selami laut Banda
Di sana.Bung Hatta belajar kearifan
Di sana pula Bung Sjahrir belajar tentang Indonesia
Di sana pula,Tahanan Politik Kaum Komunis di rajam
Tuan,biarlah media dan rakyat mengerti kemunafikanmu
Dan untukmu Indonesia,raihlah kemerdekaan sejati
Merdekalah jiwamu tanpa basa-basi
Para politisi dan tikus selokan gedung mewah
Dan Untukmu Indonesia,ku tulis wasiat merdeka sejati padamu

Kamaruddin Salim
Ketapang Merdeka
25 Januari 2013
Pukul: 03-35 Wib

AKU MENCINTAIMU

AKU MENCINTAIMU

kekasihku tercinta
yang tertulis ini menjadi kata rindu yang mewakili hadirku
berbaris kata-kata tulus padamu
kala rindu menghinggapi
kesendirianku tanpamu
kata lalu mengumbar senyum menghibur laraku
tentu berapa lama lagi kita bebas
bercengkrama dalam harmoni ruang
lalu bercerita tentang masa depan yang panjang
jemari beradu dalam asmara yang suci
aku mencintaimu dengan tulus kekasihku
semua tak berapa lama lagi kita bersama selamanya

Kamaruddin Salim
Jakarta, 10 Dzulkhijah 1435 H
              15 Oktober 2013
Pukul: 10.30. WIB

Selasa, 29 Oktober 2013

DI KALA MANUSIA MEMANGSA



DI KALA MANUSIA MEMANGSA

Dunia modern itu baik katanya!
Semua bebas berekspresi tanpa titik dan koma
Suara lantang memaki, menghujat hal biasa
Inilah era liberalisasi yang diagungkan manusia sejagad raya
Politik bibir ranum, lidah katak dan bermuka badak jadi idola
Dalam waktu yang berjalan siang malam, kita disuguhi aneka sajian yang fantastis
Politisi saling Sandra demi citra partai dan kuasa di parlemen dan ruang birokrasi Istana
Polisi di buru, pendekar hantu malam tanpa bayangan, lalu mati di jalan raya
Mencekam, sembari meninggalkan tanda Tanya bagi keluarga dan publik
Siapa sesungguhnya manusia pemangsa itu?
Lalu kita kembali merenungi, para siswa ibu ibu kota beradu kekuatan di halaman sekolah menuju jalan raya sambil melukai satu sama lain
Jalanan menjadi arena tinju para petarung
Kaum terpelajar seakan kehilangan mata batin dan akal sehat
Setumpuk undang-undang prosuksi Departemen Pendidikan, demi mencerdaskan kehidupan anak bangsa
Kini, lapuk di gudang sekolah yang hanya dibaca rayap dan kecoak
Orang tua tampil sebagai sapi perah anak kandung sendiri demi harga diri yang terstruktur
Lalu bangga kami adalah anak bangsa yang pandai
Inilah dunia bebas merdeka yang dikehendaki kaum reformis
Mengucilkan Orde Baru dari catatan resmi negara kemudian menggayang Soeharto
Kaum akademisi kini berpesta, kita bebas menulis, mengkritis bahkan menghujat sesuka hati
Tembok Pembatas pencerahan telah ambruk bersama politik Dinasti dan Etnisitas
Namun, semua berbeda dalam kisah dan fakta
Kaum Pemburu kekuasaan kian menggeliat dan binal dibalik soko guru yang mereka punya
Para pendekar kini bermunculan dari segala medan laga dan perguruan silat lidah
Kemudian menggandeng jemari lentik kaum bunda putri demi satu kehormatan dan wibawa
Cita-cita emansipasi terwujud pula seirama habis gelap terbitlah terang
Oh, ternyata liberalisme itu seksi dan menantang
Dunia politik ramai dari kampanye pencitraan diri dan iklan kemajuan palsu
Membedah teori hutan rimba, gunung emas dan batas wilayah dalam rung seminar yang mulai rapai para kapitalis baru
Mengkapling lahan gapan, membunuh kaum latah atas nama pembangunan
Sungguh, praktik barbarisme menjamur sudah
Mereka semua kaum pemikir ulung yang diproduksi ibu kandung
Namun, kawan. Kata dari generasi yang menanti kemurkaan alam yang selalu datang
Antara tsunami, air bah dan gempa bumi berulang-ulang meradang
Dan kita, dianjurkan istigosah lalu memaafkan. Itulah budaya Indonesia
Kawan, aku hanya menulis apa yang ada hari ini
Tentu, esok hari. Para pemburu akan kembali meneror dalam beragam gaya dan sikapnya
Untuk kita dan generasi mendatang

Kamaruddin Salim

Pejaten- Pasar Minggu, 29 Oktober 2013
Pukul, 19.00. Wib

Kamis, 24 Oktober 2013

HARI PAHLAWAN, Ritualitas Tanpa Koma




HARI PAHLAWAN, Ritualitas Tanpa Koma
Kamaruddin Salim [1][1]
 Keberadaan bangsa yang merdeka, dari satu masa dan generasi. Sudah barang tentu bertolak dari peran orang-orang yang berjuang di masa lalu. Dengan cita-cita perubahan, nyawa dan materi,dan semua untuk kebebasan dan kedamaian tanah air yang mereka punya. Epos

