Laman

Selasa, 13 Mei 2014

MATINYA NALURI MANUSIA

MATINYA NALURI MANUSIA

kekerasan menjamur di lingkungan sekolah kita
antar sahabat saling membunuh secara sadis
satu diantaranya diregut nyawanya lalui tangan keji senioritas
kekerasan dipelihara abadi dalam logika ekstrim struktural
STIP kali ini, jadi buah bibir khalayak ramai
sekolah kian tak aman bagi anak bangsa yang giat belajar
matinya naluri manusia mengubur semangat anak bangsa atas nama disiplin
lantas, teori disiplin macam apa yang diadobsi dalam ruang sekolah?
teror kekerasan menyadarkan kita semua
sekolah seharusnya menjadi ruang mencerdaskan anak bangsa
di rawat dalam konsep kasih sayang antar sesama
demi keselarasan dan harmoni masa depan anak yang diidamkan
saatnya kita menyadari, sekolah sepantasnya tempat suci yang dihuni manusia berjiwa luhur dan penyayang
semua untuk anak kandung generasi Indonesia

Kamaruddin Salim
UNAS, 13 Mei 2014
Pukul: 17.30 WIB

Jumat, 02 Mei 2014

LEMBAH TAGAFURA


LEMBAH TAGAFURA

Pagi kemarin ayah berkata padaku
Anakkku sayang, usia kami berdua mulai tua
Tenaga dan ketangkasan kami tak lagi seperti dulu anakku
Harapan kami kini bergantung pada kalian anakku
Kami tidak menyediakankan harta berharga padamu
Harap dimaklumi, kami dari dusun terpencil anakku
Kata-katanya sungguh menyadarkan diriku
Anakku sayang, 
Jelang siang dia mengajak aku menuruni lembah curam Tagafura
Mengambil beberapa batang bambu jawa yang besar
Tagafura dalam hikayat lokal berarti dapat menutup
Tangkas tangannya membelah lalu membagi dalam berapa bagian
Ayahku, apa yang hendak engkau perbuat dengan bambu ini
Lalu dia berkata padaku, anakku sayang. Bambu ini akan ku rangkai menjadi kursi
Dan meja belajar buatmu
Tidak kah engkau pahami, ayah belum sanggup membeli meja belajar yang layak
Ayah mengahrapkan dari karya sendiri mampu mendidik engkau dengan semnagat mencipta yang mahir
Hari mulai sore, kabut tebal perlahan menutupi dahan cengkeh san setapak nan lembab itu
Di lembah ini, ku saksikan gelora kehidupan yang disugihi tuhan melimpah ruah
Kawanan burung kakak tua putih dan hijau melantunkan suara kebebasan
Terbang dari dahan ke dahan, pohon duarian tinggi menjulang
Musim panen telah dimulai, orang-orang dusun kalaodi bergelimang kebahagiaan
Di sini kawan, anak-anak desa gesit pula larinya
Tanah lembab, licin dan dipenuhi batang pohon yang telah dibabat habis untuk menutupi bebatuan yang kokoh di antara celah akan pohon durian
Balapan anak-anak desa ini menyerupai balapan kuda Sumbawa di NTB
Gesit berlari, memacu kekuatan demi meraih buah durian yang dalam kisah lokal pohon tak betuan
Ayah, tidak mengajari aku, janganlah ikut berlari
Janganlah engkau menyiksa dirimu karena sebuah durain yang sama sekali tak berarti
Anakku, jadilah pemikir yang baik akal dan jiwamu
Sebab hidip ini tak selamanya mengharuskan engkau berlari demi satu benda yang sia-sia

Kamaruddin Salim
UNAS, 2 Mei 2014
Untuk Ayah-Ubu dan Untuk anak-anak Indonesia.selamat hari Pendidikan Nasional kita

Kamis, 01 Mei 2014

GELIAT KAUM URBAN

                                                          GELIAT KAUM URBANn

Geliat kaum urban di Pasar Minggu Jakarta Selatan
Begelut dengan laju jarum jam yang bergerak perlahan
Sisa barang dagangan diobral murah meriah
Tentunya, tawar menawar biasa dilakukan
Ya, harapan tersisah, asalkan laris manis
Mereka memberi sederet persoalan kepada kita
inilah kisah manusia Indonesia yang merdeka hidupnya kawan
Semangat hidup dan bekerja mereka sungguh hebat kawan
Lihatlah, kondisi pasar yang berlumpur, dan berbau busuk
namun, aku melihat mereka sama sekali tak menutup hidungya
Pasar tak ubahnya tempat pembungan sampah, tetap dihuni kaum urban ini kawan
Tua, Muda, Laki-laki dan perempuan mengabdikan diri dalam rasa was-was
menanti para pembeli jelang subuh kita, kaum terpelajar sulit belajar dari hdiup mereka
waktupun berharga dilewati, semua relasi hidup yang dijalani tanpa lelah
tengoklah kawan, semangat juang mereka
melawan aroma busuk menyengat rongga-rongga penciumannya
semua tak perduli, antara penyakit  dan rumus pemerintah yang berubah-ubah
di pasar inilah ruang transaksi masa depan keluarga digalakkan
dan, merekalah penyambung hidup manusia kota yang pelupa soal nasip mereka
inilah kritik terbuka buat kita kawan
ktirik atas dasar kenyataan setiap saat berubah kita pelajari
semua pasti berbeda, antara membual dan menjual kawan
Pasar Minggu pagi ini melawan roda pembangunan yang terus bergulir pasti
kaum pedagang kecil ini tetap tersenyum kawan
mereka lupa soal janji dan pidato penguasa akan perubahan nasibnya
aku mengerti pidato soal  mereka sama sekali tak selaris sayur mayurnya
kawan, aku ingin menulis akan kenyataan hari ini
dari harapan, ada pasar yang bersih dan tak ada bau lumpur untuk mereka kawan

Kamaruddin Salim
Pasar Minggu, S  elasa. 15 April 2014
Pikul:09.05. WIB


BINTARO BERDARAH

                                                                          BINTARO BERDARAH

9 Desember, siang tadi tragedi Bintaro menuai duka
Kereta Listrik Jurusan Sepong-Tanah Abang
Menabrak Mobil Tangki Pertamina
Kisah duka 26 tahun silam diulas kembali dalam lembaran sejarah bangsa kita
Dua kereta saling beradu di lokasi yang sama
Sungguh kabar yang memilukan
Bintaro berdarah memberi teka-teki
Siapa yang tanggungjawab dari tragedi ini
Diantara budaya menarik urat syaraf, diskusi publik lalu saling mencaci maki
kini, kita diberi satu pelajaran moral yang berharg dari Almarhum M.Sofyan Hadi
Sang Mesinis KRL naas sing tadi, dia mengorbankan diri demi ratusan nyawa penumpag
Kisah kepahlawanan yang mengagumkan
Tentu tak mudah dibuktikan atas dasar tanggungjawab Sang Pemimpin
Bangsa ini tentunya berbangga hati, walaupun diantara kebiadaban memperkosa hak negara dann rakyat
Di mana-mana menjamurnya korupsi dan parade politik pencitraan
Namun, lain cerita dari M.Sofyan Hadi Sang Mesinis
Dia tidak korupsi
Dia pula tidak membunuh masa depan anak bangsa Indoneisa
Dia pun tidak lari dari tugasnya
Dia tidak menghianati institusinya sendiri
Dia telah mengkritik kita semua
Dia adalah anak bangsa yag hebat dan berbudi luhur
Dari tragedi Bintaro inilah saatnya kita belajar
kematian adalah tragedi yang pasti
sepatutnya kita sadar.
nyawa anak bagsa dihargai dengan pelayaan yang manusiawi tak semata menganti asuransi dan pelayaan pertama
Dan Selamat jalan saudaraku M.Sofyan Hadi
Kami bagga pada pribadimu yang mulia

Kamaruddin Salim
Jakarta:, Jum'at: 9 Desember 2013
Pukul: 18. 20. WIB

 

Pemuda yang tersiksa




Para pemuda itu meringis kesakitan
Mereka menangis tak henti-hentinya
Berkali petungan menjamu wajah dan pelipis mata mereka
Deru tendandangan menyerupai pijakan kaki kuda
Menikam sekujur tubuh mereka
Ada yang menangis
Ada yang menjerit menahan sakit
Bait sumpah satu demi satu dilafalkan penuh sesak
Oh, berhentilah menendang kami
Kita semua bersaudara
Walau ku tahu seragam kita berbeda mode dan warna
Namun perlu kau tahu, darah kita sama
Bendera masih sama, belum berganti corak dan jahitan
Oh, persatuan menjadi pemusuhan
Keadilan berubah menyerupai peradilan kekerasan
Siapa yang benar saudara
Aku bertanya padamu wahai ibu pertiwi
Sumpahku terbayar dari cacian dan pukulan saudara kandungku sendiri
Harusnya mereka mengagumi kami pemuda penerus bangsa ini
Bukan penghancur bangsanya sendiri.

Ketapang-Pasar Minggu
Jakarta selatan, 28 Oktober 2009

                                                                                                                                 Kamaruddin Salim

Rabu, 30 April 2014

ISTRIKU, INILAH ARTI PERJUANGAN KITA

                             ISTRIKU, INILAH ARTI PERJUANGAN KITA


Istriku, sejak detik ini. ku menyapa engkau  Istri tercinta
Wajahmu haru dihiasi ragam pewarna kulit, aku tahu engkau bahagia hari ini
Gaun Kebaya nilai tradisi ibu pertiwi mulai engkau pakai dengan rapih
aku takjub akan keagunganmu hari ini sayangku

Istriku yang cantik
kini kita resmi menjadi pengantin baru
baru dalam sejarah kemandirian hidup kita
dan kita disuguhi sederet ucapan selamat dan doa dari sanak saudara serta kerabat
tentu ini prosesi suci sejak zaman para nabi kita sayangku

istriku yang baik
inilah arti perjuangan kita
perjuangan menapaki prinsip hidup dalam kesederhanaan
prinsip hidup yang patut dipilih, tentu suasana paceklik yang mewabah di seluruh negeri kita
sayangku, penikahan kita buah kerinduan kemanusiaan yang kita punyai

istriku yang anggun
pernikahan kita berlngsung di bawah sumpah hakim yang ditugasi negara
bait-perbait, kalimat demi kalimat keramat telah usai ku lafazkan dengan berani
seperangkat alat shalat dan Kitab Suci ku persembahkan padamu
itulah kewajiban insani ku tunaikan padamu
istriku, segenap jiwa dan pikiranku seutuhnya ku hibahkan untukmu sayang
marilah sayang, kemarilah. duduk disampingku
dengarlah gerak laju jantungku sayang
niatku menikahimu tak semata nafsu syahwat yang merasuki jiwaku
pernikahanku untuk kehidupan kita secara total

istriku
inilah niatku yang belum sempurna engkau mengerti
jiwaku yang dihuni sederet rasa gelih akan kehidupan tak henti-hentinya
istriku, egkaulah ruh perjuangan ku yang sempurna
marilah sayang, marilah mendekat
hidup kita masih baru dimulai dan panjang
lihatlah di sekitar kita, lihatlah. puluhan anak muda kita gelisah soal nasibnya
niat menikah, terkandas soal biaya dan merosotnya biaya hidup
istriku, aku bangga padamu. menikahlah dengan sederhan.
hidup tak semata hari ini, melangkahlah kedepan
semua untuk generasi yang lahir dari darah daging sendiri

istriku sayang
kini saatnya kita bersumpah atas nama kemerdekaan jiwa
bersatu dalam kemandirian diri dan kesadaran
semoga Allah menyertai kita selamanya,amin


Kamaruddin Salim
Tanjung Barat, Kamis. 1 Mei 2014
Pukul: 14.00. WIB

PRAMOEDYA ANANTA TOER

PRAMOEDYA ANANTA TOER

HURUF
Wahai huruf,
Bertahun kupelajari kau,
Kucari faedah dan artimu,
Kudekati kau saban hari,
Saban aku jaga,
Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu.

Tetapi; kecewa hatiku.
Kupergunakan kamu
Menjadi senjata di alam kanan,
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan.
Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,

Tetapi....
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.

Alangkah akan tinggi ucapan
Terimakasihku, bilalah kamu
Menjadi buku terbuka bagi manusia yang membacanya.

Kalaulah aku direndam lautan api,
Hendaklah kamu meredam pembacamu,
Bilalah aku disedu pilu,
Hendaklah kamu merana dalam hatinya.

Huruf, huruf....
Apalah nian sebab maka kamu
Belum tahu akan maksudku?

Sadar No.5 Tb. II 10 Januari 1947