10 November 1945 itulah catatan sejarah yang abadi dalam kitab sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Satu ritus sejarah perjuangan yang lahir dari semangat nasionalisme kebangsan yang bertujuan demi mewujudkan kemerdekaan dari belenggu kolonialisme dan imperialisme bangsa asing. Walaupun apa yang terjadi di Surabaya awal mula pergolakan nasional dan melegitimasi satu proses perjuangan yang panjang sejak bangsa asing menginjakkan kaki di Ibu Pertiwi, yang sebelum terbentuknya NKRI, akan tetapi, 10 Novermber telah menjadi satu titik klimaks dari perjuangan kaum pribumi di Jawa Timur dan berhasil mengusir tentara Sekutu bersama sukarelawan Gurka danri India.
Kemerdekaan Indonesia yang kini berusia 68 tahun, tentunya merupakan cita-cita luhur para pahlawan yang dengan berani memperjuang apa yang mereka miliki demi terwujudnya kemerdeaan bangsanya. Tentunya, apa yang diabdikan tersebut menjadi hal yang memberatkan oleh para pejuang kemerdekaan. Logikanya dalam suatu situasi yang yang serba sulit dan bergolak kala itu, persatuan dan semangat kolektif tetap menjadi utama, tanpa mengedepankan ego individualisme pribadi maupun kelompok. Fakta empiris membuktikan bahwa dengan semangat kolektifitas dari rakyat Indonesia dapat meraih kemerdekaan. Di mana, penantian selama beberapa abad di kala Nusantara ini dijajah oleh bangsa asing seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang dan Inggris.
Ritualitas hari pahlawan diperingati sebagai suatu bentuk penghargaan atas jasa para pejuang telah gugur di medan pertempuran maupun di usia senja setelah kemerdekaan. Ritualitas yang dilakukan dengan berbagai cara dan tema tak ubahnya sebuah serimonial tahunan. Kesan apresiasi sarat makna dan nilai heroik,  pada hakikatnya untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa buah dari perubahan dan kemerdekaan hari ini adalah transaksi yang tragis dan kegigihan generasi terdahulu tanpa nilai tukar apapun berlabu dalam pikiran mereka. Merekalah adalah insan patriotik yang dikenali oleh seluruh anak bangsa dengan sebutan “Pahlawan”.
Pahlawan, kata ini tentunya akrab ditelinga semua orang, dan menyisyaratkan suatu daya tarik tersendiri. Terminologi pahlawan dalam realitas selalu dikaitkan dengan satu daya juang, pengorbanan seseorang dalam hidupnya dan itu dinilai berguna bagi orang lain. Hal ini, tentu tidak mengaburkan pengertian pahlawan sesungguhnya. Akan tetapi pahlawan dalam arti yang sempit kadang dijumpai dalam tutur kata, baik lisan ataupun tulisan. Dan semua seakan terfokus pada seseorang yang berlatar dengan pendekatan lebel atau simbol yang dilegalkan negara atau pemerintah, seperti Tentara ataupun kaum birokrasi. Disamping itu, di Indonesia terdapat beberapa kategori pahlawan bangsa, antara lain pahlawan nasional, pahlawan kemerdekaan nasional, pahlawan proklamator, dan pahlawan revolusi. Namun dengan runtuhnya hegemoni kuasa rezim Orde Baru, bermunculan orang yang dikategorikan sebagai pahlawan, diantaranya Pahlawan Reformasi dan Pahlawan Devias (TKI)
 Terlepas dari perdebatan gelar kepahlawanan, yang sepatutnya di soroti serius adalah, prosesi serimonial memperingati hari pahlawan itu sendiri dan bagaimana implementasi pokok dari hasil perjuangan para pahlawan di masa kini?. Di mana, ragam argumentasi terkait dengan dinamika berbangsa dan negara yang belum merdeka dari penjajahan asing dan dijajah bangsa sendiri. Wacananya kritis semacam ini, tentunya mengingatkan kepada pengambil kebijakan bahwa perjuangan belum berakhir.  Karena, kemerdekaan yang dinikmati saat ini sepatutnya dipertahankan dengan baik. Sehingga penjajahan gaya baru tidak lagi tampil sebagai bentuk algojo baru di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang merdeka.disamping itu ada pula bentuk penghargaan lain yang diapresiasikan kepada jasa-jasa para pahlawan dengan menulis biografi para pahlawan.
Buah pemikiran, perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan adalah warisan abadi bagi generasi penerus bangsa untuk dijaga dan dilestarikan keberadaanya. Begitu pula sejarah para pahlawan akan selalu terkenang tak lapuk termakan zaman. Dengan melalui karya inilah tentunya menjadi jembatan antara peristiwa yang masalalu dan masyarakat dapat dibangun sebagai salah satu bentuk rekam jejak yang hidup dan menginspirasi dari masa kemasa. Dari apresiasi yang baik, tentunya mengingatkan kita pada ungkapan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, Jangan Sekali-kali Lupoakan Sejarah (JASMERAH). Bila bangsa Indonesia melupakan sejarahnya, maka dampak yang terjadi tentunya lebih masif penjajahan gaya baru yang akan melanda bangsa  dan negara ini. Di mana, era globaliasi dan moderniasi yang menandakan kemajuan tekhnologi yang menggila saat ini, akan dengan mudah memecah belah Indonesia dengan sekejab mata!!!!





[1][1] Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta